Glaukoma merupakan salah satu penyebab utama kebutaan di dunia. Jumlah penderitanya diperkirakan mencapai sekitar 80 juta orang dan dapat meningkat menjadi lebih dari 111 juta pada 2040. Penyakit ini tidak hanya mengancam penglihatan, tetapi juga dapat menurunkan kualitas hidup penderita. Salah satu obat yang banyak digunakan untuk mengendalikan glaukoma adalah timolol maleat, yang umumnya diberikan dalam bentuk tetes mata.
Penggunaan obat tetes mata pada penderita glaucoma memiliki tantangan tersendirinya, diantaranya obat perlu diberikan secara rutin dan berulang, serta cara pemakaian yang kurang tepat dapat mengurangi jumlah obat yang mencapai bagian mata yang dituju. Kondisi ini dapat memengaruhi keberhasilan terapi dan kepatuhan pasien. Oleh karena itu, diperlukan inovasi sistem penghantaran obat yang dapat melepaskan obat secara lebih lama dan terkontrol.
Penelitian ini mengembangkan implant mata yang mengandung timolol maleat dengan memanfaatkan teknologi pencetakan 3D. Implant dibuat menggunakan bahan polimer yang dapat digunakan dalam sistem penghantaran obat, yaitu PEGDA, serta kombinasinya dengan PLA/PUA atau PLGA. Teknologi pencetakan 3D memungkinkan pembuatan implant dengan bentuk dan ukuran yang dapat dirancang secara lebih presisi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implant dapat melepaskan timolol maleat secara bertahap selama uji pelepasan secara in-vitro hingga 180 hari. Studi juga membuktikan bahwa kecepatan pelepasan obat dipengaruhi oleh ukuran implant, dimana implant dengan perbandingan luas permukaan terhadap volume yang lebih besar menunjukkan pelepasan obat yang lebih tinggi dengan mekanisme pelepasan obat melalui proses difusi. Selain kemampuan melepaskan obat, keamanan bahan juga menjadi perhatian. Pada pengujian menggunakan sel fibroblast manusia, viabilitas sel menunjukkan nilai lebih dari 80% dan tidak ditemukan efek toksik yang bermakna. Hasil ini menunjukkan bahwa implant aman untuk digunakan pada manusia.
Penggunaan pencetakan 3D juga membuka peluang untuk menghasilkan implant dengan ukuran yang dapat disesuaikan. Hal ini penting karena kebutuhan terapi dapat berbeda antar pasien. Dengan demikian, teknologi ini tidak hanya menawarkan inovasi dalam penghantaran obat, tetapi juga berpotensi mendukung pengembangan terapi yang lebih personal. Namun, hasil penelitian ini masih berasal dari pengujian laboratorium. Penelitian lebih lanjut, termasuk pengujian pada hewan dan studi klinis, diperlukan untuk memastikan keamanan, efektivitas, serta kemampuan implant mempertahankan kadar obat yang sesuai di mata. Dengan pengembangan lebih lanjut, implant timolol maleat cetak 3D berpotensi menjadi alternatif untuk membantu pengobatan glaukoma dalam jangka panjang.
Penulis: Febri Annuryanti
Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/engineering-and-characterisation-of-3d-printed-timolol-maleate-im/
