Universitas Airlangga Official Website

Mendukung Perawat, Menjaga Mutu Layanan Kesehatan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Fasilitas kesehatan di Indonesia menghadapi tekanan yang tidak sederhana. Kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan terus meningkat, sementara banyak rumah sakit masih berhadapan dengan keterbatasan sumber daya, beban kerja tinggi, dan ketimpangan distribusi tenaga kesehatan. Dalam situasi seperti ini, perawat memegang peran yang sangat penting. Mereka bukan hanya membantu tindakan medis, tetapi juga mendampingi pasien, menjaga kesinambungan perawatan, dan memastikan layanan kesehatan berjalan secara manusiawi.

Sayangnya, mempertahankan perawat bukan perkara mudah. Tingginya angka pergantian perawat, yaitu kondisi ketika banyak perawat keluar atau berpindah dari rumah sakit, dapat mengganggu stabilitas layanan. Ketika perawat meninggalkan rumah sakit, institusi tidak hanya kehilangan tenaga kerja, tetapi juga pengalaman, keterampilan, dan pemahaman terhadap ritme kerja unit. Dampaknya bisa meluas: beban kerja perawat yang bertahan meningkat, biaya pelatihan tenaga baru bertambah, moral kerja menurun, dan kualitas layanan kepada pasien berisiko terganggu. Dalam konteks Indonesia, persoalan ini penting karena studi sebelumnya mencatat angka pergantian perawat yang dapat mencapai sekitar 35 persen.

Oleh karenanya, upaya mempertahankan perawat tidak bisa hanya dibebankan kepada individu. Rumah sakit perlu hadir sebagai organisasi yang memberi dukungan nyata. Dukungan ini tidak cukup berhenti pada slogan bahwa perawat adalah “garda terdepan”. Perawat perlu merasakan bahwa kontribusinya dihargai, kesejahteraannya diperhatikan, pekerjaannya ditopang oleh sistem yang jelas, dan suaranya didengar ketika menghadapi masalah di tempat kerja.

Studi kami terhadap 161 perawat di salah satu rumah sakit publik besar di Indonesia menunjukkan bahwa dukungan rumah sakit memang penting, tetapi manfaatnya tidak bekerja secara langsung. Dukungan organisasi tidak otomatis membuat perawat ingin bertahan. Dukungan tersebut menjadi lebih bermakna ketika membuat perawat merasa cocok dengan pekerjaannya dan mampu melihat pekerjaannya sebagai sesuatu yang penting. Dengan kata lain, perawat cenderung ingin tetap bekerja ketika mereka merasa bahwa kemampuan, kebutuhan, dan tujuan pribadinya selaras dengan tuntutan pekerjaannya, serta ketika mereka merasa bahwa pekerjaan mereka memberi manfaat nyata bagi pasien dan masyarakat.

Temuan ini memberi pesan penting bagi manajemen rumah sakit. Program retensi perawat sebaiknya tidak hanya berfokus pada imbauan loyalitas atau kebijakan administratif. Rumah sakit perlu memperbaiki pengalaman kerja harian perawat. Misalnya, dengan mengatur beban kerja secara lebih adil, memperjelas peran, memperkuat dukungan atasan, memberi ruang bagi perawat untuk menyampaikan kendala, serta memberi pengakuan yang konkret atas kontribusi mereka. Pengembangan kompetensi juga perlu diarahkan agar perawat merasa semakin mampu menjalankan tugas klinisnya, bukan sekadar memenuhi kewajiban pelatihan.

Dengan demikian, keberlanjutan layanan kesehatan tidak hanya bergantung pada jumlah tenaga kesehatan yang tersedia, tetapi juga pada kemampuan institusi mempertahankan mereka. Menjaga perawat berarti menjaga kualitas layanan. Menjaga perawat dimulai dari rumah sakit yang mampu membuat mereka merasa sesuai dengan pekerjaannya, dihargai kontribusinya, dan menemukan makna dalam profesinya.

Penulis: Putera Ramadhan, Anis Eliyana, Ahmad Rizki Sridadi, Andika Setia Pratama, Shochrul Rohmatul Ajija. Isti Fadah, dan Zaleha Yazid.

Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami pada laman jurnal Social Sciences & Humanities Open: https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2026.102794.