Prosedur odontektomi, yaitu pencabutan gigi, sering dilakukan untuk mengatasi impaksi molar ketiga, yang dapat menyebabkan rasa sakit, pembengkakan, dan infeksi berulang akibat posisi gigi yang abnormal. Biasanya, prosedur ini dilakukan dengan anestesi lokal untuk kasus sederhana, namun pada kasus yang lebih kompleks, seperti impaksi molar yang melibatkan dua sisi, anestesi umum dengan opioid sering digunakan. Penggunaan opioid dalam anestesi dan manajemen nyeri memang terbukti efektif, tetapi sering kali disertai dengan efek samping serius, seperti depresi pernapasan, hipotensi, mual, muntah, dan konstipasi. Untuk itu, teknik anestesi bebas opioid atau opioid-free anesthesia (OFA) telah berkembang, dengan pendekatan multimodal analgesia yang menggunakan obat-obatan anestetik dalam dosis subanestetik dikombinasikan dengan obat lain yang memiliki sifat analgesik. Artikel ini membahas penggunaan OFA pada prosedur odontektomi ganda untuk manajemen nyeri pascaoperasi yang efektif dan mengurangi ketergantungan pada opioid.
Kasus yang dilaporkan melibatkan seorang wanita berusia 21 tahun dengan impaksi bilateral molar ketiga yang menyebabkan rasa sakit hebat dan kesulitan mengunyah. Sebelum prosedur, dilakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium yang semuanya normal. Pasien setuju untuk menjalani prosedur menggunakan teknik OFA. Pada pra-anestesi, pasien diberikan 1.000 mg paracetamol intravena sekitar 20 menit sebelum operasi. Anestesi dimulai dengan pemberian propofol 1-2 mg/kg, atrakurium 0,5 mg/kg, dan lidokain 1,5 mg/kg sebelum intubasi. Pasien kemudian diintubasi menggunakan tabung endotrakeal non-kink ukuran 6,5 Fr. Setelah intubasi, diberikan ketorolac 30 mg IV, dexametason 10 mg IV, dan ketamin 0,3 mg/kg. Pemeliharaan anestesi dilakukan dengan isoflurane 1-1,5% dan lidokain 1,5 mg/kg/jam selama dua jam prosedur. Selama prosedur, tidak ada perubahan hemodinamik yang signifikan yang tercatat. Pasien menunjukkan stabilitas vital pascaoperasi, tanpa tanda-tanda toksisitas lidokain, mual, muntah, atau desaturasi oksigen. Setelah bangun dari anestesi, pasien melaporkan tingkat nyeri minimal (VAS 1-2) dan dikelola dengan paracetamol 500 mg oral setiap 6 jam serta ketorolac 30 mg IV. Empat jam pascaoperasi, pasien tidak merasa mual atau muntah dan mulai makan secara oral. Enam jam setelah operasi, pasien melaporkan nyeri sedang (VAS 3-4) yang dikelola dengan tambahan 1.000 mg paracetamol IV, menurunkan tingkat nyeri menjadi VAS 1-2. Pasien dibawa pulang pada hari berikutnya tanpa keluhan atau masalah signifikan selama pemeriksaan fisik.
Teknik OFA yang diterapkan dalam prosedur ini menunjukkan hasil yang sangat baik dalam manajemen nyeri pascaoperasi, tanpa efek samping dari opioid. Pendekatan multimodal dengan pemberian analgesik sebelum nyeri dimulai (preemptive analgesia), serta penggunaan anestesi lokal dan obat-obatan antiinflamasi seperti paracetamol, ketorolac, dan ketamin, terbukti efektif dalam mengurangi kebutuhan opioid dan meningkatkan kenyamanan pasien pascaoperasi. Teknik ini juga mengurangi insiden mual pascaoperasi dan meningkatkan pemulihan pasien dengan cepat. Meskipun beberapa pasien mungkin mengalami kedinginan pascaoperasi, gejala ini dapat diatasi dengan penanganan yang tepat, seperti penggunaan selimut pemanas. Oleh karena itu, penggunaan OFA dapat menjadi pilihan yang sangat baik dalam prosedur yang melibatkan anestesi umum, mengingat efisiensinya dalam mengurangi ketergantungan opioid dan meminimalkan risiko efek samping.
Teknik anestesi bebas opioid (OFA) terbukti efektif dan aman dalam prosedur odontektomi ganda. Dengan pendekatan multimodal analgesia yang mencakup preemptive analgesia dan infus lidokain intraoperatif, manajemen nyeri baik selama operasi maupun pascaoperasi dapat dilakukan dengan baik tanpa ketergantungan pada opioid. Selain itu, teknik ini mengurangi insiden mual, muntah, dan efek samping terkait opioid lainnya, serta mempercepat pemulihan pasien. Oleh karena itu, OFA dapat menjadi alternatif yang sangat baik untuk prosedur pembedahan gigi yang lebih kompleks dan meningkatkan kualitas hidup pasien pascaoperasi.
Penulis: Herdiani Sulistyo Putri, dr., Sp.An-TI., FIP
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Ayudha R, Putri HS. Opioid Free Anesthesia at Multiple Odontectomy Procedure-A Case Report. Bulletin of Stomatology and Maxillofacial Surgery. 2025;21(6):46–8.





