Gangguan muskuloskeletal (MSDs) merupakan salah satu penyakit akibat kerja yang paling umum terjadi di dunia kerja modern, terutama di sektor teknologi informasi (TI). Profesional TI sering menghadapi risiko tinggi karena pekerjaan mereka melibatkan penggunaan komputer dalam waktu lama dengan posisi tubuh statis. Situasi ini diperburuk oleh tren kerja jarak jauh yang meningkat sejak pandemi COVID-19, yang memperpanjang waktu layar dan mengurangi aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi MSDs pada pekerja TI serta faktor-faktor risiko yang berkontribusi terhadap kondisi ini.
Penelitian kajian literatur ini menunjukkan bahwa tingkat prevalensi MSDs di kalangan profesional TI bervariasi antara 20% hingga 89% tergantung pada lokasi geografis, metode pengukuran, dan karakteristik populasi (Smitha, Shree., et..al., 2019). Beberapa penelitian juga melaporkan tentang prevalensi MSD di antara berbagai profesional. Sebuah penelitian pada tahun 2021 menunjukkan bahwa 245 staf bank dari 335 (73,1%) melaporkan gangguan di berbagai bagian tubuh, termasuk tangan, kaki, punggung, leher, dan bahu (Etana G., Abdisa D, et al., 2021). Sebuah penelitian di antara para bankir di Ethiopia menunjukkan bahwa hampir 66% terkena MSD (Kasaw K.A., Fisseha, G., et al., 2020). Studi lain yang melaporkan tentang MSD di antara pekerja garmen di Bangladesh menunjukkan bahwa 24,7% responden mengalami nyeri punggung bawah dan 23,7% melaporkan nyeri leher (Hossain M.D., et al., 2018). Prevalensi gangguan muskuloskeletal bervariasi di berbagai profesi, tergantung pada sifat pekerjaan dan lingkungan kerja (Yizengaw M.A., et al., 2018). Penelitian telah menunjukkan bahwa MSD umum terjadi di antara profesional TI. Temuan dalam tinjauan ini memberikan kontribusi sebagai peringatan bagi badan-badan terkait, untuk memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap lingkungan kerja dan masalah kesehatan para profesional TI. Selain profesional TI, jenis pekerjaan yang serupa, seperti karyawan kantor bank komputer, juga memiliki pola faktor risiko MSD yang serupa
Gangguan muskuloskeletal (MSDs) pada profesional teknologi informasi (TI) dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh, yang secara luas terbagi menjadi tiga wilayah utama: punggung, lengan, dan kaki. Wilayah punggung sering kali menjadi area yang paling terdampak, mencakup leher, bahu, punggung atas, punggung bawah, bokong, dan pinggul. elain itu, hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan lainnya, termasuk nyeri, kram, nyeri, rasa terbakar, kesemutan/mati rasa, sensasi kesemutan di tangan, ekstremitas atas, kelelahan dan keletihan, masalah penglihatan, sakit kepala, depresi, stres, ketegangan mata, kekakuan, sindrom penglihatan komputer, mata merah, mata berair, sensasi terbakar/gatal di mata, dan lain sebagainya. Durasi kerja per hari dan total pengalaman kerja dapat memengaruhi masalah muskuloskeletal.
Studi yang dipilih melaporkan beberapa faktor risiko yang terkait dengan penyakit muskuloskeletal, termasuk durasi kerja, pengalaman kerja, jenis kelamin, pengerahan tenaga yang tinggi, kontrol pekerjaan yang rendah, posisi punggung yang berat, merokok, kurangnya aktivitas fisik, riwayat MSD sebelumnya, tempat kerja yang tidak nyaman, stres mental yang berhubungan dengan pekerjaan dan kurang tidur di malam hari, indeks massa tubuh (BMI), pengaturan tempat kerja, tuntutan pekerjaan, waktu istirahat selama bekerja, ruang kerja, postur tubuh, status latihan, kursi yang empuk, papan tombol yang lembut, jam kerja yang panjang, penggunaan telepon pintar yang berlebihan, kurang latihan, penyesuaian tempat kerja yang salah, postur tubuh yang salah, duduk dalam waktu lama, konsumsi alkohol, dst.
Selain itu, organisasi kerja merupakan variabel signifikan yang dapat memengaruhi masalah kesehatan terkait MSDs di antara profesional TI. Profesional TI sebagian besar menggunakan desktop, laptop, atau tablet; dengan demikian, beberapa faktor dapat memengaruhi kondisi kesehatan, termasuk posisi monitor atau perangkat, desain kursi, posisi keyboard, desain dan posisi mouse, desain sandaran tangan dan sandaran pergelangan tangan, dan postur tubuh yang salah (Sahu, M., et al., 2020).
Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk menerapkan intervensi khusus, seperti penilaian ergonomis untuk mengoptimalkan pengaturan tempat kerja, mempromosikan istirahat teratur untuk mengurangi ketegangan, dan mendorong aktivitas fisik melalui program kesehatan terstruktur. Meningkatkan pendidikan kesehatan kerja juga akan meningkatkan kesadaran akan faktor risiko ini, menyediakan strategi pencegahan, dan mendorong karyawan untuk mengadopsi praktik yang lebih sehat. Selain itu, mempromosikan budaya keselamatan dan kesejahteraan dapat lebih mengurangi risiko.
Penulis :
Tofan AE. Prasetya1, Abdullah Al Mamun, Aisy Rahmania, Mobashwer Ahmed, Abu SMS. Uddin, Neffrety Nilamsari and Ratnaningtyas WK. Wardani
Judul Artikel :
Prevalence and associated risk factors of musculoskeletal disorders among information technology (IT) professionals: A systematic review
Untuk informasi lebih lanjut bisa melalui link berikut :
https://narraj.org/main/article/view/1100
.





