Universitas Airlangga Official Website

Terapi Lidocaine terhadap Faktor Resiko Diabetes Neuropathy

Diabetes melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat gangguan fungsi insulin.  Federasi Diabetes Internasional memperkirakan bahwa 9,3% dari populasi, atau 463 juta orang, menderita diabetes pada tahun 2019. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 10,2% pada tahun 2030 dan 10,9% pada tahun 2045.

Kontrol glikemik merupakan proses pengaturan kadar gula darah yang optimal pada pasien diabetes melitus. Evaluasi kontrol glikemik pada pasien diabetes melitus tipe 2 biasanya menggunakan tiga parameter: hemoglobin glikosilasi (HbA1c), glukosa darah puasa (FBG), dan gula darah 2 jam pasca makan (2 jam PPBS). Hemoglobin glikosilasi (HbA1c) adalah standar emas untuk mengevaluasi kontrol glikemik. Kontrol diabetes yang buruk dapat memengaruhi komplikasi makro dan mikrovaskular. Komplikasi makrovaskular meliputi penyakit arteri perifer, penyakit serebrovaskular, dan penyakit jantung koroner. Nefropati, retinopati, neuropati, dan mikroangiopati diabetik merupakan contoh konsekuensi mikrovaskular. Faktor lain seperti hipertensi, juga dapat meningkatkan resiko komplikasi, terutama pada penderita penyakit kardiovaskuler.

Neuropati diabetik adalah kerusakan saraf akibat kadar gula darah tinggi, ditandai dengan rasa kebas, terbakar, dan kesemutan, terutama pada jari kaki, telapak kaki, dan tungkai bawah. Kondisi ini menjadi sangat mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya yang dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup. Nyeri neuropati diabetik disebabkan oleh kerusakan jalur pembawa nyeri, dengan gejala hiperalgesia, alodinia, dan nyeri spontan. Selain itu, dislipidemia juga dapat menjadi komplikasi diabetes neuropati. Dislipedemia merupakan suatu kondisi terjadinya peningkatan lemak didalam plasma darah yang dapat mengakibatkan peningkatan kolesterol dan trigliserida. Kadar lemak yang tinggi dapat mengakibatkan peningkatan stress oksidatif, terutama pada sensor neuron (saraf), yang dapat mengganggu proses signaling antar serabut saraf.

Penatalaksanaan nyeri neuropati diabetik masih sulit, meskipun telah dilakukan berbagai upaya untuk menghasilkan pendekatan terapi yang lebih efektif dan rasional. Rekomendasi pertama untuk terapi nyeri neuropati diabetik meliputi antidepresan trisiklik, gabapentin, pregabalin, dan lidocaine topikal. Terapi nyeri neuropati diabetik menggunakan suntikan anestesi lokal lidocaine saat ini sedang dilakukan, lidocaine disuntikkan pada titik nyeri, yaitu titik/tempat hiperiritabel yang terletak di struktur otot atau fasia yang dekat dengan saraf yang rusak.

Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa pemberian injeksi lidocaine aman dan efektif dalam mengendalikan nyeri neuropatik, dan infus lidocaine subkutan juga efektif pada beberapa pasien kanker dan dapat ditoleransi dengan baik. Studi yang menggunakan infus lidocaine subkutan menunjukkan efektivitas pada tingkat 100-160 mg/jam. Dalam studi ini, lidocaine tampak efektif pada beberapa pasien yang ditandai dengan penurunan skor nyeri, pengurangan dosis morfin oral (MOE), penilaian subjektif, dan efek samping lidocaine yang minimal juga dilaporkan. Lidocaine menunjukkan efek anti nyeri pada nyeri tubuh dan pada nyeri neuropatik, dengan menghasilkan rangsangan terhadap neuron yang memiliki gangguan.

Nyeri neuropatik diketahui terjadi akibat peningkatan regulasi natrium di membran sel non reseptor, yang dapat menyebabkan eksitabilitas spontan dan hipereksitabilitas saraf. Lebih jauh, pemberian lidokain berpotensi untuk mengobati nyeri neuropatik karena obat tersebut memiliki mekanisme sistemik yang dapat mengurangi pelepasan neuronal dengan secara selektif memblokir jenis saluran natrium yang terlibat. Faktor lain yang mungkin terkait dengan penurunan nyeri pada pasien DNP adalah adanya latihan rutin yang dilakukan. Hal ini mungkin terkait dengan partisipasi responden dalam kegiatan PROLANIS, di mana responden yang memiliki tingkat keterlibatan lebih rendah tidak mengalami penurunan nyeri setelah pengobatan injeksi lidokain. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, PROLANIS memiliki manfaat dalam pengelolaan penyakit degeneratif, terutama diabetes.

Penelitian terbaru menunjukkan adanya korelasi signifikan secara statistik antara efektivitas terapi suntikan anestesi lokal lidokain pada pasien dengan nyeri neuropati diabetik dan polimorfisme gen Nav1.7 (SCN9A rs6746030) dan Nav1.8 (SCN10A rs12632942). Terapi DNP dengan menggunakan suntikan anestesi lokal lidokain yang menargetkan aliran natrium Nav1.7 dan Nav 1.8 tidak efektif dalam menurunkan DNP apabila terdapat polimorfisme tipe mutan pada gen SCN9A rs6746030 dan SCN10A rs12632942, sebaliknya apabila terdapat polimorfisme non-mutan pada gen SCN9A rs6746030 dan SCN10A rs12632942, suntikan lidokain lokal efektif dalam menurunkan DNP.

Gen SCN9A memiliki alel mutan AA sedangkan alel liarnya adalah GG. Pada gen SCN10A, alel mutannya adalah GG sedangkan non-mutan adalah AA. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada beberapa sampel dengan gen SCN9A dengan alel mutan GA yang tidak mengalami penurunan nyeri. Penelitian selanjutnya diperlukan untuk pengurutan seluruh gen SCN9A karena adanya kromosom yang sama yang dapat memungkinkan terjadinya mutasi pada nukleotida yang berbeda atau mutasi kromosom lain yang berhubungan dengan kejadian nyeri.

Penulis: I Made Subhawa Harsa, Fakultas Kedokteran, Unair

Detail tulisan ini dapat dilihat di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/the-role-of-lidocaine-injection-and-related-factors-on-the-incide#:~:text=The%20DNP%20showed%20a%20significant,as%20factors%20for%20controlling%20DNP.