Dahulu, infeksi jamur dianggap sebagai masalah ringan—sekadar sariawan, ruam kulit, atau keputihan yang mudah ditangani. Namun dalam dua dekade terakhir, dunia medis menghadapi kenyataan yang jauh lebih mengkhawatirkan: meningkatnya kasus infeksi jamur serius yang tidak dapat disembuhkan dengan terapi standar. Fenomena ini dikenal sebagai resistensi antijamur, yaitu kemampuan jamur untuk bertahan hidup meskipun telah diberikan obat antijamur dalam dosis yang seharusnya efektif.
Jamur dapat menjadi kebal terhadap obat melalui dua mekanisme utama. Pertama adalah resistensi intrinsik, yaitu sifat alami dari spesies tertentu yang memang tidak sensitif terhadap jenis obat tertentu, seperti Candida auris terhadap fluconazole atau Cryptococcus terhadap echinocandins. Kedua adalah resistensi didapat, yaitu kemampuan jamur yang semula sensitif menjadi kebal setelah terpapar obat. Resistensi ini berkembang melalui mutasi genetik, penggandaan gen, hingga penyisipan elemen transposon di dalam genom jamur.
Lebih kompleks lagi, jamur juga bisa menunjukkan apa yang disebut sebagai toleransi antijamur. Ini bukan mutasi permanen, melainkan strategi adaptif di mana sebagian kecil populasi jamur tetap hidup dan berkembang biak meskipun berada dalam kadar obat yang tinggi. Akibatnya, pengobatan tampak berhasil di awal, namun infeksi muncul kembali begitu obat dihentikan. Toleransi ini sering tidak terdeteksi dalam uji laboratorium konvensional, sehingga berisiko menyesatkan keputusan terapi.
Berbagai studi telah menunjukkan bahwa perubahan genetik pada jamur dapat meningkatkan daya tahannya secara signifikan. Mutasi titik pada gen target obat membuat struktur protein berubah, sehingga obat tak lagi dapat menempel secara efektif. Penggandaan gen dapat memperbanyak produksi enzim atau pompa pengeluar obat dari dalam sel jamur. Sementara itu, perubahan besar seperti kehilangan heterozigositas atau perubahan jumlah kromosom (aneuploidy) memungkinkan jamur menyesuaikan diri dengan cepat terhadap tekanan terapi.
Yang lebih mencengangkan, jamur ternyata juga bisa mengaktifkan mekanisme epigenetik, seperti perubahan modifikasi histon dan ekspresi gen tanpa mengubah urutan DNA-nya. Mekanisme ini memengaruhi pembentukan biofilm—lapisan pelindung yang membuat koloni jamur kebal terhadap obat. Selain itu, sejumlah spesies jamur mampu menghasilkan “sel persister” yang dorman dan sangat sulit dibunuh oleh obat apa pun.
Dampak klinis dari resistensi antijamur sangat serius. Pasien dengan kanker, HIV/AIDS, diabetes, atau mereka yang dirawat intensif di rumah sakit menjadi kelompok paling rentan. Ketika infeksi jamur tidak lagi responsif terhadap pengobatan standar, maka pilihan terapi menjadi terbatas, mahal, dan sering kali lebih toksik. Beberapa studi bahkan mencatat peningkatan kematian sebesar 20–30% pada pasien dengan infeksi jamur resisten.
Untuk itu, dibutuhkan langkah strategis yang menyeluruh. Pemantauan resistensi, penggunaan terapi kombinasi, dan pengembangan obat baru menjadi prioritas. Dunia medis harus menyadari bahwa perang melawan infeksi jamur kini berada di babak baru: babak yang menuntut ketelitian diagnostik, kebijakan terapi yang bijak, dan pemahaman mendalam terhadap biologi jamur itu sendiri. Tanpa kesadaran ini, kita berisiko kalah dalam perang senyap melawan musuh yang tak terlihat namun mematikan.
Oleh: Ika N. Kadariswantiningsih
NIP: 198802152012122003
No. HP: 082331940876
Judul Artikel di Scopus: Antifungal resistance: emerging mechanisms and implications (Review)
Link artikel: https://www.scopus.com/pages/publications/105010701267





