Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO mengumumkan COVID-19 sebagai pandemi global. Karena COVID-19 terus menjadi ancaman global, vaksin yang aman dan efektif dapat menjadi salah satu senjata terbesar untuk mengakhiri pandemi ini. Hingga saat ini masih belum ada obat yang terbukti efektif melawan COVID-19, maka vaksinasi diharapkan menjadi tindakan preventif untuk menekan angka morbiditas dan mortalitas. Negara-negara di dunia mulai mempercepat untuk penelitian dan pengembangan vaksin terhadap SARS-CoV-2 sejak akhir Agustus 2020. Di Indonesia, program vaksinasi menggunakan virus inaktif (Sinovac, Sinopharm) yang dilaksanakan pertama kali pada tanggal 13 Januari 2021 dengan sasaran vaksinasi pada tenaga kesehatan.
Penerimaan masyarakat umum terhadap vaksinasi perlu menjadi perhatian. Masyarakat umum takut dengan keamanan vaksin dalam perkembangan yang tergesa-gesa saat ini. Banyak ketidakpastian tentang khasiat, keamanan, kesetaraan, dan penerimaan masyarakat akan keberadaan vaksin. Salah satu hal yang paling sering ditanyakan adalah, mengapa sudah vaksin masih terkena COVID-19, bahkan tidak sedikit yang sudah menerima dua dosis vaksin.
Vaksin tidak mencegah seseorang kebal terhadap virus COVID-19, tetapi akan memperingan gejala apabila terinfeksi. Seseorang yang telah dua kali vaksin dan tetap terinfeksi COVID-19 adalah hal yang bisa saja terjadi. Ada risiko bahwa vaksin mungkin tidak bekerja secara efektif melawan virus mengingat SARS-CoV-2 merupakan virus RNA yang memiliki kecenderungan mutasi lebih tinggi. Varian yang menyerang merupakan varian baru sedangkan vaksin dibuat berdasarkan varian asal.
Jadi apakah masih perlu vaksin lagi? Ya, bahkan mungkin perlu vaksin ulangan setiap jangka waktu beberapa bulan tertentu. Untuk jangka waktu vaksinasi ulang sekitar 9-12 bulan dengan vaksin baru yang dibuat berdasarkan varian yang dominan beredar di kontinen tertentu atau di dunia global secara umum. Seperti halnya vaksin influenza yang harus diperbaharui setiap tahun sesuai strain virus influenza yang beredar di belahan bumi Utara dan Selatan.
Terkait dengan efektivitas vaksin, masalah varian baru seperti Delta atau yang lainnya saling berkejaran dengan pelaksanaan vaksinasi dan ketersediaan vaksin. Mengutip pernyataan Iris Rengganis Ketua Tim Advokasi Pelaksanaan Vaksinasi PB IDI,“ Menggunakan vaksin platform berbeda dari vaksin yang awal akan meningkatkan efektivitas terhadap varian baru. Asalkan dua kali platform yang awal harus dilengkapi dulu, agar sesuai evidence based penelitian awalnya yaitu lengkap diberikan dua kali suntikan.”
Saat ini pemberian vaksin jenis berbeda hanya diberikan kepada tenaga kesehatan, sedangkan untuk masyarakat umum tetap menggunakan vaksin awal, salah satunya Sinovac. Pemberian vaksin ke-3 juga menambah kekebalan dibanding dua kali suntikan. Sebenarnya bisa menggunakan platform yang sama, misalnya mengulang tiga kali suntikan, Sinovac-Sinovac-Sinovac. Pasti antibodi akan lebih tinggi dibandingkan yang dua kali suntik.
Masalah yang dihadapi adalah adanya varian mutan. Kita harus memikirkan bahwa mutasi terus berjalan, sehingga jangan sampai antibodi tinggi tetapi hanya untuk virus varian awal saja. Berdasarkan hal tersebut para ahli memutuskan penggunaan mixing platform. Menurut pemikiran ahli, Moderna masih bisa diharapkan efektif untuk varian Delta. Berdasarkan pengalaman negara lain yang telah menggunakan mixing platform, pemberian vaksin Pfizer sebagai suntikan booster setelah menyelesaikan Sinopharm dua kali tidak membahayakan. Selain itu dengan booster ternyata menurunkan 2 kali lipat angka infeksi dan kematian.
Berkaca pengalaman dari EUA tersebut, Indonesia menetapkan Sinovac dua kali ditambah booster ke-3 dengan Moderna. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Efikasi Sinovac 65,3% dan melemah setelah sekitar 6 bulan. Sedangkan vaksin Moderna, berdasarkan data memiliki efikasi 94,1%, ditambah data efektif terhadap varian Delta.
Penulis: Dr. Gatot Soegiarto, dr., Sp.PD, K-AI
Link Jurnal: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9135674/





