Kanker hati atau dalam istilah medis disebut hepatocellular carcinoma (HCC), merupakan salah satu penyebab kematian akibat kanker yang paling tinggi di dunia. Salah satu penyebabnya adalah sulitnya mendeteksi kanker ini sejak dini. Biasanya, gejala baru muncul ketika kanker sudah berada pada stadium lanjut, sehingga pengobatan menjadi jauh lebih sulit dan mahal.
Selama ini, dokter menggunakan penanda tumor bernama alpha-fetoprotein (AFP) untuk mendeteksi HCC. Namun, sayangnya AFP memiliki keterbatasan karena tidak semua penderita HCC menunjukkan peningkatan kadar AFP. Bahkan, sekitar 40% pasien kanker hati memiliki kadar AFP yang masih normal. Oleh karena itu, diperlukan biomarker baru yang lebih akurat.
FGF-19: Hormon dengan Potensi Besar
Penelitian terbaru dari tim dokter dan peneliti di RSUD Dr. Soetomo dan Universitas Airlangga menemukan bahwa Fibroblast Growth Factor-19 (FGF-19), suatu hormon yang berperan dalam metabolisme glukosa dan lemak, ternyata meningkat secara signifikan pada pasien HCC. Hormon ini sebenarnya dihasilkan oleh usus halus, tetapi memiliki fungsi penting di hati, terutama dalam mengatur sintesis asam empedu.
Menariknya, dalam penelitian pada tikus, pemberian FGF-19 dalam jangka panjang memang memperbaiki metabolisme, tetapi juga memicu pertumbuhan kanker hati. Fakta ini mendorong para peneliti untuk menyelidiki apakah FGF-19 juga bisa digunakan sebagai alat deteksi dini kanker hati pada manusia.
Hasil Penelitian yang Menjanjikan
Dalam penelitian ini, para peneliti mengamati tiga kelompok: pasien kanker hati, pasien hepatitis kronis, dan orang sehat. Hasilnya cukup mencengangkan:
- Rata-rata kadar FGF-19 pada pasien HCC mencapai 221,5 pg/mL, jauh lebih tinggi dibandingkan pasien hepatitis kronis (53,4 pg/mL) dan orang sehat (56,8 pg/mL).
- Dengan ambang batas 153,86 pg/mL, FGF-19 memiliki akurasi 83,3%, lebih baik dibandingkan AFP yang hanya 75% jika menggunakan ambang batas 20 ng/mL.
- Bahkan, bila FGF-19 dan AFP digunakan bersama, tingkat keakuratannya meningkat hingga 90%, dengan sensitivitas (kemampuan mendeteksi penderita) mencapai 96,7%.
Temuan ini sangat penting karena FGF-19 bisa menjadi alternatif atau pelengkap dari AFP dalam mendeteksi HCC, terutama pada kasus-kasus yang sulit dikenali. Tidak hanya untuk diagnosis, FGF-19 juga membuka kemungkinan sebagai target terapi baru di masa depan karena perannya dalam pertumbuhan dan perkembangan sel kanker hati.
Meski begitu, penelitian ini masih memiliki keterbatasan, seperti jumlah sampel yang kecil dan belum menganalisis hubungan antara kadar FGF-19 dengan karakteristik tumor. Penelitian lanjutan yang lebih besar dan menyeluruh masih sangat diperlukan.
FGF-19 berpotensi menjadi biomarker baru yang lebih akurat dan andal untuk deteksi dini kanker hati, khususnya pada pasien hepatitis kronis. Semakin dini kanker hati terdeteksi, semakin besar peluang kesembuhan pasien. Dengan riset lanjutan dan pengembangan teknologi medis, harapan hidup penderita kanker hati bisa meningkat secara signifikan.
Artikel ini bisa di akses di link : https://jmpcr.samipubco.com/article_214865_2ddea4e2f5beb5236af6fcb4cb8bab47.pdf
Penulis : Andre Ansyah Halim,|Alvin Hartanto Kurniawan, |Jusak Nugraha,|Ulfa Kholili, |Dyah Ayu Pradnyaparamitha





