Moluska merupakan kelompok yang mewakili organisme perairan setelah kelompok ikan, mencapai 1.500 jenis siput dan 1.000 jenis kerang (Parker et al., 2013). Salah satu jenis keong yang dapat ditemukan di perairan Indonesia adalah abalon (Setyono, 2004; Tubalawony et al., 2016). Abalon adalah kelompok moluska laut yang lebih dikenal sebagai “kerang bermata tujuh” (Hayati et al., 2017) atau “siput lapar penuh”. Jenis abalon di alam diperkirakan lebih dari 100 spesies, namun hanya beberapa spesies yang berhasil dibudidayakan (Susanto et al., 2019).
Abalon merupakan komoditas perikanan yang penting karena nilai ekonomisnya karena bentuk dan warna cangkangnya yang indah (Uri dan Al-bahrani, 1995). Selain cangkangnya yang dapat dimanfaatkan dalam industri kancing perhiasan, daging abalon juga mengandung protein yang cukup tinggi sehingga menjadi salah satu makanan utama dan pamor terutama di kalangan masyarakat keturunan Cina, Jepang, dan Amerika. Harga abalon hidup adalah Rp. 150.000 per kg, sedangkan untuk abalon kering harganya Rp. 350.000,- sampai dengan Rp. 500.000,- per kg.
Abalon memiliki keunggulan yang tinggi dan merupakan komoditas ekspor bagi Indonesia (Wiradana et al., 2019). Sehingga pembesaran abalon memiliki peran yang sangat besar dalam menunjang produksi abalon sebagai komoditas ekspor. Abalon merupakan salah satu sumber daya perikanan potensial yang apabila dimanfaatkan secara rasional dan tepat dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan masyarakat dan mendorong peningkatan pendapatan daerah dan negara (Atika dan Mulyadi, 2014).
Abalon (Haliotis squamata) memiliki bentuk cangkang lonjong dengan perbandingan antara lebar dan panjang cangkang 64,29%. Haliotis squamata memiliki persentase bobot daging lebih tinggi (44,48%) dibandingkan bobot cangkang (27,33%) dan organ lain (gonad dan pencernaan) sekitar 28,20%. Berbagai jenis Haliotis squamata memiliki porsi yang lebih besar untuk dikonsumsi daripada total bobot tubuhnya (Susanto et al., 2010a).
Budidaya abalon (Haliotis squamata) akhir-akhir ini mulai dikembangkan di Indonesia, meskipun masih banyak kendala dalam penyediaan benih hingga saat ini budidayanya masih berkembang. Ada dua cara untuk memproduksi abalon sebelum dipanen dan sampai ke konsumen. Pertama (i), benih abalon (baik seleksi alam maupun pemijahan di lembaga perbenihan) dilepas atau ditebar di lokasi atau kawasan lindung untuk jangka waktu tertentu sebelum dipanen dan dijual ke konsumen. Kedua (ii), benih abalon dipelihara dan dibesarkan secara komersial dengan menggunakan wadah dan teknik tertentu hingga mencapai ukuran yang layak untuk dijual kepada konsumen (Eny dan Setyono, 2007).
Kegiatan pembesaran abalon (Haliotis squamata) merupakan kegiatan untuk memelihara benih yang ditebar sampai abalon ukuran yang sesuai untuk dijual atau dikonsumsi. Kegiatan pembesaran abalon (Haliotis squamata) dapat dilakukan dengan menggunakan teknik pembesaran pada keramba jaring apung. Berdasarkan uraian di atas maka telah dilakukan penelitian pendahuluan mengenai teknik pembesaran Abalon (Haliotis squamata) dengan metode keramba jaring apung sehingga dapat memberikan informasi awal tentang perkembangan teknik ini pada sektor budidaya laut di Indonesia.
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Budidaya Laut Lombok yang berlokasi di Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tanggal 18 Januari sampai dengan 18 Februari 2016. Pembesaran abalon menggunakan jaring apung Metode keramba membutuhkan serangkaian kegiatan pembesaran mulai dari pemilihan lokasi, persiapan jaring, penyebaran benih, budidaya benih, pengambilan sampel untuk pertumbuhan, pemilahan, dan grading dan pemanenan abalon dalam ukuran konsumsi. Benih yang ditebar untuk pembesaran merupakan benih yang sehat dan responsif dengan ukuran benih 2-3 cm. Pakan yang digunakan dalam pembesaran abalon (Haliotis squamata) adalah Gracillaria sp. dengan cara memberikan makanan secara ad libitum sekali dalam sehari. Parameter kualitas air meliputi suhu sekitar 28,7 oC, pH 7,5, salinitas 29 ppt, dan DO 4,8 mg/l. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan abalon adalah makanan, kualitas air, dan hama dan penyakit. Adapun kendala yang dihadapi dalam proses pembuatan abalon, pembesaran adalah kotoran dan hama, serta arus yang besar mengakibatkan umur abalon rendah.
Penulis: Trisnadi W. C. Putranto, Agoes Soegianto
Journal: Ecology, Environment and Conservation 27 (2) : 2021; pp. (685-689)
Website: http://www.envirobiotechjournals.com/article_abstract.php?aid=11445&iid=331&jid=3





