Tuntutan terhadap dosen di perguruan tinggi terus meningkat. Mereka tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga meneliti, melakukan pengabdian kepada masyarakat, beradaptasi dengan teknologi, dan merespons perubahan institusi yang makin cepat. Dalam situasi seperti ini, kesejahteraan kerja dosen menjadi isu penting karena berpengaruh pada kualitas hidup, suasana akademik, dan mutu pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.
Salah satu perilaku yang dinilai penting dalam menghadapi perubahan itu adalah championing behavior. Istilah ini merujuk pada perilaku proaktif untuk mendorong ide, mendukung inovasi, membangun jejaring, bertahan menghadapi hambatan, dan mengambil tanggung jawab agar sebuah gagasan benar-benar berjalan. Di lingkungan kampus, perilaku ini penting karena dosen bukan hanya pelaksana tugas akademik, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan yang membantu institusi bergerak lebih adaptif dan kolaboratif.
Riset terbaru yang dilakukan pada dosen di Indonesia menunjukkan bahwa championing behavior berhubungan positif dengan occupational well-being atau kesejahteraan kerja. Artinya, dosen yang lebih berani mengusulkan gagasan, mendukung pembaruan, dan mengambil inisiatif dalam pekerjaan cenderung memiliki kesejahteraan kerja yang lebih tinggi. Mereka lebih mungkin merasakan makna dalam pekerjaan, kepuasan kerja, serta pengalaman emosional yang lebih positif dalam menjalankan perannya sebagai pendidik.
Temuan ini penting karena selama ini pembahasan kesejahteraan kerja dosen lebih sering dikaitkan dengan beban kerja, kesehatan mental, dukungan organisasi, atau gaya kepemimpinan. Penelitian ini menambah sudut pandang baru: perilaku proaktif yang mendukung perubahan ternyata juga berperan dalam membentuk kesejahteraan kerja dosen. Dengan kata lain, dosen yang aktif terlibat dalam perubahan bukan hanya membantu institusi, tetapi juga berpotensi memperoleh pengalaman kerja yang lebih bermakna.
Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Partisipannya adalah 37 dosen yang dipilih menggunakan criterion sampling. Kriteria responden meliputi usia 25–55 tahun, memiliki pengalaman kerja minimal dua tahun, dan berstatus dosen tetap maupun tidak tetap, termasuk PNS, non-PNS, dan ASN. Penelitian mengukur dua variabel utama, yaitu championing behavior sebagai variabel bebas dan occupational well-being sebagai variabel terikat.
Instrumen penelitian telah melalui pengujian validitas dan reliabilitas, termasuk Confirmatory Factor Analysis (CFA), Cronbach’s Alpha, dan Composite Reliability. Data kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana dengan bantuan SPSS versi 30.0.
Hasil
Hasil penelitian menunjukkan bahwa championing behavior berpengaruh positif dan signifikan terhadap occupational well-being pada dosen. Nilai koefisien beta tercatat sebesar 0,592 dengan signifikansi p < 0,001. Selain itu, nilai R² sebesar 0,350 menunjukkan bahwa 35% variasi kesejahteraan kerja dosen dapat dijelaskan oleh championing behavior, sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain di luar penelitian ini.
Secara lebih sederhana, hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kecenderungan dosen untuk memperjuangkan ide, mendukung inovasi, dan mengambil inisiatif dalam pekerjaan, semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan kerjanya. Perilaku proaktif tersebut tampaknya memberi pengalaman psikologis yang positif, seperti rasa berarti, bangga, puas, dan merasa kontribusinya selaras dengan kemajuan institusi.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa championing behavior bukan hanya menguntungkan organisasi karena mendorong inovasi, tetapi juga bermanfaat bagi individu. Dosen yang aktif menyuarakan gagasan dan terlibat dalam perubahan cenderung merasa lebih terhubung dengan pekerjaannya. Di sisi lain, dosen yang pasif terhadap lingkungan kerja dapat kehilangan kesempatan untuk merasakan makna dan kepuasan yang lebih besar dalam pekerjaan sehari-hari.
Bagi perguruan tinggi, temuan ini memberi pesan yang jelas. Kampus perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung keterbukaan terhadap ide baru, memberi ruang bagi dosen untuk berinisiatif, serta menyediakan pengakuan terhadap kontribusi positif mereka. Komunikasi yang transparan, budaya kerja yang suportif, dan apresiasi terhadap inovasi dapat menjadi fondasi penting untuk menumbuhkan championing behavior sekaligus meningkatkan kesejahteraan kerja dosen.
Ke depan, penelitian serupa masih perlu dikembangkan dengan jumlah responden yang lebih besar dan cakupan perguruan tinggi yang lebih luas, baik negeri maupun swasta. Peneliti juga menyarankan agar studi berikutnya memasukkan variabel lain, seperti perceived organizational support, psychological empowerment, atau job satisfaction, agar pemahaman tentang kesejahteraan kerja dosen menjadi lebih komprehensif.
Penulis
Meita Santi Budiani, Onny Fransinata Anggara, Wiwin Yulianingsih, Aprilia Najla Kumala Abdi, Muhammad Hanif Ardiansyah Setiawan, Rahkman Ardi, & Seger Handoyo
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada artikel:
Budiani, M. S., Anggara, O. F., Yulianingsih, W., Abdi, A. N. K., Setiawan, M. H. A., Ardi, R., & Handoyo, S. (2025). The Role of Championing Behavior on the Lecturers’ Occupational Well-Being. Journal of Organizational Behavior Research, 10(4), 85–95. https://doi.org/10.51847/MRJp1GdTQ3





