Kepatuhan pengobatan yang rendah merupakan salah satu tantangan utama dalam pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 (T2DM) di daerah pedesaan, yang meningkatkan risiko komplikasi. Identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan sangat penting untuk meningkatkan manajemen penyakit.
Metode:
Studi potong lintang ini menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, yang mencakup 292 pasien T2DM di wilayah pedesaan yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel yang dianalisis meliputi faktor demografis dan faktor terkait kesehatan. Odds ratio (OR) dihitung untuk menilai hubungan dengan kepatuhan minum obat.
Hasil:
Laki-laki dan individu dengan tingkat pendidikan lebih rendah memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk tidak patuh—laki-laki (OR 1,41; p = 0,302), pendidikan dasar atau lebih rendah (OR 1,29; p = 0,618), sementara usia yang lebih tua cenderung terkait dengan kepatuhan yang lebih baik (OR 0,98; p = 0,305); namun, tidak ada hubungan tersebut yang signifikan secara statistik. Pasien yang tidak bekerja memiliki peluang lebih rendah untuk tidak patuh dibandingkan mereka yang bekerja (aOR 0,39; p = 0,002), sedangkan individu yang hanya sesekali atau tidak pernah melakukan kunjungan tindak lanjut memiliki peluang jauh lebih tinggi untuk tidak patuh dibandingkan mereka yang rutin melakukannya (p < 0,001 dan p < 0,001), dan kedua hubungan ini signifikan secara statistik. Pengetahuan terkait pengobatan signifikan pada model tidak disesuaikan (OR 3,78; p < 0,001), tetapi tidak setelah penyesuaian. Persepsi terhadap aksesibilitas fasilitas kesehatan tidak berhubungan signifikan dengan ketidakpatuhan (p = 0,375).
Kesimpulan:
Ketidakpatuhan pengobatan pada pasien T2DM di daerah pedesaan menunjukkan hubungan terbalik dengan status tidak bekerja dan usia yang lebih tua, serta hubungan langsung dengan frekuensi kunjungan tindak lanjut yang rendah, jenis kelamin laki-laki, tingkat pendidikan yang lebih rendah, pengetahuan terkait pengobatan yang lebih buruk, dan persepsi aksesibilitas fasilitas kesehatan yang rendah. Intervensi perlu memperkuat layanan primer di pedesaan melalui jam layanan yang fleksibel, penjangkauan aktif, serta edukasi yang melibatkan keluarga, terutama bagi laki-laki usia produktif.
Penulis: Yourisna Pasambo, Fadhaa Aditya Kautsar Murti, Ferry Efendi, Ika Yuni Widyawati, Rifky Octavia Pradipta, Mei-Chan Chong





