n

Universitas Airlangga Official Website

33 Tahun Professor Asal Polandia Itu Abdikan Diri untuk UNAIR

Prof. Glinka
Suasana persemayaman Prof. Glinka di FISIP UNAIR. (Foto: Binti Q. Masruroh)

UNAIR NEWS – Duka mendalam menyelimuti ratusan orang di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) Sabtu siang (1/9). Prosesi persemayaman Guru Besar Emeritus FISIP UNAIR Prof. Dr. Habil Josef Glinka, SVD., dihadiri oleh sivitas akademika UNAIR, keluarga, romo dan biarawati, sekaligus mahasiswa Katolik yang mengelilingi semasa hidup Prof. Glinka.

Selama kurang lebih 33 tahun, profesor antropologi ragawi asal Polandia itu mengabdikan dirinya sebagai dosen, antropolog, ilmuwan, dan misionaris. Persemayaman di FISIP UNAIR dihadiri ratusan pelayat, baik dari dosen, mahasiswa karyawan, dan dari kerohanian katolik Surabaya.

“Kami bangga dan bersyukur, Prof Glinka pernah ambil bagian dalam ikut mencerdaskan bangsa. Beliau pernah bilang capek ngurus UNAIR, mengajak teman di Polisi Istimewa untuk berdoa. ‘Kamu adalah misionaris. Apapun keadaannya harus tetap setia’. Maka ia setia mengabdikan diri untuk pendidikan di UNAIR hingga akhir hayatnya,” kenang Romo Didik dalam sambutannya mewakili keluarga.

Didik melanjutkan, sebagai seorang ilmuan dan misionaris, Prof. Glinka pernah mengatakan bahwa misionaris bukan perihal agama, lebih kepada mencintai alam semesta. “Barang siapa belajar, penelitian, dan melakukan segalanya dengan cinta, dan tidak peduli agama apa. Agama hanya selembar kertas dari selembar buku besar dari keajaiban Allah,” paparnya.

Ia menambahkan, salah satu wasiat Prof. Glinka adalah membuat lembaga beasiswa Glinka Foundation. Lembaga beasiswa itu untuk mahasiswa, khususnya antropologi ragawi.

Satu-satunya profesor antropologi ragawi yang lahir dari rahim didikan Prof Glinka adalah Prof. Dra. Myrtati Dyah Artaria, M.A., Ph.D. Prof Myrta terlihat menitikan air mata disela-sela proses persemayaman. Ada duka mendalam dari raut wajahnya. Mengingat, bersama Dra., Toetik Koesbardiati Ph.D., ia merupakan mahasiswa antropologi UNAIR angkatan pertama yang hingga kini mengabdikan diri di UNAIR.

“Pesan dari beliau akan kami laksanakan, yaitu tetap meneruskan antropologi di UNAIR. Karena itulah cita-cita beliau bersama Adi Sukadana,” ucap Prof. Myrta.

“Suatu hari almarhum Prof. sempat berdebat, apakah kami harus pindah ke Fakultas Kedokteran? Namun itu tidak sesuai dengan cita-cita Prof Glinka dan Adi Sukadana. Karena tujuannya adalah mengawinkan antropologi budaya dan antropologi ragawi. Di situlah kita bisa mengerti tentang manusia,” tambah Prof. Myrta

Dalam kesempatan itu, Prof. Myrta juga berpesan kepada seluruh mahasiswa dan dosen FISIP, khususnya antropologi, untuk bersama-sama mengembangkan antropologi UNAIR. Mengingat, antropologi UNAIR yang memiliki jurusan ragawi dan budaya adalah satu-satunya yang ada di Indonesia.

Duta Besar Polandia untuk Indonesia Beata Stoczynska juga turut hadir dalam persemayaman. Ia mengaku senang sekaligus bangga, ada seorang warga Polandia yang mengabdikan dirinya untuk perkembangan keilmuan dan pendidikan di Indonesia, khususnya UNAIR.

“Saya senang dapat hadir di sini. Saya berpikir dia (Prof. Glinka, Red) sangat bahagia di Indonesia, apalagi menjalani diri sebagai peneliti,” papar Stoczynska.

Sementara itu, Dekan FISIP UNAIR Falih Suhaedi mengatakan, ia dan segenap sivitas sangat kehilangan seorang tokoh yang menginspirasi, yang menyejukkan cara pandangnya terhadap ilmu.

“Hari ini, hampir semua sivitas akademika dari semua fakultas ada. Itu menunjukkan Prof. Glinka jadi sumber akademik. Kontribusi beliau harus tetap kita pelihara. Karena ada dua warisan, ilmu dan para muridnya yang sangat excellent,” papar Suhaedi.

Selamat jalan, Prof. Glinka

 

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Nuri Hermawan