Penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dalam peternakan unggas telah lama menjadi praktik umum di berbagai negara. Antibiotik tidak hanya digunakan untuk mengobati penyakit, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi pertumbuhan ayam broiler sehingga produksi daging menjadi lebih cepat dan lebih tinggi. Namun dalam beberapa dekade terakhir, praktik ini mulai mendapat perhatian serius dari para peneliti dan pembuat kebijakan karena penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat memicu munculnya bakteri yang resisten terhadap obat. Resistensi antimikroba menjadi ancaman global karena bakteri yang kebal terhadap antibiotik dapat menyebar melalui rantai makanan dan lingkungan, sehingga berdampak pada kesehatan manusia.
Karena alasan tersebut, banyak negara mulai membatasi bahkan melarang penggunaan antibiotik sebagai growth promoter pada ternak. Larangan ini mendorong para peneliti mencari alternatif yang lebih aman untuk menjaga kesehatan dan performa ternak. Salah satu pendekatan yang semakin banyak dikaji adalah penggunaan probiotik, yaitu mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan bagi inangnya ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Dalam sistem pencernaan unggas, probiotik membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus, meningkatkan kemampuan pencernaan pakan, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Bakteri dari genus Lactobacillus termasuk kelompok probiotik yang paling sering digunakan dalam penelitian unggas. Beberapa spesies seperti Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus acidophilus diketahui memiliki kemampuan untuk menekan pertumbuhan mikroorganisme patogen di dalam usus. Bakteri ini menghasilkan asam organik yang menurunkan pH saluran pencernaan sehingga lingkungan usus menjadi kurang menguntungkan bagi bakteri berbahaya seperti Escherichia coli atau Salmonella. Selain itu, probiotik juga dapat merangsang produksi enzim pencernaan sehingga nutrisi dalam pakan lebih mudah diserap oleh tubuh ayam.
Sebuah penelitian terbaru mencoba mengeksplorasi pendekatan yang menarik dengan menggunakan bahan pangan lokal sebagai media kultur probiotik. Dalam penelitian tersebut, bakteri Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus acidophilus dikultur menggunakan dua bahan yang sangat dikenal dalam pangan masyarakat, yaitu tempe dan ubi jalar. Kedua bahan ini dipilih karena memiliki kandungan nutrisi yang dapat mendukung pertumbuhan bakteri probiotik. Tempe merupakan produk fermentasi kedelai yang kaya protein, peptida bioaktif, serta senyawa antioksidan. Sementara itu, ubi jalar mengandung karbohidrat kompleks dan oligosakarida yang dapat berfungsi sebagai prebiotik, yaitu sumber makanan bagi bakteri probiotik.
Penelitian ini dilakukan pada ayam broiler yang dipelihara selama masa pertumbuhan. Ayam dibagi ke dalam beberapa kelompok perlakuan yang berbeda. Kelompok kontrol hanya diberikan air minum biasa, sedangkan kelompok lainnya menerima probiotik melalui air minum yang telah dikultur menggunakan infus tempe atau infus ubi jalar. Selama masa pemeliharaan, para peneliti memantau berbagai parameter performa produksi seperti pertambahan berat badan harian (Average Daily Gain) dan berat badan akhir (Final Body Weight).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik mampu meningkatkan performa pertumbuhan ayam broiler dibandingkan kelompok kontrol. Ayam yang menerima probiotik memiliki pertambahan berat badan harian yang lebih tinggi serta berat badan akhir yang lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa probiotik membantu ayam memanfaatkan nutrisi pakan dengan lebih efisien. Ketika keseimbangan mikroorganisme di dalam usus terjaga dengan baik, proses pencernaan menjadi lebih optimal dan penyerapan nutrien meningkat.
Di antara dua media kultur yang digunakan, probiotik yang dikultur menggunakan tempe menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan yang menggunakan ubi jalar. Hal ini diduga karena tempe memiliki kandungan protein dan metabolit hasil fermentasi yang dapat mendukung pertumbuhan bakteri probiotik secara lebih optimal. Selain itu, tempe juga mengandung berbagai senyawa bioaktif yang dapat membantu meningkatkan kesehatan saluran pencernaan.
Selain meningkatkan performa pertumbuhan, penelitian ini juga melihat kondisi kesehatan saluran pencernaan ayam dengan memeriksa keberadaan parasit usus melalui analisis feses. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian probiotik dapat menurunkan jumlah telur cacing tertentu dalam feses ayam, terutama parasit Heterakis gallinarum. Temuan ini menunjukkan bahwa probiotik mungkin memiliki peran tidak langsung dalam membantu mengendalikan infeksi parasit melalui peningkatan kesehatan usus dan sistem kekebalan tubuh.
Meskipun demikian, efek probiotik terhadap parasit tidak bersifat universal untuk semua jenis cacing. Beberapa jenis parasit lain tidak menunjukkan penurunan yang signifikan selama percobaan. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi antara probiotik, mikrobiota usus, dan parasit merupakan proses yang kompleks dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dipahami secara lebih mendalam.
Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan gambaran menarik tentang potensi penggunaan probiotik berbasis bahan pangan lokal sebagai alternatif pengganti antibiotik dalam produksi unggas. Tempe dan ubi jalar bukan hanya bahan pangan bernilai gizi tinggi bagi manusia, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media pengembangan probiotik yang murah dan mudah diperoleh. Pendekatan ini memiliki nilai strategis terutama bagi negara berkembang yang memiliki sumber daya pertanian melimpah.
Di masa depan, pengembangan probiotik berbasis bahan lokal berpotensi menjadi salah satu solusi penting untuk menciptakan sistem peternakan yang lebih berkelanjutan. Dengan mengurangi ketergantungan pada antibiotik, industri peternakan tidak hanya dapat meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak, tetapi juga berkontribusi dalam upaya global mengurangi risiko resistensi antimikroba. Inovasi sederhana yang berakar dari bahan pangan tradisional seperti tempe dan ubi jalar dapat membuka jalan bagi pendekatan baru dalam menjaga keseimbangan antara produktivitas peternakan dan kesehatan masyarakat.
Penulis: Herinda Pertiwi, drh., M.Si.
Link artikel: https://scij-tmvm.com/vol./vol.10/2/VM-10_2-2025%2819%29-65-73.pdf





