Penyalahgunaan inhalansia, khususnya menghirup lem, merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan zat yang paling berbahaya namun paling sedikit diteliti pada anak-anak yang hidup di jalanan. Meskipun prevalensinya tinggi di beberapa negara berpendapatan rendah dan menengah (LMICs), penelitian yang ada masih terbatas, terfragmentasi, dan sering kali menjadi bagian dari studi penggunaan zat yang lebih luas. Studi ini bertujuan untuk memetakan tren penelitian global, mengidentifikasi pola tematik, serta menyoroti kesenjangan dalam literatur terkait penyalahgunaan inhalansia pada populasi ini.
Analisis bibliometrik dilakukan menggunakan basis data Scopus dan Web of Science, dengan pencarian pada 12 Juni 2025 tanpa batasan tahun, berdasarkan kerangka Population–Concept–Context. Proses penyaringan dan pembersihan data dilakukan oleh dua penelaah. Artikel yang memenuhi kriteria dianalisis menggunakan Bibliometrix (Biblioshiny) untuk mengevaluasi tren publikasi, kepenulisan, sumber jurnal, ko-okurensi kata kunci, serta pola tematik.
Dari 343 dokumen, sebanyak 161 artikel (1989–2025) diikutkan dalam analisis. Publikasi berasal dari 94 sumber dan melibatkan 532 penulis, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 5,55% dan rata-rata 26,23 sitasi per dokumen. Kolaborasi internasional tercatat sebesar 11,8%. Amerika Serikat memberikan kontribusi terbesar, diikuti oleh Kanada dan Australia. Journal of Adolescent Health menjadi sumber utama, diikuti oleh Substance Use & Misuse dan Children and Youth Services Review. Delapan klaster kata kunci teridentifikasi, dengan istilah dominan seperti “remaja tunawisma,” “anak jalanan,” “HIV,” “penyalahgunaan zat,” “alkohol,” “penggunaan zat,” “tunawisma,” dan “remaja.” Tema penelitian berfokus pada penyalahgunaan, perilaku berisiko, penggunaan narkoba, depresi, dan dukungan, sementara aspek sosial-budaya dan dampak pendidikan di LMICs masih sangat terbatas.
Penyalahgunaan inhalansia pada anak jalanan merupakan isu kesehatan global dan sosial yang kurang mendapat perhatian. Penguatan penelitian yang bersifat interdisipliner dan inklusif secara geografis sangat diperlukan untuk mendukung intervensi yang lebih terarah serta kebijakan yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 3.5 terkait pencegahan dan penanganan penyalahgunaan zat.
Penulis: Faisal Adi Irawan, Christina Yeni Kustanti, Koko Srimulyo, Rifky Octavia Pradipta, Nuzul Qur’aniati, Rika Sarfika, Lisa McKenna, Ferry Efendi





