Universitas Airlangga Official Website

Budidaya Lobster Pasir (Panulirus Homarus)

Budidaya Lobster Pasir (Panulirus Homarus)
Sumber: dok pribadi

Salah satu cara untuk mengetahui kondisi kesehatan induk lobster adalah dengan seleksi benih dilakukan secara langsung dan berasal dari indukan hasil budidaya. Benih lobster yang digunakan untuk pembesaran harus bebas dari penyakit atau pathogen dan tidak terpengaruh oleh stres. Lobster yang mengalami stres memiliki cangkang yang lebih kemerahan daripada lobster yang sehat, dan pathogen merusak bagian luar lobster itu sendiri. Kualitas air yang buruk membuat pathogen mudah masuk dan mengganggu daya tahan tubuh lobster, menyebabkan lobster menjadi stress.

Alat kelamin seseorang dapat digunakan untuk membedakan antara jantan dan betina. Betina memiliki alat kelamin bulat, sedangkan jantan memiliki alat kelamin lonjong. Alat kelamin jantan terletak di ujung kaki jalan kelima, sedangkan betina terletak di ujung kaki jalan ketiga. Kaki semu ditemukan pada induk lobster jantan dan betina. Bentuk tubuh adalah faktor lain yang dapat membedakan lobster jantan dan betina. Indukan lobster jantan biasanya lebih besar dan bentuknya lebih besar daripada betina.

Pada budidaya lobster, kepadatan penebaran harus selalu diperhatikan. Kepadatan yang kurang sesuai akan menghambat kinerja produksi dan produktivitas lobster akan menurun. Kepadatan yang terlalu rendah juga dapat membantu pertumbuhan lobster karena pakan yang ditebar lebih merata dengan kepadatan yang lebih rendah. Di sisi lain, kepadatan yang tinggi dapat mempengaruhi keberlangsungan hidup lobster karena membuatnya sulit bergerak dan bersaing, menyebabkan kanibalisme. Karena padat tebar yang tinggi, kanibalisme dapat menyebabkan luka dan stres pada lobster. Saat tebar pertama kali, padat tebar yang disarankan untuk media pemeliharaan adalah 75 ekor per meter persegi, dan jangka waktu pemeliharaan adalah tiga bulan.

Penyebaran benih lobster di media pemeliharaan disebut penyebaran. Dalam proses penebaran, dua komponen utama yang harus diperhatikan adalah waktu penebaran dan aklimatisasi. Aklimatisasi adalah proses penyesuaian lobster terhadap kondisi air yang baru dengan cara yang sama seperti penebaran; ini dilakukan untuk menghindari lobster mengalami stres saat berada di lingkungan air yang baru. Untuk menghindari stres, penebaran sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari.

Setelah telur menetas, pembenihan dimulai dengan pendederan. Pendederan lobster pasir sendiri dapat dilakukan baik di dalam maupun di luar. Lebih sering, pendederan lobster pasir sendiri dilakukan di media outdoor, seperti waring. Waring adalah media yang digunakan untuk pendederan. Benih yang telah menetas kemudian akan didistribusikan ke waring. Tempat waring sendiri harus memiliki kedalaman air yang tepat, bebas dari pencemaran, lokasi yang strategis, pakan yang memadai, dan kualitas air yang ideal.

Pendederan, tahap awal pemeliharaan, memerlukan pengawasan dan kontrol yang ketat. Angka kematian lobster tinggi selama tahapan pendederan karena kanibalisme lobster dan kegagalan moulting. Oleh karena itu, untuk mencegah hal-hal seperti itu terjadi selama proses pendederan, lobster dilindungi dari predator yang ada dengan diberikan shelter, pelindung matahari, atau cover.  Lobster juga dilapisi dengan jaring PE. Pengelolaan waring dan jaring, pakan yang diberikan, penebaran dan tebar padat, dan pengawasan pertumbuhan dan sintasan adalah komponen lainnya yang perlu diperhatikan.

Sifat lobster yang dikenal sebagai kanibalisme adalah memakan sesama lobster untuk dimakan. Kanibalisme lobster dapat terjadi karena ukuran lobster di media pemeliharaan tidak seragam atau tidak seragam. Kanibalisme secara tidak langsung menyebabkan lobster pada media pemeliharaan mengalami kerusakan kulit dan cacat tubuh. Faktor pakan yang kurang atau tidak sesuai dengan padat tebar media pemeliharaan juga dapat menyebabkan sifat kanibalisme ini. Untuk memastikan bahwa setiap lobster memiliki ukuran yang sama, pemilihan ukuran lobster penting; ini dapat dilakukan dengan memilah lobster secara langsung sesuai dengan rentang ukuran lobster yang tersedia. Untuk menghindari stres lobster, grading juga harus dilakukan di dalam air.

Setelah pendederan benih, proses budidaya berikutnya adalah pembesaran. Untuk membuat lobster ukuran pasar, proses pembesaran ini dilakukan. Lokasi proses budidaya dalam pembesaran sangat penting. Tempat terbaik untuk melakukan pembesaran ini adalah di tempat dengan kedalaman air terendah antara 6 dan 20 meter, pergantian air yang tinggi sehingga tidak terjadi akumulasi bahan organik, dan bebas dari limbah air.Pembesaran induk dilakukan pada media keramba jaring apung (KJA) berukuran 3 x 3 x 3 m. Ini dilakukan setelah masa pendederan benih dengan panjang karapas lebih dari 2,4 cm dan berat minimal 12 gram per ekor. Untuk melindungi lobster, keramba jaring apung (KJA) menambahkan jaring rangkap luar dalam sekitar 20 hingga 50 cm ke media budidaya.

Penulis: Luthfiana Aprilianita Sari, S.Pi., M.Si.

Link: https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/1392/1/012018

Baca juga: Identifikasi Morfologi dan Molekuler dari Ektoparasit yang Menyerang Insang Lobster Berduri