Universitas Airlangga Official Website

Dosen FTMM UNAIR Wakili Indonesia di Forum Elektrokimia Bergengsi Amerika

Potret Krisma Jiwanti S Si M Sc Eng Ph D dalam konferensi internasional sebagai young faculty atau professional PAED Travel Award Winner untuk 249th Electrochemical Society (ECS) Meeting 2026 pada Minggu (24–28/5/2026) di Washington, Amerika Serikat. (Foto: Istimewa).
Potret Krisma Jiwanti S Si M Sc Eng Ph D dalam konferensi internasional sebagai young faculty atau professional PAED Travel Award Winner untuk 249th Electrochemical Society (ECS) Meeting 2026 pada Minggu (24–28/5/2026) di Washington, Amerika Serikat. (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Dosen Program Studi Rekayasa Nanoteknologi, Fakultas Teknologi Maju dan Disiplin (FTMM), Universitas Airlangga (UNAIR), Prastika Krisma Jiwanti SSi MSc Eng PhD, menerima Professional PAED Travel Award dalam ajang bergengsi 249th Electrochemical Society (ECS) Meeting 2026. Forum konferensi internasional tersebut terselengara pada Minggu (24–28/5/2026) di Seattle, Washington, Amerika Serikat. 

Forum konferensi internasional ini merupakan salah satu society atau organisasi tempat berkumpulnya para profesional terbesar di dunia dalam bidang elektrokimia. “Saya dipertemukan dengan ilmuan dalam bidang elektrokimia terkemuka dan memperluas relasi dengan peneliti di dunia. Khususnya dalam pengembangan material nano untuk aplikasi elektrokimia di Amerika yang memiliki perkembangan keilmuan yang luar biasa,” ujar Prastika.

Selain itu, ia berkesempatan untuk melihat perkembangan keilmuan terkini di dunia. Membawa nama UNAIR sebagai institusi untuk dikenal secara global tentu memiliki dampak untuk memperluas jejaring global dan membawa Academic Peer List (APL) yang nantinya dapat digunakan oleh institusi untuk beraktivitas secara akademik maupun riset di institusi tersebut kedepannya. 

Prastika mempelajari banyak hal, terutama dalam bidang elektrokimia dan sensor. “Hal ini dapat saya manfaatkan untuk menciptakan ide-ide riset, sekaligus memperkenalkan riset yang kita kerjakan kepada khalayak global,” ujarnya. 

Kesempatan itu ia manfaatkan juga untuk berdiskusi dan membicarakan peluang kerja sama dengan profesor di Amerika maupun belahan dunia lain seperti Taiwan, Thailand, Jepang, dan lainnya. Harapannya akan terjalin kolaborasi akademis seperti research lecture atau melakukan riset bersama.

Kultur riset atau inovasi di Amerika dengan Indonesia tampak signifikan terutama di Amerika yang sangat update terhadap riset terkini, kolaborasi dengan industri yang sangat kuat, hingga iklim riset yang melihat bahwa paten juga merupakan sebuah publikasi dan menjadi hal yang penting untuk menuju komersialisasi. Peserta di forum itu antusias terhadap presentasi yang ada, berdiskusi, dan membangun kolaborasi yang baru. 

Prastika juga memberi pesan dan tips kepada peneliti lain agar bisa mengikuti langkahnya. “Peneliti sebaiknya mencari informasi secara aktif, atau dapat bergabung dahulu di society, organisasi, atau konsorsium internasional bereputasi dalam bidangnya masing-masing untuk bisa mendapatkan informasi terkait adanya kesempatan tersebut,” pungkasnya. Ke depan, ia berencana mengundang mitra APL baru tersebut sebagai pembicara kuliah tamu maupun menginisiasi riset bersama.

Penulis: Fauziah Kandela

Editor: Khefti Al Mawalia