Universitas Airlangga Official Website

Limbah Nanas untuk Membersihkan Kerang dari Timbal

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Daerah pantai bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga sumber penghidupan bagi nelayan dan pedagang hasil laut. Salah satu komoditas andalannya adalah kerang darah. Namun, di balik potensi ekonomi tersebut, ada tantangan serius yang sering luput dari perhatian: pencemaran logam berat, terutama timbal (Pb).

Aktivitas rumah tangga dan industri di kawasan pesisir berkontribusi terhadap masuknya berbagai polutan ke laut. Logam berat seperti timbal bersifat toksik dan tidak mudah terurai. Ia dapat mengendap di sedimen dan terakumulasi dalam tubuh organisme laut. Dalam jangka panjang, paparan timbal pada manusia dapat menyebabkan anemia, gangguan saraf, kerusakan hati dan ginjal, bahkan gangguan perkembangan pada anak.

Kerang darah (Anadara granosa) termasuk organisme yang rentan terhadap pencemaran ini. Sebagai hewan penyaring (filter feeder) yang hidup menetap di dasar perairan, kerang menyaring air untuk mendapatkan makanan. Proses tersebut membuatnya mudah menyerap partikel logam berat yang terbawa air maupun yang mengendap di dasar laut.

Jika kadar timbal dalam kerang melebihi ambang batas aman, risiko kesehatan berpindah ke konsumen. Standar Nasional Indonesia menetapkan batas maksimum cemaran timbal pada kerang sebesar 1,5 mg/kg. Karena itu, diperlukan upaya untuk menurunkan kadar logam berat sebelum produk dikonsumsi masyarakat.

Menariknya, solusi potensial justru berasal dari limbah pertanian yang selama ini kurang dimanfaatkan: nanas. Indonesia merupakan salah satu produsen nanas terbesar, dengan produksi jutaan ton setiap tahun. Namun, bagian daun mahkota dan kulit nanas sering kali dibuang.

Padahal, tanaman nanas (Ananas comosus) menyimpan kandungan kimia yang bermanfaat. Daun mahkotanya kaya selulosa, senyawa berserat yang mengandungmemiliki gugus hidroksil (–OH). Gugus ini mampu berikatan dengan ion logam sehingga berperan sebagai adsorben alami. Sementara itu, kulit nanas mengandung asam sitrat dalam jumlah tinggi. Asam sitrat memiliki gugus karboksil (–COOH) yang dapat bertindak sebagai agen pengkelat, yakni senyawa yang “menangkap” ion logam dan membentuk kompleks larut sehingga lebih mudah terlepas.

Dalam penelitian eksperimental, kerang darah yang telah dipaparkan timbal direndam dalam ekstrak campuran daun mahkota dan kulit nanas dengan dua perbandingan 1:1 dan 1:2. Hasilnya menunjukkan keduanya efektif menurunkan kadar timbal. Campuran 1:1 menurunkan kadar timbal sebesar 59 persen, sedangkan campuran 1:2 mampu menurunkannya hingga 63,2 persen. Secara statistik, perbedaan ini bermakna.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan proporsi kulit nanas yang kaya asam sitrat mampu meningkatkan proses pengikatan timbal. Kombinasi antara selulosa sebagai penyerap dan asam sitrat sebagai pengkelat menciptakan efek sinergis dalam menurunkan kadar logam berat.

Lebih dari sekadar hasil laboratorium, inovasi ini memiliki implikasi luas. Pertama, metode ini relatif sederhana dan berbiaya rendah sehingga berpotensi diterapkan di sentra pengolahan kerang. Kedua, pendekatan ini ramah lingkungan karena memanfaatkan bahan alami, bukan bahan kimia sintetis. Ketiga, pemanfaatan limbah nanas mendukung konsep ekonomi sirkular yaitu mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah.

Tentu, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan efektivitas pada skala yang lebih besar dan menilai aspek keamanan pangan secara menyeluruh. Namun, langkah awal ini menunjukkan bahwa solusi terhadap masalah pencemaran tidak selalu harus mahal atau bergantung pada teknologi canggih. Sumber daya lokal yang melimpah dapat menjadi bagian dari solusi.

Isu pencemaran logam berat adalah persoalan lingkungan sekaligus kesehatan masyarakat. Upaya meningkatkan keamanan pangan laut harus menjadi perhatian Bersama pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat. Inovasi berbasis nanas ini menjadi contoh bagaimana riset sederhana dapat memberikan harapan baru dalam menjaga kualitas pangan dan melindungi konsumen.

JuduL : Comparison of the Effectiveness of Pineapple Crown Leaf and Peel Extracts in Reducing Lead Levels in Anadara granosa

Penulsi: Baterun Kunsah, Gondho Mastutik, Nastiti Kartikorini, Diah Ariana

Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences (2025) 21(SUPP10):78-82. doi:10.47836/mjmhs.21.s10.16

Link Full text: https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2025112511264616.pdf