Universitas Airlangga Official Website

Kesadaran Gender dalam Mencapai Kepuasan Pernikahan pada Keluarga Profesional Muda di Indonesia

Ilustrasi kesadaran gender. (Sumber: Tirto.ID)

Kesadaran gender dianggap sebagai kontributor signifikan dalam menentukan dan berdampak pada kepuasan perkawinan di antara pasangan dan membangun keluarga yang kuat. Kesadaran gender bertujuan untuk memberikan kesadaran dan simpati terhadap kebutuhan perempuan. Kesadaran gender pada pasangan suami istri dapat dipahami dalam konteks gender dan relasi kekuasaan. Kekuasaan dalam keluarga ditunjukkan oleh siapa yang mengambil keputusan dalam keluarga dan bagaimana keputusan tersebut diambil. Penelitian Li (2022) melaporkan bahwa terdapat perbedaan kepuasan pernikahan di antara perempuan yang memiliki kekuasaan dalam mengambil keputusan keluarga.

Kesadaran gender adalah pemahaman bahwa terdapat perbedaan yang ditentukan secara sosial antara perempuan dan laki-laki berdasarkan perilaku yang dipelajari yang memengaruhi kemampuan mereka dalam mengambil keputusan dan tindakan (Liu dan Wang, 2020). Kesadaran ini perlu diterapkan melalui analisis gender dalam proyek, program, dan kebijakan. Kesadaran gender merupakan prasyarat penting untuk mengidentifikasi kebutuhan perempuan (Liu dan Wang, 2020). Bahkan peran pelatihan gender menjadi populer pada tahun 1980an sebagai alat untuk menciptakan kesadaran gender dan menyadarkan individu dan organisasi (UNNATI, 2009). Hal ini merupakan kemampuan untuk melihat masyarakat dari perspektif peran gender dan memahami bagaimana hal ini mempengaruhi kebutuhan perempuan dibandingkan dengan kebutuhan laki-laki (Moghaddam, 2007). Selain itu, kesadaran gender perlu ditingkatkan untuk menumbuhkan pemahaman dan kepekaan tentang ketidaksetaraan gender (Arnaut et al., 2019).

Penelitian ini menarik karena mengangkat permasalahan keluarga profesional muda di masyarakat Jawa, di mana patriarki sudah mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari. Laki-laki dididik menjadi kepala dan pemimpin keluarga, sedangkan kedudukan perempuan hanya dikaitkan dengan pekerjaan rumah tangga. Meski memiliki pendidikan tinggi dan status profesional, perempuan tidak lepas dari ideologi patriarki yang seringkali membatasi posisinya dalam masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengungkap peran kesadaran gender terhadap kepuasan pernikahan pada keluarga muda di masyarakat Jawa yang kental dengan budaya patriarki dan keyakinan Islam. Studi ini mengungkap kepuasan perkawinan dari sudut pandang perempuan dan membahas bagaimana kesadaran gender di kalangan keluarga profesional muda, di mana perempuan memiliki sumber daya intelektual dan ekonomi yang setara dengan laki-laki, memengaruhi kepuasan perkawinan. Lebih jauh lagi, menggambarkan posisi keluarga profesional dalam mencapai kepuasan perkawinan dalam kaitannya dengan masyarakat Jawa yang patriarki di Indonesia.

Penelitian ini mengkaji kepuasan pernikahan yang merupakan salah satu aspek yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana berhasil tidaknya suatu pernikahan. Keluarga muda, misalnya, perempuan yang usianya sama atau lebih tua, lebih mungkin merasakan kepuasan perkawinan karena ini merupakan permulaan bagi mereka, dibandingkan dengan mereka yang sudah menikah lebih lama. Kepuasan pernikahan berkaitan dengan peran dan tanggung jawab bersama antara suami dan istri dalam struktur keluarga. Beberapa aspek lain terkait kepuasan keluarga muda antara lain pengambilan keputusan dalam keluarga, konflik, dominasi individu atau pasangan, pemahaman tentang pernikahan dan perceraian, serta perubahan sikap pasangan. Studi ini menyimpulkan bahwa keluarga muda berusaha mencapai kepuasan perkawinan dengan berbagai cara, seperti mengikuti norma dan mengamalkan ajaran agama, dengan fokus khusus pada kesadaran akan identitas gender dan peran gender yang berbeda. Hasil ini juga menyoroti dampak signifikan dari keyakinan terhadap perbedaan pendapatan dan memainkan peran penting dalam membentuk keyakinan tersebut.  Perempuan yang memiliki pendapatan setara dengan pasangannya cenderung menunjukkan kesadaran gender yang lebih tinggi, sehingga berdampak positif terhadap kepuasan perkawinan mereka. Selain itu, penelitian menemukan bahwa pasangan muda juga mengalami konflik dengan pasangannya dan terkadang memilih untuk bercerai karena tidak mencapai kepuasan pernikahan, terutama jika salah satu pasangan tidak memenuhi tanggung jawab mereka, seperti yang diharapkan baik secara sosial maupun budaya.

Studi ini menemukan bahwa ada dua jenis ideologi, yang didukung oleh perempuan profesional muda; pertama, kelompok yang mendukung patriarki, dan kelompok kedua yang menentang maraknya budaya patriarki. Kelompok pertama memandang laki-laki sebagai pemimpin dan kepala keluarga, sedangkan kelompok kedua memandang kemungkinan laki-laki didominasi oleh istri mereka dalam banyak situasi. Oleh karena itu, keluarga muda mengalami permasalahan dan konflik dalam hubungan perkawinan. Studi ini melaporkan bahwa kepuasan pernikahan pada keluarga muda berkaitan dengan kesadaran dan kesetaraan gender dan perempuan dapat secara aktif mewujudkan kepuasan tersebut. Yang terakhir, buku ini berkontribusi pada pengembangan pengetahuan tentang studi gender dan keluarga. Analisis baru mengenai kesadaran gender dalam mewujudkan kepuasan pernikahan di kalangan keluarga profesional muda menambah wawasan baru. 

Lebih jauh lagi, nilai-nilai budaya mempengaruhi pentingnya tujuan perkawinan, yang bertujuan untuk memfasilitasi pencapaian kepuasan perkawinan. Kajian mengenai kesadaran gender dalam mencapai kepuasan pernikahan pada masyarakat Jawa masih jarang dilakukan di dunia akademis. Studi ini berupaya mengisi kesenjangan penelitian tentang kesadaran gender dan hubungannya dengan kepuasan pernikahan di kalangan masyarakat Jawa. Kajian ini juga menawarkan hal baru dalam mempelajari gender dan kepuasan perkawinan dalam keluarga profesional Jawa.

Penulis: Siti Mas’udah

link: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/issj.12551