Universitas Airlangga Official Website

Kerusakan Otot dan Pemulihan Kekuatan Otot pada Atlet Bola Basket Non-Professional dan Professional

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Dilaporkan bahwa, olahraga bola basket di Indonesia sekarang ini terlihat perkembangannya yang sangat pesat mulai dari kalangan anak-anak sampai kalangan tua dapat ikut menikmati olahraga ini. Bahkan di Indonesia olahraga basket juga banyak diminati mulai dari usia anak-anak hingga usia dewasa. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya sekolah atau klub olahraga basket di Surabaya ikut terlibat dalam tournament bola basket. Olahraga basket dimainkan oleh dua tim yang saling menyerang dan bertahan untuk meraih kemenangan. Seorang pemain bola basket harus mempunyai kekuatan otot yang tinggi, kekuatan otot berperan penting dalam berbagai gerakan saat pertandingan, seperti jumping, landing, sprinting, shooting, dribbling, throwing, dan passing.

Padatnya jadwal pertandingan berpotensi menyebabkan penurunan performa dan kelelahan. Gerak dasar olahraga basket merupakan gerakan kontraksi isotonik dimana otot berkontraksi secara konsentrik dan eksentrik. Aktivitas eksentrik berpotensi menimbulkan kerusakan otot rangka, rasa nyeri dan menurunkan kekuatan otot. Berdasarkan hal tersebut, telah dilakukan penelitian dengan tujuan untuk menganalisis perbedaan penanda kerusakan otot (CK-MM), kekuatan otot lengan, tungkai, dan punggung antara kelompok atlet basket non-professional dengan atlet basket professional.

Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Subjek terdiri dari 2 kelompok yaitu kelompok atlet non-professional dan kelompok atlet professional. Semua subjek menandatangani informed consent penelitian dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Jumlah masing-masing kelompok adalah 10 pada awalnya. Namun setelah dilakukan analisis outlayer dengan SPSS berdasarkan kadar CK-MM, terdapat 1 partisipan dari kelompok professional yang masuk dalam area outlayer, yang diduga akibat ketidakpatuhan partisipan, sehingga di-drop out. Sehubungan dengan hal tersebut, 1 partisipan dari kelompok non-professional dikeluarkan dengan cara diundi. Jadi terdapat 9 partisipan pada tiap kelompok. Kelompok atlet non-professional rutin berlatih 3x/minggu, sedangkan kelompok atlet professional rutin berlatih 10x/minggu. Sebelum pertandingan dimulai, semua subjek tidak diperbolehkan melakukan latihan intensitas sedang atau tinggi sejak 24 jam sebelum pertandingan hingga penelitian selesai. Hal ini dilakukan untuk menghindari bias pada hasil pemeriksaan biomarker darah. Pertandingan bola basket dilakukan 5 vs 5 dilaksanakan sesuai standar FIBA (Atlet professional vs Atlet professional;  Atlet non professional vs Atlet non professional). Subjek melakukan pemanasan selama 5 menit di bawah bimbingan instruktur sebelum pertandingan dimulai. Pertandingan bola basket dimainkan selama 4 kuarter (4×10) selama 40 menit. Antar kuarter ada waktu istirahat 1 menit. Pertandingan bola basket dipandu oleh 3 orang wasit, yaitu wasit utama, wasit kedua, dan wasit skor. Lapangan yang digunakan untuk permainan distandarisasi untuk pertandingan bola basket dan memiliki suhu ruangan antara 20–22o C. Antropometri diukur untuk mengetahui berat badan, dan tinggi badan yang kemudian digunakan untuk menghitung body mass index (BMI). Pengukuran tinggi badan dilakukan menggunakan stadiometer portable SECA 213. Kekuatan otot lengan diukur menggunakan shoulder and arm dynamometer brand TTM dengan satuan kg. Sedangkan kekuatan otot tungkai dan punggung diukur menggunakan back and leg dynamometer brand takei 5002 dengan satuan kg. Kadar CK-MM diambil dari vena cubiti sebanyak 3 cc dan dianalisis menggunakan Human CKM Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) Kit BT LAB dengan satuan U/L. Analisis darah dilakukan di laboratorium penelitian RS Universitas Airlangga. Pengukuran kekuatan otot dan pengambilan darah dilakukan sebanyak 3 kali yaitu sebelum pertandingan, 1 jam dan 1 hari setelah pertandingan bola basket.

Hasil analisis tingkat kerusakan otot melalui kadar CK-MM sebelum pertandingan, 1 jam dan 1 hari setelah pertandingan antara kelompok atlet professional dengan kelompok atlet non professional tidak mengalami perbedaan. Rata-rata kadar CK-MM 1 jam setelah pertandingan mengalami penurunan dan tidak mengalami peeningkatan sampai puncaknya setelah 1 hari. Hasil kekuatan otot lengan gerakan pull dan push kelompok atlet professional memiliki nilai kekuatan yang lebih besar dari pada kelompok atlet non professional. Hasil kekuatan otot tungkai dan punggung sebelum pertandingan, 1 jam dan 1 hari setelah pertandingan kelompok atlet professional memiliki nilai kekuatan yang lebih besar dari pada kelompok atlet non professional.

Studi ini menyimpulkan, atlet professional memiliki kekuatan yang lebih baik dibandingkan dengan atlet non professional. Namun, sebelum dan setelah pertandingan CK tampak tidak berbeda pada kedua kelompok. Perubahan penanda kerusakan otot dari waktu ke waktu pada atlet professional dan atlet non professional juga menunjukkan pola yang serupa. Hal ini menunjukkan bahwa atlet non professional memiliki kondisi yang baik sebagai orang yang aktif. Namun rata-rata kadar CK-MM 1 hari setelah pertandingan pada kedua kelompok terlihat mengalami peningkatan.

Penulis: Eby Mahbubi, S.Ft., M.Kes dan Prof. Dr. Lilik Herawati, dr., M.Kes

Informasi detail bisa didapatkan pada hasil riset kami di link:

https://tmfv.com.ua/journal/article/view/3549

Mahbubi, E., Herawati, L., Tinduh, D., Irwadi, I., Argarini, R., Sari, G. M., Azmy, U., & Mohd Zaki, N. A.

(2025). Analyzing Muscle Damage (CK-MM) and Recovery of Muscle Strength between Non-Professional and Professional Basketball Athletes. Physical Education Theory and Methodology, 25(4), 938-944. https://doi.org/10.17309/tmfv.2025.4.23