Universitas Airlangga Official Website

Potensi Kunyit/Kurkumin sebagai Model Antioksidan untuk Pematangan Sel Telur pada Teknologi Bayi Tabung

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya menjadi “si anak tunggal” di laboratorium? Dalam dunia biologi reproduksi, sel telur biasanya harus hidup berkelompok agar bisa berkembang dengan baik. Namun dalam penelitian terbaru kami, berhasil menciptakan sistem di mana satu sel telur babi bisa tumbuh mandiri hingga menjadi embrio.

Mengapa Sel Telur Harus “Mandiri”?

Biasanya, para ilmuwan mematangkan sel telur dalam kelompok besar karena sel-sel tersebut saling memberikan dukungan nutrisi dan perlindungan. Namun, cara ini menyulitkan peneliti jika ingin mengamati kualitas satu sel telur secara spesifik, terutama untuk kebutuhan khusus seperti: Pelestarian hewan langka di mana jumlah sel telur sangat terbatas; Modifikasi genetik untuk kebutuhan medis atau peternakan; serta Evaluasi kualitas individu tanpa pengaruh dari sel telur lainnya.

Kunyit: Sang Pelindung dari Stres

Masalah utama saat sel telur sendirian adalah stres oksidatif. Tanpa teman di sekitarnya, sel telur lebih mudah rusak akibat lingkungan laboratorium yang keras. Di sinilah Kurkumin—zat aktif dari kunyit—masuk sebagai pahlawan. Kurkumin berfungsi sebagai antioksidan yang menjaga sel telur dari kerusakan DNA. Dalam penelitian ini, kami mencoba memberikan “jamu” kurkumin ini ke dalam tetesan media tempat sel telur tumbuh.

Hasil yang Mengejutkan

Penelitian ini menggunakan tetesan cairan sangat kecil (mikrodroplet) berukuran 20 mikroliter untuk satu sel telur. Berikut adalah temuan menariknya:

  1. Peningkatan Keberhasilan: Dengan dosis 10 µM kurkumin, tingkat pematangan sel telur meningkat signifikan dibandingkan tanpa kurkumin.
  2. Menjadi Embrio: Sel telur yang diberi kurkumin dalam sistem mandiri ini berhasil berkembang menjadi blastokis (tahap awal embrio) dengan angka keberhasilan 7,0%, jauh lebih tinggi dibanding tanpa kurkumin yang hanya 2,3%.
  3. Setara dengan Kelompok: Menariknya, kualitas embrio yang tumbuh sendirian ini ternyata hampir sama dengan embrio yang tumbuh beramai-ramai dalam sistem kultur biasa.

Meski angka keberhasilannya terlihat kecil, ini adalah langkah besar bagi ilmu pengetahuan. Penelitian ini membuktikan bahwa dengan perlindungan antioksidan yang tepat (seperti kurkumin), satu sel telur babi tetap bisa bertahan hidup dan berkembang tanpa perlu “teman” di sisinya. Teknologi ini membuka jalan baru untuk pengobatan reproduksi dan pelestarian genetik yang lebih presisi di masa depan.

Oky Setyo Widodo, drh., M.Si., Ph.D.

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga