Universitas Airlangga Official Website

Robeknya Sekat Jantung Pasca Serangan Jantung: Tantangan Besar dalam Dunia Bedah Jantung

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Robeknya sekat jantung atau ruptur septum ventrikel merupakan komplikasi langka namun sangat berbahaya yang dapat terjadi setelah serangan jantung akut. Kondisi ini muncul ketika jaringan otot jantung yang rusak akibat kekurangan aliran darah menjadi rapuh dan akhirnya robek. Sekat jantung yang seharusnya memisahkan bilik kanan dan kiri menjadi berlubang, sehingga aliran darah menjadi tidak normal. Akibatnya, jantung tidak mampu memompa darah secara efektif ke seluruh tubuh, yang dapat menyebabkan gagal jantung, penurunan tekanan darah, hingga syok kardiogenik yang mengancam nyawa.

Meskipun hanya terjadi pada sekitar 0,2 persen pasien pasca serangan jantung, ruptur septum ventrikel memiliki tingkat kematian yang tinggi. Pasien biasanya datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri dada, sesak napas, dan tekanan darah yang sangat rendah. Kondisi ini menandakan bahwa jantung sudah tidak mampu bekerja secara optimal. Diagnosis biasanya ditegakkan melalui pemeriksaan USG jantung atau ekokardiografi yang dapat menunjukkan adanya lubang pada sekat jantung serta gangguan aliran darah di dalam jantung. Satu-satunya terapi yang dapat menyelamatkan nyawa pasien dengan kondisi ini adalah operasi jantung. Namun, operasi tersebut tergolong sangat berisiko karena sebagian besar pasien sudah berada dalam kondisi tidak stabil. Jaringan jantung yang rusak masih rapuh sehingga sulit dijahit, dan pasien sering membutuhkan obat-obatan untuk mempertahankan tekanan darah. Beberapa pasien juga memerlukan alat bantu pompa jantung, seperti intra-aortic balloon pump, untuk membantu kerja jantung selama masa kritis.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya, melaporkan pengalaman penanganan lima pasien laki-laki berusia 44 hingga 63 tahun yang mengalami ruptur septum ventrikel setelah serangan jantung. Sebagian besar pasien mengalami serangan jantung di bagian ujung jantung atau daerah apikal, yang dikenal sebagai area dengan tekanan tinggi dan lebih rentan mengalami robekan. Ukuran robekan yang ditemukan bervariasi, mulai dari 0,55 cm hingga 3 cm. Semakin besar robekan, semakin berat gangguan yang dialami pasien.S emua pasien dalam penelitian ini menjalani operasi jantung terbuka dengan bantuan mesin jantung-paru. Lubang pada sekat jantung ditutup menggunakan tambalan khusus dari bahan sintetis atau jaringan biologis. Pada beberapa pasien, dokter juga melakukan operasi bypass jantung secara bersamaan karena terdapat penyumbatan berat pada pembuluh darah koroner. Waktu pelaksanaan operasi bervariasi antara 12 hingga 29 hari setelah diagnosis, tergantung pada kondisi klinis masing-masing pasien. Pasien yang sangat tidak stabil harus dioperasi lebih cepat, sementara pasien yang lebih stabil menunggu agar jaringan jantung lebih kuat sebelum diperbaiki.

Hasil perawatan menunjukkan bahwa empat dari lima pasien berhasil selamat, sehingga tingkat kelangsungan hidup mencapai 80 persen. Namun, hampir semua pasien mengalami komplikasi serius setelah operasi. Gangguan fungsi ginjal akut merupakan komplikasi yang paling sering terjadi. Selain itu, beberapa pasien mengalami syok kardiogenik, penurunan kekuatan pompa jantung, penumpukan cairan di rongga dada, serta infeksi paru-paru. Satu pasien meninggal pada hari ke-10 setelah operasi akibat kombinasi komplikasi berat, termasuk gangguan irama jantung, infeksi paru, gagal ginjal, dan syok kardiogenik.Lama perawatan di rumah sakit berkisar antara 8 hingga 16 hari. Pasien dengan komplikasi lebih berat memerlukan perawatan lebih lama dan pemantauan ketat di ruang perawatan intensif. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan operasi tidak hanya bergantung pada teknik bedah, tetapi juga pada kualitas perawatan setelah operasi, termasuk pengawasan fungsi jantung, ginjal, dan pernapasan.

Robeknya sekat jantung terjadi karena jaringan otot yang mati akibat serangan jantung kehilangan kekuatannya. Ketika tekanan darah dalam jantung meningkat, jaringan tersebut dapat robek seperti kertas basah. Setelah robekan terjadi, darah yang seharusnya mengalir ke seluruh tubuh justru kembali ke paru-paru, sehingga pasokan oksigen ke organ-organ vital berkurang drastis. Kondisi ini dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian jika tidak segera ditangani. Penelitian ini menegaskan bahwa ruptur septum ventrikel adalah kondisi darurat yang memerlukan tindakan cepat, operasi yang tepat, dan perawatan intensif. Meskipun operasi memiliki risiko tinggi, tindakan ini tetap menjadi satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan pasien. Penanganan yang cepat, pemilihan waktu operasi yang tepat, serta fasilitas medis yang memadai sangat menentukan peluang hidup pasien.

Kesimpulannya, robeknya sekat jantung setelah serangan jantung merupakan komplikasi yang sangat berbahaya tetapi masih dapat ditangani dengan pendekatan yang tepat. Studi dari Surabaya menunjukkan bahwa sebagian besar pasien dapat diselamatkan, meskipun risiko komplikasi tetap tinggi. Ke depan, diperlukan penelitian lanjutan untuk menentukan strategi operasi dan perawatan yang lebih aman agar angka kematian akibat kondisi ini dapat terus ditekan.

Penulis:

Link: Yan Efrata Sembiring, dr., Sp.B(K)TKV.

Sumber: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/surgical-management-and-postoperative-outcomes-of-ventricular-sep/

Sukanto DY, Efrata Sembiring Y, Revianto O. Surgical Management and Postoperative Outcomes of Ventricular Septal Rupture Following Acute Myocardial Infarction: A Case Series. Cor Vasa. 2025;67(5):597-600. doi: 10.33678/cor.2025.067.