Universitas Airlangga Official Website

Kolaborasi UNAIR–UNUSA Gunakan Pemodelan Sistem Dinamik untuk Mengungkap Potensi Emisi CO2 di Dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya merupakan salah satu simpul utama transportasi laut di Indonesia. Aktivitas kapal penumpang dan roll on-roll off (Ro-Ro) yang tinggi mendukung distribusi logistik dan mobilitas masyarakat antarwilayah. Namun, aktivitas tersebut juga menghasilkan emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar kapal saat bersandar di dermaga. Persoalan ini kini menjadi perhatian peneliti karena berpotensi berdampak pada kualitas lingkungan pesisir dan kesehatan masyarakat.

Studi kolaboratif yang melibatkan peneliti dari Universitas Airlangga (UNAIR) dan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) menganalisis emisi karbon dioksida (CO₂) dari aktivitas sandar kapal di Dermaga Jamrud Utara menggunakan pendekatan pemodelan sistem dinamik. Hasil penelitian menunjukkan total emisi mencapai sekitar 10,5 juta kg CO₂ pada 2021 dan sekitar 10,3 juta kg CO₂ pada 2022, dengan kapal penumpang menjadi penyumbang terbesar karena kebutuhan energi listrik yang tinggi selama berada di pelabuhan. Besarnya emisi dipengaruhi oleh jumlah kapal yang datang, ukuran kapal, durasi sandar, serta konsumsi bahan bakar selama operasional di dermaga.

Penelitian juga menemukan bahwa tren peningkatan aktivitas transportasi laut berpotensi mendorong kenaikan emisi di masa depan. Melalui simulasi hingga 2030, total emisi diproyeksikan dapat meningkat hingga sekitar 16 juta kg CO₂ jika tidak ada intervensi kebijakan dan efisiensi operasional pelabuhan. Lonjakan jumlah kapal, pertumbuhan sektor logistik, serta kebutuhan layanan transportasi laut menjadi faktor yang memperkuat tren tersebut.

Sebagai solusi, peneliti mengusulkan strategi pengurangan durasi sandar kapal sebagai langkah paling efektif menekan emisi. Simulasi menunjukkan bahwa pengurangan waktu sandar sebesar 15% dapat menurunkan emisi sekitar 17%, sedangkan pengurangan 20% berpotensi menekan hingga 25%. Optimalisasi jadwal kapal, percepatan proses bongkar muat, serta peningkatan manajemen operasional pelabuhan menjadi kunci implementasi strategi ini.

Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan pelabuhan tidak hanya berkaitan dengan efisiensi layanan dan arus logistik, tetapi juga memiliki implikasi langsung terhadap upaya pengendalian perubahan iklim. Aktivitas kapal saat bersandar terbukti menjadi salah satu sumber emisi yang signifikan karena mesin tetap beroperasi untuk memenuhi kebutuhan energi di atas kapal. Oleh karena itu, pengendalian emisi di area pelabuhan menjadi langkah strategis dalam mendukung target penurunan emisi nasional sektor transportasi.

Ke depan, kolaborasi erat antara pengelola pelabuhan, pemerintah, dan kalangan akademisi menjadi kunci dalam mendorong inovasi operasional yang lebih ramah lingkungan. Penerapan teknologi efisiensi energi, digitalisasi layanan kepelabuhanan, serta penguatan kebijakan berbasis data dapat menjadi fondasi bagi pembangunan sistem transportasi laut yang berkelanjutan. Melalui langkah tersebut, pertumbuhan ekonomi maritim diharapkan dapat terus bergerak maju tanpa mengabaikan tanggung jawab menjaga kualitas lingkungan pesisir dan atmosfer.

Oleh: Dr. Nurina Fitriani, S.T., Dosen Prodi S1 Teknik Lingkungan, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga

https://www.jeeng.net/System-dynamics-modelling-for-greenhouse-gas-emissions-from-passenger-and-roll-on,208543,0,2.html