Universitas Airlangga Official Website

Peran Rhbmp-2 Dalam Regenerasi Tulang Alveolar Pasca Ekstraksi Gigi

Ilsutasi gigi (Sumber: Suara Surabaya)

Salah satu pendekatan umum adalah pada konsep penyembuhan soket pencabutan yang digunakan untuk mengamati proses penyembuhan jaringan tulang dalam kedokteran gigi adalah terbentuknya pembuluh darah baru disekitar luka pasca pencabutan gigi. Tiga fase dalam penyembuhan luka adalah : fase inflamasi (I), proliferatif (P), dan remodeling (R). Awalnya, darah ditarik ke dalam soket pencabutan, dan selama fase inflamasi, trombosit ditarik ke area luka. Respons inflamasi awal mulai membersihkan lokasi luka setelah bekuan darah, menutup luka dan pendarahan berhenti. Setelah itu, angiogenesis dimulai, dan matriks jaringan ikat sementara terbentuk. Dalam waktu dua minggu setelah pencabutan, tulang anyaman terbentuk dalam fase proliferatif sebagai akibat dari pembuluh dan sel pembentuk tulang yang menembus matriks sementara. Lebih dari enam puluh persen tulang dibangun kembali dalam tiga bulan pertama setelah pencabutan, tetapi tulang anyaman muda ini tidak menahan beban dan digantikan oleh tulang lamelar dewasa dan sumsum tulang selama beberapa bulan. Sebagian besar volume tulang awal hilang setelah fase penyembuhan, terutama pada sisi wajah. Faktor pertumbuhan dikoordinasikan secara dinamis untuk menarik sel yang tepat ke dalam defek dan mendorong pembentukan tulang, pemahaman tentang mekanisme penyembuhan luka pada tingkat seluler sangat penting untuk merancang strategi guna meningkatkan jumlah perkembangan tulang. Selama tahap inflamasi, trombosit melepaskan faktor pertumbuhan turunan trombosit (PDGF) untuk mendorong proliferasi sel dan kemotaksis, yang keduanya penting untuk penyembuhan luka. Sitokin pro-inflamasi seperti interleukin 1 (IL-1), IL-6, dan faktor nekrosis tumor alfa (TNF-α) kemudian dibuat saat sel inflamasi bermigrasi ke lokasi luka. Selama masa proliferatif, proses angiogenesis sangat penting untuk menyediakan dukungan seluler dan nutrisi. PDGF, faktor pertumbuhan endotel vaskular (VEGF), dan faktor 1-a yang dapat diinduksi hipoksia (HIF-1a) semuanya mengendalikan angiogenesis. VEGF terkait erat dengan osteogenesis.

Metode pemberian BMP-2 yang sekarang digunakan memanfaatkan rhBMP-2 dalam bentuk protein. Spons kolagen atau pengganti tulang diobati dengan rhBMP-2 berdasarkan morfologi defek untuk meningkatkan regenerasi tulang melalui metode cangkok tulang. Sejumlah penelitian klinis tentang regenerasi tulang alveolar telah menunjukkan dampak rhBMP-2 pada proses ini. Namun, efek samping yang terkait dengan dosis merupakan aspek yang paling bermasalah dari terapi rhBMP-2. Dosis awal rhBMP-2 yang tinggi diberikan pada defek untuk mempertahankan konsentrasi in vivo yang efektif selama periode penyembuhan karena BMP-2 merupakan faktor pertumbuhan yang bekerja lambat. Lebih jauh lagi, kondisi host dan sistem pembawa dapat memengaruhi dosis yang tepat. Dalam penelitian sebelumnya, konsentrasi rhBMP-2 bervariasi antara 0,75 dan 2,0 mg/mL. Konsekuensi yang merugikan, termasuk pembengkakan yang meluas, pembentukan lesi tulang kistik, telah dikaitkan dengan dosis fisiologis rhBMP-2.

Pada penelitian ini, penulis menggunakan perlakuan pada sisi anterior mandibula, di area soket tempat gigi dicabut, Kami mengisi soket dengan 1 mililiter rhBMP-2 (0,25Ï€ g/mL) yang larut dalam serum fisiologis, dan hasil yang didapatkan menunjukkan terjadi angiogenesis di area soket bekas pencabutan gigi, yang lebih baik disbanding kelompok yang tidak diberi rhBMP-2. Hal ini menunjukkan ada potensi penyembuhan tulang alveolaris yang lebih cepat dan lebih baik, sehingga mengurangi proses resorbsi pada tulang alveolaris

Christian Khoswanto

Department of Oral Biology Faculty of Dentistry

Airlangga University Surabaya-Indonesia