Kualitas tidur yang buruk biasanya dialami oleh seseorang dengan aktivitas yang cukup berat seperti petani yang harus bangun pagi untuk pergi ke ladang, menanam dan memanen padi. Tidur penting untuk kesehatan fisik dan mental. Tidur lelap selama jam-jam tertentu juga penting untuk menjaga kehidupan manusia tetap normal (Kim et al., 2018) Jika seseorang tidak tidur dengan baik atau tidak merasa bugar saat bangun tidur, tubuhnya dapat dikatakan mengalami masalah tidur. Gangguan tidur bias menyebabkan masalah kesehatan seperti depresi, kecemasan, nyeri kronis, penyakit kardiovaskular, penyakit metabolik, gangguan kognitif, cacat fisik dan bahkan kematian (Shih et al., 2020). Pola istirahat tidur yang tidak teratur pada petani biasanya sering dirasakan karena berbagai hal saat panen atau menanam padi. Saat musim panen, petani harus bangun pagi-pagi untuk dapat beranjak ke sawah dan berpindah dari satu sawah ke sawah lainnya untuk memanen padi. Faktor yang dapat mempengaruhi kualitas tidur bagi petani adalah faktor demografi (usia, jenis kelamin, status belum menikah), gaya hidup, jenis pekerjaan dan kondisi kerja. Kualitas tidur dapat diartikan bahwa individu harus memiliki tidur yang sehat mencakup aspek siklus, kedalaman, relaksasi dan kesejahteraan spiritual. Fungsi tidur adalah untuk memulihkan tenaga dan perbaikan sistem neurofisiologi (Yildirim et al., 2020).
Usia merupakan lamanya waktu seseorang hidup sejak lahir sampai dengan ulang tahun terakhir pada saat penelitian dilakukan. Usia memiliki pengaruh terhadap kualitas tidur seseorang dengan rata-rata usia 70-74 tahun cenderung memiliki kualitas tidur yang buruk dikarenakan adanya penurunan fungsi fisiologis (Kozier, et al, 2011. Usia secara signifikan mempengaruhi komponen kualitas tidur yaitu latensi, efisiensi, distraksi dan penggunaan obat. Semakin tua usia seseorang maka akan semakin sulit untuk mendapatkan kualitas tidur yang baik. Hal ini dikarenakan semakin tua usia seseorang maka akan semakin menurun fisik dan kesehatannya. Selain itu usia menjadi salah satu faktor penentu lamanya waktu tidur yang dibutuhkan oleh seseorang. Semakin tua usia maka semakin sedikit waktu tidur yang dibutuhkan.
Kualitas tidur yang buruk mengakibatkan menurunnya daya ingat, tidak konsentrasi dan penurunan aktivitas sehingga mempengaruhi kesehatan petani. Kelelahan adalah salah satu kondisi kesehatan utama yang berkaitan dengan pekerjaan. Kelelahan fisik beresiko terhadap kecelakaan kerja terutama pada lansia. Jumlah pekerja yang berusia lanjut terus meningkat seiring bertambahnya usia penduduk dan sebagian besar pekerja yang berusia lanjut ini mengalami gangguan kesehatan. Gangguan tidur seseorang juga dipengaruhi oleh penyakit yang dialami dan obat-obatan yang dikonsumsi. Efek samping obat akan menimbulkan insomnia, kecemasan dan depresi tidur (Potter, 2011. Penggunaan obat dengan efek samping insomnia akan menyebabkan kesulitan dalam beraktivitas di siang hari, setidaknya kesulitan dalam melakukan 5 hingga 8 aktivitas di siang hari. Penggunaan obat juga menyebabkan mengantuk di siang hari dan kurang tidur. Kebiasaan gaya hidup (merokok, minum alkohol, makan tidak teratur, tidur larut malam) merupakan faktor risiko serius bagi gangguan tidur.
Gaya hidup petani yang kurang sehat seperti kebiasaan mengonsumsi minuman yang mengandung kafein akan mempengaruhi kualitas tidurnya. Mengonsumsi rokok, nikotin yang terkandung dalam rokok memiliki efek merangsang, dan perokok biasanya memiliki kualitas tidur yang buruk. Petani jam kerja di ladang berubah-ubah dan seringkali tidak ada jam kerja yang tetap sehingga harus mengatur aktivitas untuk menyiapkan tidur pada waktu yang tepat. Lingkungan tempat tinggal merupakan faktor penting seperti kepadatan dan ukuran ruangan, pencahayaan yang terlalu terang, kebisingan dan kebersihan lingkungan (B. Chen, 2019). Ruangan dan lingkungan yang nyaman akan membuat tidur menjadi lelap sedangkan lingkungan yang bising, kotor dan sempit dapat memberikan dampak buruk terhadap fisiologi, perilaku dan fungsi kognitif tidur (Brewster et al., 2019). Stres dan kualitas tidur saling mempengaruhi. Stres yang tinggi dapat menyebabkan kualitas tidur yang buruk, begitu pula sebaliknya, kualitas tidur yang buruk dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stres yang dapat berujung pada depresi. Hal ini tentu saja dapat berdampak buruk pada kualitas tidur seseorang.
Olahraga atau aktivitas ringan-sedang biasanya mendukung tidur, tetapi olahraga atau aktivitas berat yang berlebihan dapat menunda tidur. Kemampuan seseorang untuk rileks sebelum istirahat merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi kinerja untuk tertidur. Kebiasaan makan yang baik penting untuk menciptakan tidur yang baik.
Faktor terbesar yang mempengaruhi kualitas tidur petani adalah usia, status kesehatan, pengobatan, gaya hidup dan tingkat stres. Kualitas tidur yang buruk dapat dikaitkan dengan berbagai dampak kesehatan yang merugikan, seperti depresi, kecemasan, nyeri kronis, penyakit kardiovaskular, penyakit metabolik, gangguan kognitif, cacat fisik, dan bahkan kematian. Perawat kesehatan mental perlu memberikan edukasi tentang faktor-faktor yang dapat mengganggu tidur petani sehingga petani dapat bekerja secara optimal. Artikel secara lengkap dapat dibaca pada artikel yang berjudul : Mental Health and Psychosocial Factors that Influence Sleep Quality Among Indonesian Farmers.
Penulis :
Dr. Iswatun, S.Kep., Ns. M.Kes
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://rgsa.openaccesspublications.org/rgsa/article/view/5630
DOI : https://doi.org/10.24857/rgsa.v18n5-085





