Permasalahan sampah popok sekali pakai yang sulit terurai masih menjadi tantangan serius di berbagai wilayah pedesaan. Limbah yang kerap dibuang sembarangan ini tidak hanya mencemari tanah dan air, tetapi juga berpotensi menyebarkan bakteri berbahaya bagi kesehatan. Berangkat dari keprihatinan tersebut, Tim Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) ke-8 Universitas Airlangga (UNAIR) yang bertempat di Desa Caruban menggagas program inovatif bertajuk RePot (Recycle Popok menjadi Pot). Kegiatan yang berlangsung di Pekarangan Balai Desa Caruban pada Jumat (24/07/2026) ini menyasar Ibu-Ibu Pengurus PKK setempat sebagai ujung tombak pengelolaan limbah rumah tangga.
Fani, selaku penanggung jawab kegiatan, mengungkapkan bahwa program ini dirancang untuk memberikan solusi nyata. “Desa Caruban memiliki volume sampah popok bayi yang cukup tinggi dan masih banyak dibuang begitu saja. Kami hadir dengan program yang tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga pelatihan langsung agar ibu-ibu bisa mengubah limbah menjadi produk bernilai guna,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keterampilan ini diharapkan mampu membuka peluang usaha rumahan yang ramah lingkungan.
Antusiasme dan Keberlanjutan Program
Kegiatan berlangsung interaktif mulai pukul 08.30 hingga 11.00 WIB. Diawali registrasi dan sambutan Ketua PKK, peserta mendapat edukasi bahaya limbah popok dan simulasi pembuatan adonan semen. Seluruh peserta dibagi menjadi empat kelompok. Fara, selaku penanggung jawab lainnya, memimpin sesi praktik pembuatan pot dengan didampingi mahasiswa BBK. “Kami sangat terkesan dengan semangat ibu-ibu. Mereka langsung mempraktikkan sendiri proses daur ulangnya,” tutur Fara.
Program RePot berhasil menghasilkan pot tanaman dari limbah popok sekaligus meningkatkan kesadaran peserta akan dampak negatif popok bagi kesehatan dan lingkungan. Fani menegaskan program ini selaras dengan SDGs poin 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan) dan poin 4 (Pendidikan Berkualitas). “Keberlanjutan program menjadi fokus utama. Kami berharap keterampilan ini berkembang menjadi produk unggulan Desa Caruban,” ujarnya. Dengan total 43 peserta yang hadir, Fara optimistis kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah akan terus meningkat sehingga budaya mendaur ulang dapat menjadi kebiasaan baru di Desa Caruban. Ke depan, Tim BBK 8 UNAIR juga berharap inovasi RePot dapat terus dikembangkan dan direplikasi oleh masyarakat sebagai solusi sederhana, murah, dan berkelanjutan dalam mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah popok sekali pakai.
Penulis: STEFANI PUTRI MARSHANDA





