Diabetes melitus masih menjadi salah satu masalah kesehatan penting di Indonesia. Penyakit ini sering disebut sebagai “penyakit gula”, tetapi sesungguhnya diabetes bukan hanya soal terlalu banyak mengonsumsi makanan manis. Diabetes adalah hasil dari pertemuan banyak faktor: usia, kondisi sosial, lingkungan tempat tinggal, profil klinis tubuh, serta kebiasaan sehari-hari.
Sebuah studi berbasis data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menelaah faktor sosial, klinis, dan perilaku yang berkaitan dengan kejadian diabetes melitus pada masyarakat Indonesia. Penelitian ini melibatkan 27.605 individu berusia 15 tahun ke atas, sehingga memberikan gambaran yang cukup kuat mengenai siapa saja kelompok yang lebih berisiko mengalami diabetes dan faktor apa saja yang perlu menjadi perhatian.
Diabetes Lebih Banyak Ditemukan pada Kelompok Usia Tua
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita diabetes melitus berada pada kelompok usia 55 tahun ke atas, yaitu sekitar 49,17%. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa risiko diabetes meningkat seiring bertambahnya usia.
Secara biologis, penuaan dapat memengaruhi metabolisme tubuh, sensitivitas insulin, komposisi lemak tubuh, dan fungsi pankreas. Namun, usia tua tidak berdiri sendiri sebagai penyebab. Risiko diabetes pada kelompok lanjut usia sering kali diperkuat oleh pola hidup jangka panjang, kurang aktivitas fisik, pola makan yang tidak seimbang, serta kondisi klinis seperti kolesterol dan trigliserida tinggi.
Dalam penelitian ini, usia tua menjadi faktor risiko yang sangat kuat. Individu dengan usia lebih tua memiliki kemungkinan mengalami diabetes jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia muda, dengan nilai Adjusted Odds Ratio/AOR 11,24. Artinya, setelah memperhitungkan faktor lain, kelompok usia lanjut memiliki risiko diabetes yang jauh lebih besar.
Faktor Sosial: Pendidikan, Pekerjaan, Wilayah, dan Status Ekonomi
Diabetes juga memiliki wajah sosial. Studi ini menemukan bahwa penderita diabetes cukup banyak berasal dari kelompok dengan pendidikan sekolah dasar, tinggal di wilayah perkotaan, tidak bekerja, dan berada pada kelompok ekonomi lebih tinggi.
Sebanyak 37,16% penderita diabetes memiliki pendidikan sekolah dasar, 62,41% tinggal di wilayah perkotaan, 37,79% tidak bekerja, dan 24,12% berada pada kuintil ekonomi lebih tinggi.
Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa diabetes bukan hanya masalah kelompok miskin atau kelompok dengan akses kesehatan terbatas. Di wilayah perkotaan, misalnya, masyarakat mungkin lebih mudah mengakses makanan tinggi kalori, makanan cepat saji, minuman berpemanis, serta memiliki gaya hidup yang lebih sedentari. Di sisi lain, kelompok ekonomi lebih tinggi mungkin memiliki akses lebih besar terhadap konsumsi makanan berlebih, tetapi juga lebih mungkin terdiagnosis karena memiliki akses pemeriksaan kesehatan yang lebih baik.
Dengan kata lain, diabetes adalah penyakit yang sangat dipengaruhi oleh konteks sosial. Lingkungan tempat seseorang hidup dapat membentuk pilihan makanan, aktivitas fisik, akses informasi kesehatan, dan peluang untuk melakukan deteksi dini.
Faktor Klinis: Kolesterol dan Trigliserida Tidak Boleh Diabaikan
Selain faktor sosial, penelitian ini juga menemukan bahwa kondisi klinis tubuh berhubungan erat dengan diabetes. Dua indikator penting adalah trigliserida dan kolesterol.
Individu dengan kadar trigliserida ≥150 mg/dL memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes, dengan AOR 1,46. Sementara itu, individu dengan kadar kolesterol ≥200 mg/dL juga memiliki risiko lebih tinggi, dengan AOR 1,53.
Temuan ini menunjukkan bahwa diabetes tidak bisa dipisahkan dari gangguan metabolik lain. Kadar lemak darah yang tinggi sering berjalan bersama dengan resistensi insulin, obesitas sentral, hipertensi, dan sindrom metabolik. Karena itu, pencegahan diabetes tidak cukup hanya dengan memantau gula darah. Pemeriksaan kolesterol, trigliserida, tekanan darah, berat badan, dan lingkar perut juga penting dilakukan secara berkala.
Dalam bahasa sederhana, tubuh manusia bekerja seperti sistem yang saling terhubung. Ketika metabolisme lemak terganggu, pengaturan gula darah juga dapat ikut terganggu. Karena itu, pendekatan pencegahan diabetes harus bersifat menyeluruh, bukan parsial.
Aktivitas Fisik Terbukti Melindungi
Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa aktivitas fisik memiliki efek protektif terhadap diabetes. Orang yang memiliki kebiasaan aktivitas fisik memiliki risiko lebih rendah mengalami diabetes, dengan AOR 0,71.
Artinya, aktivitas fisik dapat menurunkan kemungkinan terjadinya diabetes. Ini bukan temuan kecil. Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai energi, meningkatkan sensitivitas insulin, menjaga berat badan, memperbaiki profil lemak darah, dan menurunkan risiko penyakit kardiometabolik.
Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga berat. Jalan kaki rutin, naik tangga, berkebun, bersepeda, membersihkan rumah, atau melakukan aktivitas harian yang membuat tubuh bergerak juga dapat memberi manfaat. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan aktivitas fisik sebagai bagian dari budaya hidup sehari-hari, bukan sekadar program sesaat.
Konsumsi Buah: Temuan yang Perlu Dibaca Hati-hati
Penelitian ini juga menemukan bahwa konsumsi buah ≥2 hari per minggu berhubungan dengan risiko diabetes yang sedikit lebih tinggi, dengan AOR 1,15. Temuan ini perlu ditafsirkan secara hati-hati.
Secara umum, buah adalah bagian penting dari pola makan sehat karena mengandung serat, vitamin, mineral, dan antioksidan. Namun, dalam studi potong lintang seperti ini, hubungan antara konsumsi buah dan diabetes belum tentu berarti bahwa buah menyebabkan diabetes.
Ada beberapa kemungkinan penjelasan. Pertama, orang yang sudah didiagnosis diabetes mungkin mulai lebih sering mengonsumsi buah sebagai bagian dari perubahan pola makan. Kedua, jenis buah, porsi, cara konsumsi, dan kandungan gula alami dalam buah tidak selalu sama. Ketiga, konsumsi buah dalam bentuk jus manis atau buah dengan tambahan gula tentu berbeda dampaknya dibandingkan buah utuh.
Karena itu, pesan kesehatan masyarakatnya bukan “hindari buah”, melainkan “pilih buah secara bijak, konsumsi dalam porsi tepat, dan utamakan buah utuh daripada jus berpemanis.”
Diabetes Perlu Dilihat sebagai Masalah Sistemik
Temuan studi ini menegaskan bahwa diabetes melitus di Indonesia tidak dapat dipahami hanya sebagai akibat perilaku individu. Meminta masyarakat “makan sehat dan olahraga” memang penting, tetapi belum cukup.
Pencegahan diabetes membutuhkan strategi kesehatan masyarakat yang lebih komprehensif. Edukasi kesehatan perlu diperkuat, tetapi lingkungan juga harus mendukung pilihan hidup sehat. Kota perlu menyediakan ruang publik yang aman untuk berjalan kaki dan berolahraga. Layanan kesehatan primer perlu aktif melakukan skrining faktor risiko. Tempat kerja perlu mendorong gaya hidup aktif. Sekolah dan keluarga perlu membangun literasi gizi sejak dini.
Diabetes adalah penyakit kronis, tetapi banyak faktor risikonya dapat dicegah. Kuncinya adalah deteksi dini, perubahan perilaku, penguatan layanan kesehatan primer, dan kebijakan publik yang berpihak pada gaya hidup sehat.
Penutup
Penelitian berbasis SKI 2023 ini memberikan pesan penting: diabetes melitus di Indonesia dipengaruhi oleh kombinasi faktor sosial, klinis, dan perilaku. Usia lanjut, kadar trigliserida tinggi, kolesterol tinggi, dan pola konsumsi tertentu berhubungan dengan peningkatan risiko diabetes. Sebaliknya, aktivitas fisik terbukti menjadi faktor pelindung.
Karena itu, upaya pengendalian diabetes harus bergerak dari pendekatan individual menuju pendekatan populasi. Diabetes bukan hanya urusan pasien dan dokter, tetapi juga urusan keluarga, komunitas, fasilitas kesehatan, sekolah, tempat kerja, dan pembuat kebijakan. Bila tidak ditangani sejak dini, diabetes dapat menjadi “bom waktu” kesehatan masyarakat. Namun, dengan strategi yang tepat, bom waktu itu masih bisa dijinakkan sebelum meledak.
Penulis: Rifky Octavia Pradipta, Ferry Efendi, Fadhaa Aditya Kautsar Murti, Ika Adelia Susanti, Mei-Chan Chong
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





