Universitas Airlangga Official Website

Studi Global Soroti Penyebaran Equine Viral Arteritis: Ancaman Tersembunyi pada Kuda

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Sebuah studi ilmiah terbaru mengungkap gambaran global terbaru tentang penyebaran penyakit Equine Viral Arteritis atau EVA pada populasi kuda di berbagai negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa virus ini masih menjadi ancaman nyata bagi kesehatan kuda dan industri peternakan kuda dunia.

Equine Viral Arteritis merupakan penyakit infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan dan reproduksi kuda. Virus penyebabnya dikenal sebagai equine arteritis virus dan hanya menyerang kelompok hewan berkuku satu seperti kuda, keledai, dan zebra. Penyakit ini berdampak besar karena mampu menyebabkan gangguan pernapasan, pembengkakan tubuh, hingga keguguran pada kuda betina bunting.

Studi global terbaru mengumpulkan dan menganalisis data epidemiologi dari berbagai negara selama puluhan tahun. Analisis tersebut menghasilkan gambaran tingkat penyebaran antibodi terhadap virus EVA pada populasi kuda dunia. Temuan ini memberikan bukti bahwa infeksi virus telah terjadi secara luas di banyak wilayah dan masih berpotensi menyebar tanpa terdeteksi.

Penelitian menunjukkan bahwa banyak kuda yang pernah terpapar virus tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas. Kondisi ini membuat penyakit sulit dikenali secara langsung di lapangan. Kuda yang tampak sehat tetap dapat menjadi sumber penyebaran virus ke kuda lain.

Penyebaran virus terjadi melalui dua jalur utama. Jalur pertama berasal dari udara melalui percikan pernapasan. Jalur kedua berasal dari cairan reproduksi terutama semen pejantan yang terinfeksi. Jalur reproduksi menjadi faktor penting dalam penyebaran penyakit pada peternakan pembibitan kuda karena virus dapat bertahan lama di saluran reproduksi pejantan.

Studi juga menunjukkan bahwa pejantan dewasa memiliki peran besar sebagai reservoir virus jangka panjang. Virus dapat bertahan dalam tubuh pejantan tanpa menimbulkan gejala berat. Kondisi ini meningkatkan risiko penyebaran penyakit melalui perkawinan alami maupun inseminasi buatan.

Analisis global menunjukkan adanya variasi tingkat paparan virus antarwilayah. Perbedaan ini berkaitan dengan sistem pemeliharaan, pergerakan kuda antarnegara, aktivitas olahraga berkuda, serta praktik reproduksi modern. Wilayah dengan mobilitas kuda tinggi menunjukkan potensi risiko penularan lebih besar dibandingkan wilayah dengan sistem pemeliharaan tradisional.

Faktor usia juga berperan dalam tingkat paparan virus. Kuda yang lebih tua menunjukkan kemungkinan lebih tinggi memiliki antibodi terhadap virus dibandingkan kuda muda. Kondisi ini mencerminkan akumulasi risiko paparan sepanjang umur hidup kuda.

Studi tersebut juga menegaskan pentingnya pengawasan kesehatan reproduksi pada pejantan sebagai strategi utama pencegahan penyebaran penyakit. Pemeriksaan laboratorium sebelum kegiatan pembibitan menjadi langkah penting untuk menekan risiko penularan.

Selain itu, vaksinasi menjadi salah satu upaya efektif dalam pengendalian penyakit. Program vaksinasi mampu menurunkan risiko penyebaran virus terutama pada populasi kuda dengan mobilitas tinggi seperti kuda pacu dan kuda olahraga. Pengaturan lalu lintas kuda antarwilayah juga menjadi strategi tambahan yang berperan penting dalam mencegah masuknya virus ke populasi baru.

Temuan studi global ini memberikan pesan kuat bahwa penyakit EVA masih menjadi ancaman tersembunyi bagi industri kuda dunia. Banyak kasus infeksi tidak terdeteksi karena tidak menimbulkan gejala jelas. Kondisi tersebut membuat pengawasan aktif dan pemeriksaan rutin menjadi sangat penting.

Hasil penelitian ini juga memperkuat kebutuhan kerja sama internasional dalam sistem pemantauan penyakit kuda. Pengendalian penyakit berbasis data epidemiologi global membantu melindungi kesehatan kuda sekaligus menjaga stabilitas ekonomi sektor peternakan dan olahraga berkuda.

Kesimpulan utama penelitian menunjukkan bahwa pemantauan rutin, pemeriksaan pejantan, vaksinasi, dan pengendalian lalu lintas kuda menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit EVA di masa depan.

Penulis: Muhammad Thohawi Elziyad Purnama, drh., M.Si.

Sumber: Firdausy, L. W., Fikri, F., Wicaksono, A. P., Maslamama, S. T., & Purnama, M. T. E. (2026). Global seroprevalence and epidemiological patterns of equine viral arteritis from 1968 to 2025: A systematic review and meta-analysis. Preventive Veterinary Medicine, 252, 106876. https://doi.org/10.1016/j.prevetmed.2026.106876

Link: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0167587726000954