Universitas Airlangga Official Website

Penilaian Risiko Ekologi Komoditas Perikanan

ilustrasi ikan (sumber: perikanan.sariagri)

Sektor komoditas perikanan memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia, berkontribusi terhadap ketahanan pangan, penghidupan masyarakat pesisir, dan peluang kerja. Pesatnya perkembangan sektor perikanan menyebabkan peningkatan produksi pada tahun 1980 hingga tahun 2012, menjadikan Indonesia sebagai produsen perikanan terbesar keempat di dunia.  Indonesia merupakan pemain utama produksi protein hewani  dari sektor perikanan dengan kontribusi sebesar 4,6% dan total produksi sebesar 3.067.660 ton. Di Indonesia, khususnya Jawa Timur, pasokan protein hewani berupa daging putih dan makanan laut terus meningkat. Pertumbuhan ini tidak terbatas pada perikanan air tawar, yang menghasilkan spesies seperti ikan lele (Clarias gariepinus) dan nila (Oreochromis niloticus), namun juga meluas ke perikanan air payau dan laut, dimana produk-produk penting terus dikembangkan.

Di antara lima besar ekspor makanan laut Indonesia (udang, tuna, rumput laut, kepiting, dan cumi), udang putih (Litopenaeus vannamei) mempunyai pendapatan  per kilogram tertinggi, yaitu sekitar 2 miliar yen, atau 39% dari total nilai ekspor US $40,2 juta. Sementara itu, tuna dan gurita masing-masing menyumbang 14% dan 10%.  Selain itu, rumput laut dan produk akuatik lainnya masing-masing menyumbang 5% dan 25%. Namun, di beberapa wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, produksi udang mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir karena memburuknya kualitas air dan lingkungan, yang menyebabkan meningkatnya wabah penyakit.

Berbagai sumber pencemaran berkontribusi terhadap penurunan kualitas air yang berujung pada penurunan produksi udang. Akumulasi logam berat (Pb, Cd dan Hg) mempengaruhi biota perairan seperti udang dan dapat menimbulkan dampak negatif bagi manusia yang mengkonsumsinya. Industrialisasi modern memperburuk paparan dan konsentrasi logam dalam air dan sedimen. Polusi air dan udara yang disebabkan oleh logam beracun merupakan masalah lingkungan global yang mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, terutama anak-anak. Logam berat bersifat racun bagi organisme hidup, sulit terurai dan dapat terakumulasi di dalam tubuh sehingga menyebabkan kematian dalam konsentrasi tinggi. Paparan logam berat yang tinggi, terutama merkuri dan timbal, dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius seperti sakit perut kronis, pendarahan, diare dan gagal ginjal.

Beberapa organisme ditemukan mengakumulasi kontaminasi logam berat, antara lain ikan nila, bandeng;, lele, salu (Epinephelus sp.) dan udang. Banyak penelitian yang menyoroti peningkatan pencemaran logam berat di perairan yang merupakan sumber utama air untuk berbagai kegiatan penangkapan ikan. Beberapa daerah di Jawa Timur yang menjadi fokus penelitian pencemaran air, antara lain; Lamongan, Pasuruan dan Banyuwangi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya berbagai logam berat hampir di seluruh wilayah pesisir Jawa Timur. Namun pengaruh akumulasi logam berat terhadap keamanan pangan produk perikanan belum diteliti.

Produksi ikan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan protein hewani daging putih yang kemungkinan lebih sehat dibandingkan protein daging merah. Produk ikan kaya akan nutrisi esensial seperti asam amino dan asam lemak tak jenuh sehingga bermanfaat untuk mengatasi masalah stunting dan malnutrisi di banyak negara. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gizi buruk dapat menghambat pertumbuhan dan menyebabkan stunting. Oleh karena itu, memastikan keamanan pangan menjadi isu penting, terutama ketika mencoba meningkatkan konsumsi produk ikan. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengendalikan akumulasi polutan di air tawar dan produk ikan laut. Pada saat yang sama, praktik-praktik ini mendorong pengelolaan perikanan berkelanjutan dan kesehatan lingkungan perairan secara keseluruhan.

Pemantauan ini harus memberikan informasi yang akurat mengenai pencemaran logam berat yang saat ini berdampak pada badan air umum, dan berdampak pada sektor perikanan. Fokus penelitian di Jawa Timur ini adalah mendeteksi dan memantau akumulasi logam berat pada produk perikanan terpenting seperti udang dan ikan. Selain itu, kami menilai dampak kontaminan terhadap keamanan pangan menggunakan beberapa indeks, termasuk indeks risiko ekologi potensial (PERI), perkiraan asupan harian (EDI), risiko target (THQ), dan risiko target kanker (TR). Laporan ini sangat penting untuk keamanan pangan produk ikan dan merupakan bagian dari pengawasan rutin yang bertujuan untuk mengatasi kontaminasi logam berat pada biota perairan.

Penulis: Dr. Eng. Sapto Andriyono

Tulisan lengkap dapat ditemukan pada : https://journals.pan.pl/dlibra/show-content?id=130733

Sitasi : Andriyono, S., Hidayati, N. V., Fitrani, M., Manaf, L. A., Habib, A., Dewi, U. U., & Mukadar, S. (2024). Ecological risks assessment of fishery commodities from heavy metal in The East Java Province, Indonesia. Journal of Water and Land Development, 183-193.