Kanker serviks menempati urutan keempat kanker yang paling banyak dialami oleh wanita di dunia. Pada tahun 2020, sekitar 640.000 kasus baru dan 342.000 kematian akibat kanker serviks dilaporkan secara global. Skrining memungkinkan lesi prakanker diidentifikasi lebih awal sehingga lebih cepat mendapat terapi. Sayangnya, di negara berpenghasilan rendah dan menengah, pencegahan kanker serviks masih sangat terbatas, sehingga seringkali kasus ditemui saat gejala dan penyakit telah berkembang. Selain itu, terapi lesi kanker juga masih sangat terbatas, sehingga kasus kematian akibat kanker serviks masih tinggi.
Fakta ini menunjukkan, harus ada perhatian lebih pada skrining dan pencegahan kanker seperti tes inspeksi visual asam asetat (IVA), pap smear, dan vaksinasi HPV untuk menekan angka morbiditas dan mortalitas kanker serviks, Konsultan Onkologi Ginekologi, selaku pakar kanker serviks, diasumsikan memiliki kesadaran yang tinggi terhadap skrining dan pencegahan kanker serviks.
Studi menunjukkan, mayoritas konsultan onkologi ginekologi Indonesia memilih liquid-based cytology sebagai metode skrining kanker serviks jika dibandingkan dengan metode lainnya. Berdasarkan literatur, liquid based cytology pap smear diketahui memiliki sensitivitas yang lebih tinggi, nilai prediktif negatif, sampel yang adekuat, persiapan sampel yang lebih cepat, dan menununkan tingkat smear yang tidak adekuat. Sayangnya meskipun menjadi tonggak edukasi skrining kanker serviks, para konsultan ini tidak melakukan skrining secara rutin karena berbagai alasan seperti kendala waktu karena kesibukan yang padat.
Menariknya, para konsultan onkologi ginekologi yang merupakan pegawai rumah sakit pemerintah, memilih melakukan skrining di luar tempat kerja mereka. Dari 20 orang konsultan onkologi ginekologi di Indonesia, hanya 78% yang telah melakukan vaksinasi HPV dan mayoritas memilih vaksin kuadrivalen dibandingkan dengan vaksin bivalen.
Untuk meminimalisir risiko kanker serviks, pencegahan primer dan sekunder harus dilakukan, termasuk vaksinasi HPV dan skrining rutin. Banyak metode skrining yang bisa dipilih sesuai preferensi kita. Penerapan program pemerintah terkait vaksinasi HPV pada remaja perempuan di usia sekolah juga harapannya dapat mengurangi angka kanker serviks di Indonesia. Hasil studi ini dapat menjadi evaluasi bersama bagi kita. Sebelum mengedukasi pasien, harapannya para tenaga kesehatan dapat menjadi role model yang baik dengan mengaplikasikan skrining dan pencegahan kanker serviks, khususnya pada konsultan onkologi ginekologi.
Penulis: Brahmana Askandar Tjokroprawiro
Artikel lengkapnya dalam diakses melalui link berikut
https://www.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/3980





