Infeksi virus human immunodeficiency virus (HIV) masih menjadi masalah kesehatan global yang serius khususnya di Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus terinfeksi HIV terbanyak di Asia Tenggara. Berdasarkan data yang dilansir Kementerian Kesehatan RI, Sulawesi Selatan merupakan satu dari sepuluh provinsi dengan jumlah kasus infeksi HIV tertinggi pada tahun 2019. Makassar, Pare-Pare, dan Kabupaten Janeponto memiliki prevalensi HIV tertinggi di provinsi Sulawesi Selatan. Makassar adalah ibu kota Sulawesi Selatan, kota metropolitan terbesar kelima setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan di Indonesia, serta memiliki tingkat infeksi HIV tertinggi di Sulawesi Selatan. Dengan semakin berkembangnya penelitian di Indonesia, ODHIV dapat meningkatkan kualitas kesehatan dengan mengkonsumsi obat/terapi yang dikenal dengan nama antiretroviral (ARV). Perkembangan pengobatan ARV telah mengubah infeksi virus HIV dari penyakit menular yang hampir fatal menjadi penyakit kronis yang dapat ditangani. ODHIV selama hidupnya mengkonsumsi obat ARV agar tetap sehat dan tidak mudah terkena penyakit lainnya sehingga tidak menuju ke stadium AIDS. Tetapi penggunaan ARV ini harus dilakukan kontrol dan monitoring yang rutin yaitu pemeriksaan resistensi ARV. Hal ini dilakukan karena virus HIV mudah sekali mengalami mutasi baik akibat dari penggunaan ARV maupun sifat alami dari virus HIV itu sendiri. Adanya mutasi ini mengakibatkan resisten ARV sehingga ARV yang dikonsumsi oleh ODHIV tidak lagi berkhasiat terhadap Kesehatan ODHIV. Oleh karena itu, pada penelitian ini kami ingin mengidentifikasi jumlah dan pola resistensi ARV yang terjadi pada ODHIV. Selain itu, kami juga mengidentifikasi strain virus HIV yang beredar di provinsi Makasar, Sulawesi Selatan serta hubungan antara strain virus HIV dan resistensi yang terjadi.
Penelitian ini menggunakan sampel darah ODHIV, kemudian diidentifikasi secara laboratorium untuk menentukan strain HIV dan resistensi ARV dengan menggunakan metode PCR dan sekuensing. Dari hasil analisis genotip HIV menunjukkan bahwa 68,8% adalah strain CRF01_AE yang banyak beredar di Makasar, Sulawesi Selatan dan sisanya sebesar 31,2% adalah strain non-CRF01_AE. Penemuan ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya yang melaporkan bahwa CRF01_AE ini merupakan strain yang paling banyak beredar di provinsi di Indonesia seperti di Jawa Timur, Jakarta, Bali, Medan, Kepulauan Riau dan Manado. Bahkan strain CRF01_AE ini banyak beredar di negara-negara di Asia Tenggara.
Selain penentuan strain HIV yang beredar di Indonesia, pemeriksaan resistensi ARV pada ODHIV juga dilakukan pada penelitian ini. Pemeriksaan resistensi ARV dilakukan pada gen reverse transcriptase (RT) dan gen protease (PR). Gen tersebut merupakan kombinasi ARV yang digunakan untuk terapi ODHIV. Resistensi bisa terjadi pada ODHIV yang belum mendapatkan ARV, resistensi ini terjadi dikarenakan ODHIV tertular dari virus yang sudah resisten terhadap jenis ARV tertentu dan resistensi ini disebut transmitted drug resistance (TDR). Sedangkan resistensi yang terjadi pada ODHIV yang sudah mendapatkan ARV, resistensi ini terjadi karena penggunaan ARV dan resistensi ini disebut dengan acquired drug resistance (AQR). Berdasarkan hasil analisis resistensi ARV pada gen RT ditemukan adanya resistensi ARV mayor dan minor sebesar 5/36 (13,9%). Namun, ADR pada gen RT ditemukan pada lima subjek yang merupakan ODHIV yang sudah mendapatkan ARV. Resistensi yang banyak terjadi akibat mutasi pada posisi K103N dan E138A, mutasi tersebut resisten terhadap jenis ARV sebagai berikut: efavirenz (EFV), nevirapine (NVP), etravirine (ETR), dan rilpivirine (RPV). Penemuan ini sama seperti penelitian Studi kami sebelumnya di Pontianak dan beberapa provinsi di Indonesia mengungkapkan munculnya K103N dan E138A di antara 28,6% (2/7) dan 20,0% (8/40) gen RT yang berasal dari individu yang diobati dengan ART. Jadi pola resistensi ARV yang sering muncul yaitu pada ARV jenis evapirens dan nevirapine. Sebaliknya, tidak ditemukan resistensi ARV (TDR) pada ODHIV yang belum mendapatkan ARV. Resitensi ARV hanya bersifat mutasi minor. Mutasi tersebut muncul sebagai polimorfisme alami pada virus HIV. Namun demikian, hasil pengobatan sebagian besar tidak terpengaruh oleh jumlah polimorfisme alami yang ditemukan virus HIV.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa strain CRF01_AE merupakan strain yang banyak beredar pada ODHIV di Makasar, Indonesia. Strain ini juga mirip dengan strain yang beredar di daerah lain di Indonesia. Selain itu, pola resistensi ARV juga konsisten dengan pola penelitian sebelumnya yaitu adanya resistensi ARV pada jenis evapirens dan nevirapine. Oleh karena itu, perlu adanya monitoring berkelanjutan terkait deteksi resistensi ARV untuk mempertahankan efisiensi ARV sehingga mampu meningkatkan kualitas ODHIV di Indonesia.
Penulis: Siti Qamariyah Khairunisa, S.Si., M.Si
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Khairunisa, SQ, et.al. (2023). Subtype Distribution and Drug Resistance Patterns Among HIV-1 Strains Prevalent in Makassar, Indonesia. AIDS Res Hum Retroviruses. 2023 Mar;39(3):124-129.doi: 10.1089/AID.2022.0139. Available oline at Subtype Distribution and Drug Resistance Patterns Among HIV-1 Strains Prevalent in Makassar, Indonesia – PubMed (nih.gov)





