Cacar monyet (Mpox)adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus mpox, ditandai dengan demam, ruam, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Setelah pemberantasan cacar global, mpox tetap menjadi salah satu dari empat infeksi manusia yang diakui terkait dengan kelompok virus ini. Virus mpox pertama kali diidentifikasi pada monyet pada tahun 1958, sedangkan kasus manusia pertama yang terkonfirmasi didokumentasikan pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo. Sebelum tahun 2021, mpox sebagian besar terbatas di Afrika Tengah dan Barat, dimana penularannya terutama terjadi melalui kontak dengan hewan liar yang terinfeksi. Penularan dari manusia ke manusia relatif jarang terjadi dan umumnya mengakibatkan wabah kecil yang terlokalisasi yang terkadang menyebar ke wilayah lain melalui perjalanan atau paparan keluarga. Namun, pada Mei 2022, mpox dilaporkan secara serentak di beberapa negara non-endemik, yang mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menyatakannya sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia pada Juli 2022. Infeksi ini memiliki tingkat kematian hingga 10%, yang menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan strategi pengawasan dan respons yang efektif untuk mengendalikan penyebarannya.
Universitas, sebagai lingkungan yang padat penduduk dan interaktif, berpotensi menjadi titik rawan penularan penyakit menular. Pengetahuan, sikap, dan perilaku mahasiswa terkait infeksi baru ini memainkan peran penting dalam memengaruhi tindakan pencegahan pribadi mereka dan masyarakat sekitar. Dalam sebuah studi potong lintang yang melibatkan 314 mahasiswa di Arab Saudi, 72% mahasiswa kedokteran melaporkan kurangnya informasi tentang mpox. Demikian pula, dilaporkan bahwa hanya 6,3% mahasiswa Pakistan yang menunjukkan pemahaman yang memadai tentang mpox, dan hanya 20,5% yang menyatakan sikap positif terhadap tindakan pencegahan. Studi mereka juga mengungkapkan hubungan yang signifikan antara pengetahuan terkait mpox dan faktor-faktor seperti latar belakang pendidikan, disiplin akademik, dan wilayah geografis. Hasil ini mencerminkan kurangnya kesadaran yang mengkhawatirkan di kalangan mahasiswa, yang dapat menghambat manajemen dan pengendalian wabah mpox yang efektif.
Saat ini, Pakistan kekurangan fasilitas diagnostik dalam negeri untuk mpox, sehingga memaksa otoritas kesehatan untuk mengirim sampel yang diduga terinfeksi ke luar negeri selama keadaan darurat. Ketergantungan ini meningkatkan keterlambatan diagnosis dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit. Oleh karena itu, meningkatkan pemahaman publik tentang gejala mpox dan jalur penularannya sangat penting untuk deteksi dini dan isolasi kasus. Selain itu, rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat harus dilengkapi dengan unit isolasi khusus untuk mengendalikan potensi wabah secara efisien.
Studi ini dirancang untuk menilai pengetahuan, sikap, dan praktik (KAP) terkait mpox di kalangan mahasiswa sarjana dan pascasarjana di Universitas Gomal, Dera Ismail Khan, Khyber Pakhtunkhwa (KPK), Pakistan. Universitas Gomal dipilih secara sengaja karena merupakan salah satu perguruan tinggi sektor publik terbesar di KPK selatan, yang menerima mahasiswa dari distrik perkotaan maupun pedesaan, sehingga menyediakan sampel sosioekonomi dan pendidikan yang beragam. Universitas ini juga memiliki beberapa fakultas, termasuk ilmu kedokteran hewan, ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan terkait, farmasi, dan disiplin ilmu non-kesehatan, yang memungkinkan evaluasi komparatif kesadaran terkait mpox di berbagai latar belakang akademik. Mengingat KPK telah melaporkan beberapa kasus mpox impor sejak tahun 2023 dan memiliki karakteristik sosial ekonomi dan perjalanan yang sama dengan daerah-daerah dengan potensi risiko wabah, wilayah ini merupakan lokasi sentinel yang ideal untuk mempelajari kesadaran mpox di kalangan dewasa muda.
Temuan studi ini diharapkan dapat menghasilkan data dasar yang dapat memandu program pendidikan kesehatan tingkat universitas, menginformasikan kebijakan kesiapsiagaan penyakit provinsi, dan mendukung integrasi modul kesadaran zoonosis berbasis One Health dalam kurikulum pendidikan tinggi. Studi ini memberikan wawasan kritis tentang pemahaman dan respons perilaku mahasiswa terhadap mpox. Temuan ini menyoroti kekuatan, seperti kesadaran umum yang tinggi dan niat vaksinasi yang positif, serta kesenjangan dalam pemahaman yang mendalam tentang penularan zoonosis dan praktik pencegahan yang konsisten. Hasil ini memiliki implikasi praktis untuk merancang program pendidikan kesehatan di masa mendatang dalam sektor universitas. Dari sudut pandang kebijakan, administrasi universitas dan otoritas kesehatan provinsi harus berkolaborasi untuk menerapkan kampanye kesadaran berbasis kampus, program duta yang dipimpin oleh rekan sejawat, dan lokakarya literasi kesehatan digital yang inklusif bagi mahasiswa kedokteran dan non-kedokteran. Selain itu, mengintegrasikan modul berbasis One Health ke dalam kurikulum universitas dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang penyakit zoonosis dan penyakit menular yang baru muncul. Di tingkat provinsi, Departemen Kesehatan Khyber Pakhtunkhwa dapat memperluas unit kesehatan keliling ke kampus universitas, memperkenalkan program vaksinasi yang berfokus pada mahasiswa, dan berkoordinasi dengan jaringan telekomunikasi untuk menyampaikan pesan kesehatan yang terarah kepada populasi pedesaan dan perempuan. Penelitian di masa mendatang harus mengeksplorasi dampak longitudinal program pendidikan kesehatan terhadap perubahan perilaku, serta memberikan wawasan kualitatif tentang hambatan psikososial yang memengaruhi perilaku pencegahan siswa. Penguatan bukti tersebut akan sangat penting untuk mengembangkan strategi kesiapsiagaan mpox yang komprehensif di lingkungan pendidikan.
Penelitian ini memberikan penilaian mendalam tentang KAP terkait mpox di antara 443 mahasiswa di Universitas Gomal, Dera Ismail Khan, Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan kesadaran yang tinggi tentang mpox sebagai penyakit virus dan zoonosis (masing-masing 94,6% dan 77,7%), tetapi juga mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan yang kritis, terutama mengenai penularan zoonosis melalui gigitan hewan dan peran bahan yang terkontaminasi. Peserta menunjukkan sikap sedang hingga positif, dengan 53,3% menyatakan kekhawatiran tentang infeksi dan 61,6% menunjukkan kesediaan untuk divaksinasi. Praktik pencegahan cukup menggembirakan, terutama kebersihan tangan (93,9%), tetapi kepatuhan yang tidak konsisten diamati untuk penggunaan masker (58,2%) dan penggunaan pembersih tangan (55,8%).
Analisis statistik menunjukkan bahwa jurusan akademik, tahun studi, dan jenis kelamin secara signifikan memengaruhi tingkat KAP: mahasiswa kedokteran dan mahasiswa tingkat awal memiliki pengetahuan dan sikap yang lebih baik, sementara mahasiswi melaporkan skor praktik yang relatif lebih rendah. Dari perspektif kesehatan masyarakat, hasil ini menyoroti perlunya pendidikan kesehatan yang terarah dan spesifik konteks. Universitas harus mengintegrasikan modul berorientasi One Health yang menekankan pencegahan penyakit zoonosis, ekologi penularan, dan literasi vaksinasi. Intervensi praktis dapat mencakup program kesadaran berbasis kampus, jaringan duta kesehatan yang dipimpin oleh rekan sejawat, dan kampanye kesehatan digital yang dirancang khusus untuk mahasiswa kedokteran dan non-kedokteran, dengan fokus khusus pada penjembatani kesenjangan gender dan perkotaan-pedesaan dalam akses terhadap informasi kesehatan yang andal. Kekuatan utama studi ini terletak pada sampelnya yang besar dan beragam, serta validasi instrumen pengumpulan datanya yang ketat, yang menjamin representasi dan reliabilitas.
Sebagai kesimpulan, studi ini menggarisbawahi bahwa mahasiswa, sebagai calon profesional dan influencer komunitas, merupakan kelompok sasaran strategis untuk mempromosikan kesadaran dan perilaku kesehatan preventif terhadap mpox. Memperkuat pemahaman mereka melalui pendidikan berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor tidak hanya akan meningkatkan kesiapsiagaan penyakit lokal tetapi juga berkontribusi pada tujuan One Health global yang bertujuan untuk memitigasi ancaman zoonosis dan penyakit menular baru.
Penulis korespondensi: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Saifur Rehman, Shakeeb Ullah, Mustofa Helmi Effendi, Muhammad Kamal Shah, Danial Aziz, Budiastuti Budiastuti, Sana Ullah, Anila Khan, Muhammad Inam Ullah Malik, Wasiq Ur Rehman, and Muhammad Irfan AnwarKnowledge, attitudes, and practices toward monkeypox among university students in Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan: A cross-sectional study from Gomal University. Int. J. One Health, 11(2):271–284





