Universitas Airlangga Official Website

Mengapa Karyawan Bertahan atau Memilih Keluar?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Organisasi sering menganggap pengunduran diri karyawan sebagai persoalan gaji. Padahal, bukti ilmiah menunjukkan bahwa keputusan seseorang untuk bertahan atau meninggalkan organisasi jauh lebih kompleks. Sebuah scoping review yang menelaah 18 penelitian empiris dari berbagai negara dan sektor menemukan bahwa niat karyawan untuk bertahan (intention to stay) atau keluar (intention to quit) dipengaruhi oleh tiga kelompok faktor utama, yaitu faktor organisasi, hubungan interpersonal, dan faktor individual.

Faktor organisasi merupakan penentu yang paling dominan. Kebijakan perusahaan, kualitas lingkungan kerja, desain pekerjaan, keamanan kerja, kesempatan pengembangan karier, hingga praktik manajemen sumber daya manusia membentuk persepsi karyawan terhadap organisasi. Ketika organisasi menyediakan lingkungan kerja yang adil, aman, dan mendukung perkembangan individu, keinginan untuk bertahan cenderung meningkat. Sebaliknya, kebijakan yang tidak konsisten, beban kerja berlebihan, atau minimnya peluang berkembang mendorong munculnya niat untuk mencari pekerjaan lain.

Faktor kedua adalah kualitas hubungan interpersonal. Dukungan atasan dan rekan kerja terbukti menjadi sumber daya psikologis yang penting. Sebaliknya, pengalaman negatif seperti perundungan (workplace bullying), kekerasan di tempat kerja, atau hubungan kerja yang tidak sehat secara konsisten berkaitan dengan meningkatnya niat keluar dari organisasi. Temuan ini menunjukkan bahwa budaya kerja yang saling menghargai bukan sekadar nilai moral, tetapi juga investasi strategis dalam mempertahankan talenta.

Faktor ketiga berasal dari individu. Kepuasan kerja, motivasi intrinsik, kesejahteraan psikologis, kelelahan emosional, efikasi diri, serta keseimbangan kehidupan kerja berperan dalam membentuk keputusan seseorang untuk tetap bekerja atau mengundurkan diri. Artinya, retensi karyawan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan organisasi, tetapi juga oleh pengalaman psikologis yang dirasakan setiap individu selama bekerja.

Kajian ini juga mengidentifikasi beberapa celah penelitian. Sebagian besar studi masih berfokus pada sektor kesehatan dan perhotelan, menggunakan desain potong lintang (cross-sectional), serta belum banyak menguji pengaruh faktor organisasi, interpersonal, dan individual secara terpadu. Selain itu, perbedaan karakteristik antargenerasi dan lintas budaya masih memerlukan penelitian lebih lanjut agar strategi retensi semakin relevan dengan dinamika dunia kerja modern.

Bagi praktisi sumber daya manusia, pesan utamanya jelas. Upaya mempertahankan karyawan tidak cukup dilakukan melalui kenaikan kompensasi. Organisasi perlu membangun sistem kerja yang adil, kepemimpinan yang suportif, hubungan kerja yang sehat, dan pengalaman kerja yang bermakna. Retensi yang berkelanjutan lahir dari perpaduan antara kebijakan organisasi yang baik, kualitas relasi di tempat kerja, dan kesejahteraan psikologis karyawan.

Prof. Dr. Seger Handoyo

Factors influencing employee intention to quitand stay: a scoping review and insights for future research.

https://doi.org/10.1080/23311975.2026.2644675