Universitas Airlangga Official Website

Subtipe Virus Influenza Unggas H5N1 dan H9N2 pada Berbagai Jenis Burung dan Manusia: Temuan dari Evaluasi Ekstensif

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Influenza unggas (AI) adalah penyakit virus yang sangat menular yang dapat dideteksi di beberapa populasi unggas air liar. Penyakit ini juga kadang-kadang ditularkan ke sektor unggas rumahan. Virus AI telah menjadi masalah kesehatan hewan dan masyarakat yang signifikan di industri ayam selama 30 tahun terakhir karena potensinya untuk menyebar dari ayam ke hewan lain. Sejak tahun 1990, virus influenza unggas patogen tinggi (HPAI) subtipe H5N1 telah menyebabkan sejumlah besar wabah pada unggas di seluruh dunia. Selain itu, virus ini telah menyebabkan ratusan kasus pada manusia, yang sebagian besar berakibat fatal. Dari tahun 2003 hingga 2008, Asia Tenggara mengalami wabah signifikan virus influenza unggas patogenik tinggi (HPAIV) di tujuh dari sebelas negaranya dari tahun 2003 hingga 2008, menyoroti kerentanan kawasan ini terhadap penyakit zoonosis ini. Wabah ini mengakibatkan dampak serius bagi industri unggas dan kesehatan masyarakat, karena HPAIV berpotensi menular ke manusia. Untuk menahan penyebarannya, negara-negara yang terdampak, termasuk Thailand, Vietnam, Indonesia, Malaysia, Laos, Kamboja, dan Brunei, menerapkan berbagai langkah pengendalian, seperti pemusnahan kawanan unggas yang terinfeksi dan memberlakukan pembatasan pergerakan.

Konsep pergerakan bebas mengacu pada perilaku migrasi dan penyebaran alami yang tidak terhambat yang ditunjukkan oleh spesies unggas melintasi batas nasional dan benua. Mobilitas ini tidak hanya memainkan peran penting dalam ekologi burung tetapi juga memiliki implikasi signifikan terhadap penularan patogen zoonosis, termasuk virus influenza unggas. Burung migrasi, terutama unggas air, berfungsi sebagai reservoir dan vektor untuk berbagai subtipe influenza unggas, memfasilitasi penyebarannya di wilayah geografis yang luas tanpa memandang batas politik. Akibatnya, pengawasan internasional dan upaya biosekuriti terkoordinasi sangat penting untuk memantau dan mengurangi risiko penyakit yang terkait dengan pergerakan mereka.

Hasil yang berbeda ini menggarisbawahi kompleksitas interaksi faktor-faktor yang memengaruhi penularan penyakit, termasuk praktik pertanian, langkah-langkah biosekuriti,

dan kesiapan pemerintah untuk menangani keadaan darurat kesehatan masyarakat. Menyusul infeksi virus influenza unggas (AIV) H5N1 yang sangat virulen yang terjadi pada Desember 2003, Vietnam menjadi negara pertama yang mencatat jumlah kematian pada unggas akibat virus tersebut.

AIV berdampak pada berbagai spesies, termasuk unggas, babi, dan mamalia, dan memiliki potensi zoonosis. Subtipe virus AI, seperti H5N1 dan H9N2, telah menimbulkan kerusakan ekonomi yang cukup besar pada industri unggas, khususnya di peternakan rumahan dan komersial di seluruh dunia. Perempuan telah memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan sistem produksi unggas rumahan di berbagai wilayah geografis, memungkinkan mereka untuk secara konsisten memenuhi kebutuhan ekonomi mereka melalui pemeliharaan unggas domestik. Subtipe virus influenza unggas patogen rendah H9N2 sering diamati pada populasi ayam di Asia. Subtipe patogen rendah (LP) ini bermutasi menjadi subtipe patogen tinggi (HP) H5N1 dan, karena telah diisolasi dari spesies unggas domestik dan liar, dapat menimbulkan ancaman zoonosis yang signifikan di masa depan. Identifikasi berbagai spesies burung di seluruh Eurasia telah menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar di sektor unggas. Virus H9N2 telah menarik minat yang signifikan karena penyebarannya yang cepat di antara spesies unggas asli Eurasia (misalnya, Cina, Timur Tengah, Asia Selatan) dan sebagian Afrika. Virus H9N2 yang endemik di Asia dikategorikan menjadi tiga genotipe berdasarkan karakteristik genetik dan antigeniknya. Sumber ini mungkin merupakan asal mula gen internal subtipe HPAI yang menyerang Hong Kong pada September 1997.

Awalnya, wabah virus influenza unggas LP dan HP dikaitkan dengan unggas, khususnya ayam dan bebek, dan baru kemudian dikaitkan dengan penularan ke manusia. Interaksi rutin manusia dengan berbagai spesies burung dan unggas lainnya di lokasi umum, seperti peternakan, pasar, dan rumah potong hewan, menjadikan pengelolaan penyakit unggas sebagai tugas yang menantang dan rumit. Hingga saat ini, belum ada obat yang efektif melawan infeksi virus influenza pada berbagai spesies burung dan mamalia, termasuk manusia. Akibatnya, satu-satunya pilihan terapi yang tersedia untuk infeksi pada manusia adalah perawatan suportif dan obat antivirus untuk mengatasi komplikasi dan mengurangi replikasi virus. Munculnya resistensi terhadap antivirus menjadi semakin mengkhawatirkan.

Tinjauan ini bertujuan untuk membantu kita mempelajari lebih lanjut tentang jenis virus flu burung H5N1 dan H9N2, termasuk penyebabnya, bagaimana penyebarannya, bagaimana penyakitnya memburuk, bagaimana mendiagnosisnya, apa saja tanda dan gejalanya, bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan manusia, berapa biayanya, bagaimana cara memvaksinasinya, dan bagaimana mencegah penyebarannya. Investigasi besar ini menyediakan data yang dapat membantu mendeteksi bahaya yang terkait dengan subtipe AIV H5 dan H9. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencegah dan mengobati penyakit ini, karena dapat berkembang menjadi pandemi yang signifikan.

Penularan H5N1 ke manusia, meskipun masih relatif jarang, menimbulkan kekhawatiran besar mengenai kemampuan mutasinya dan potensi rekombinasi dengan virus influenza manusia yang beredar, yang dapat menyebabkan pandemi. Munculnya strain influenza unggas yang mampu menular dari manusia ke manusia secara efisien tetap menjadi isu penting. Penularan semacam itu akan secara signifikan meningkatkan jumlah individu yang terinfeksi, sehingga meningkatkan angka penyakit dan kematian. Data terbaru menunjukkan bahwa strain H5N1 baru dapat menyebabkan penyakit pernapasan yang parah pada manusia, menekankan perlunya pengawasan dan penelitian berkelanjutan untuk memantau perubahan patogenisitas dan penularan virus.

Selain H5N1, subtipe lain, seperti H7N9 dan H9N2, terus menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia karena infeksi sporadis yang dilaporkan di berbagai negara. Subtipe ini telah dikaitkan dengan penyakit pernapasan yang parah dan kematian. Interaksi kompleks virus-virus ini di dalam populasi unggas domestik dan liar memerlukan respons kesehatan masyarakat yang waspada untuk mencegah kemungkinan wabah di antara populasi manusia.

Pendekatan One Health, yang menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, tetap penting dalam mengelola influenza. Strategi vaksinasi untuk hewan yang rentan, termasuk unggas domestik dan beberapa hewan ternak, sangat penting dalam mengendalikan penyebaran virus di populasi hewan dan mengurangi risiko penularan zoonosis ke manusia. Peningkatan langkah-langkah biosekuriti di peternakan unggas, penelitian berkelanjutan, dan kesiapan kesehatan masyarakat merupakan komponen penting dalam mengurangi potensi dampak influenza terhadap globalisasi.

Faktor risiko ini termasuk kontak dengan unggas yang sakit, baik yang hidup maupun yang mati, paparan pasar unggas yang terkontaminasi, penyembelihan, pemotongan, dan penanganan bangkai ayam yang terkontaminasi. Ada laporan tentang virus influenza yang ditemukan pada hewan peliharaan, burung liar, dan berbagai jenis satwa liar lainnya. Gejala pernapasan adalah manifestasi umum dari penyakit yang disebabkan oleh virus influenza. Sakit tenggorokan, hidung tersumbat, demam, batuk, menggigil, mialgia, sakit kepala, kelelahan, dan konjungtivitis adalah beberapa gejala lain yang umum dialami oleh orang yang terinfeksi virus lain.

Teknik molekuler atau serologis sering kali mengungkap AIV di lingkungan laboratorium. Oleh karena itu, saat ini tidak ada pengobatan yang efektif untuk infeksi virus influenza unggas pada unggas komersial; namun, perawatan suportif dan obat antivirus sering kali menjadi satu-satunya pengobatan yang digunakan untuk infeksi pada manusia. Fakta bahwa virus influenza sering kali mengembangkan resistensi terhadap antivirus yang biasa digunakan membuat situasi menjadi lebih rumit. Banyak penelitian dan publikasi telah menunjukkan bahwa penerapan strategi vaksinasi yang efisien dalam kerangka One Health, termasuk pengembangan vaksin yang efektif dan protokol kebersihan yang ketat, akan secara signifikan mengurangi kejadian wabah dan pandemi influenza unggas. Hal ini benar, meskipun terdapat banyak fakta dan laporan.

Penulis korespondensi: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Saifur Rehman, Shakeeb Ullah, Mustofa Helmi Effendi*, Budiastuti Budiastuti, Iwan Sahrial Hamid, Atta Ur Rahman, Ali Zaman, Muhammad Inam Ullah Malik, Saqib Ali Rustam, Sana Ullah and Zulqarnain Saleem. Avian influenza virus H5N1 and H9N2 subtypes in different birds and humans: Findings from an extensive evaluation.  Open Veterinary Journal, (2026), Vol. 16(1): 1-14