Manusia tetapi juga pada model hewan yang banyak digunakan dalam penelitian biomedis. Peningkatan kadar asam urat dalam darah (hiperurisemia) dan profil lipid yang tidak seimbang—ditandai dengan peningkatan lipoprotein densitas rendah (LDL) dan trigliserida, disertai dengan penurunan lipoprotein densitas tinggi (HDL)—dapat memicu kerusakan pada ginjal, hati, dan jaringan pembuluh darah melalui stres oksidatif dan respons inflamasi. Oleh karena itu, pengaturan kadar asam urat (UA) dan kolesterol merupakan komponen penting dalam menjaga keseimbangan metabolisme, mencegah komplikasi pada organ target, dan memastikan validitas dan kualitas model hewan dalam penelitian eksperimental. Pendekatan intervensi berbasis alam yang aman dan sangat efektif semakin mendapat perhatian dalam pengembangan strategi terapeutik, mengingat terapi farmakologis konvensional sering dikaitkan dengan potensi efek samping jangka panjang. Senyawa bioaktif yang berasal dari tumbuhan juga dilaporkan memiliki efek antioksidan, antiinflamasi, dan pengaturan metabolisme, yang mendukung potensi penggunaannya dalam intervensi terkait kesehatan.
Seledri (Apium graveolens), anggota keluarga Apiaceae, telah lama digunakan sebagai diuretik, antiinflamasi, dan penurun lipid dalam pengobatan tradisional. Tanaman ini mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti flavonoid, ftalida, saponin, dan senyawa fenolik, yang berkontribusi pada aktivitas farmakologisnya. Flavonoid dan fenolik yang ditemukan dalam seledri memiliki sifat antioksidan yang berperan dalam menangkal radikal bebas dan menekan stres oksidatif pada jaringan target, juga dilaporkan berperan dalam vasodilatasi dan mengatur metabolisme lipid. Seledri digunakan untuk membantu menurunkan tekanan darah, meningkatkan fungsi ginjal, dan menjaga kesehatan hati, yang semuanya terkait erat dengan kontrol metabolisme purin dan lipid.
Meskipun potensi terapeutik seledri telah lama diakui, bukti ilmiah sistematis tentang efektivitasnya pada model hewan masih relatif terbatas. Perbedaan pada bagian tanaman yang digunakan—seperti daun, biji, atau batang—serta variasi metode ekstraksi (air, etanol, atau metanol), dosis, dan durasi pengobatan menimbulkan tantangan besar dalam menarik kesimpulan yang konsisten mengenai kemanjurannya. Demikian pula, kondisi ekstraksi seperti rasio pelarut dan waktu pemrosesan telah terbukti memengaruhi kandungan fenolik, kandungan flavonoid, dan aktivitas antioksidan ekstrak tanaman obat Indonesia. Beberapa penelitian telah melaporkan penurunan signifikan pada kadar UA dan LDL, disertai dengan peningkatan HDL pada model tikus dan kelinci, tetapi penelitian lain telah melaporkan efek yang lebih ringan atau bervariasi tergantung pada desain dan protokol penelitian yang digunakan. Situasi ini menegaskan pentingnya tinjauan komprehensif yang mengintegrasikan semua temuan empiris yang tersedia, menilai konsistensi hasil, dan mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang memengaruhi efektivitas seledri.
Oleh karena itu, tinjauan ini bertujuan untuk memeriksa dan mensintesis berbagai literatur ilmiah yang meneliti efek seledri dalam mengurangi kadar asam urat dan kolesterol pada hewan percobaan, menilai mekanisme kerja senyawa bioaktif yang terlibat, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menentukan efektivitasnya. Tinjauan ini diharapkan dapat memberikan landasan ilmiah yang kuat untuk penelitian lebih lanjut dan memperkuat penggunaan seledri sebagai agen terapeutik potensial dalam pengelolaan gangguan metabolisme.
Bagian ini meninjau hasil utama mengenai pengaruh seledri dalam mengurangi kadar asam urat (UA) dan meningkatkan profil lipid pada model hewan dengan meninjau kekuatan dan keterbatasan bukti yang tersedia, menilai potensi aplikasinya dalam kesehatan hewan dan manusia, dan mengidentifikasi kesenjangan penelitian yang masih perlu dieksplorasi untuk mendukung pengembangan strategi terapi yang lebih efektif.
Temuan dari berbagai penelitian pada hewan menunjukkan bahwa seledri memiliki efek signifikan dalam menurunkan kadar UA sekaligus meningkatkan profil lipid plasma. Penurunan UA yang relatif konsisten telah dilaporkan pada berbagai model tikus, konsisten dengan penurunan aktivitas enzim xantin oksidase. Hal ini menunjukkan bahwa flavonoid dan senyawa fenolik dalam seledri berperan dalam menekan produksi UA endogen. Selain itu, peningkatan eliminasi purin melalui ginjal semakin menegaskan mekanisme kerja seledri yang menargetkan berbagai sasaran dalam mencegah akumulasi metabolit purin yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan.
Lebih lanjut, perbaikan profil lipid, yang ditunjukkan oleh penurunan kadar LDL dan trigliserida serta peningkatan HDL, menunjukkan peran seledri dalam mengatur metabolisme lipid. Efek ini diduga terkait dengan penghambatan enzim HMG-CoA reduktase, peningkatan ekspresi reseptor LDL hati, dan stimulasi ekskresi asam empedu. Meskipun besarnya efek bervariasi di berbagai penelitian karena perbedaan dosis, durasi pengobatan, jenis ekstrak, dan spesies hewan, hasilnya umumnya konsisten dan menegaskan bahwa aktivitas seledri dipengaruhi oleh dosis dan waktu pemberian.
Seledri bekerja melalui mekanisme multi-target untuk menurunkan kadar asam urat dan kolesterol, sekaligus memberikan efek perlindungan terhadap stres oksidatif pada organ vital. Temuan ini memperkuat dasar ilmiah untuk penggunaan seledri sebagai kandidat agen terapeutik dalam pengelolaan gangguan metabolisme pada hewan dan berfungsi sebagai referensi penting untuk penelitian lebih lanjut yang berfokus pada penentuan dosis optimal, durasi pemberian, dan menjelaskan mekanisme molekuler yang terlibat.
Variasi dalam dosis, durasi pengobatan, jenis ekstrak, dan bagian tanaman yang digunakan dapat memengaruhi efektivitas, sehingga perbandingan antar studi menjadi lebih kompleks. Selain itu, sebagian besar studi bersifat jangka pendek, sehingga efek jangka panjang dan keamanan penggunaan kronis belum sepenuhnya dipahami. Sebagian besar studi juga menggunakan model hewan sehat atau hanya menginduksi hiperurisemia/dislipidemia, sehingga relevansi temuan terhadap kondisi klinis yang lebih kompleks masih perlu dinilai lebih lanjut. Faktor-faktor ini menekankan pentingnya studi tambahan dengan desain yang lebih terstandarisasi, dosis optimal, durasi pemberian yang memadai, dan evaluasi keamanan organ target untuk memastikan penerapan hasil yang lebih luas.
Studi pada hewan telah menunjukkan bahwa seledri memiliki potensi terapeutik yang signifikan dalam pengelolaan hiperurisemia dan dislipidemia. Penurunan kadar asam urat yang konsisten dan peningkatan profil lipid plasma menegaskan bahwa senyawa bioaktif dalam seledri bekerja melalui berbagai mekanisme. Mekanisme ini termasuk penghambatan sintesis asam urat dengan mengurangi aktivitas xantin oksidase, peningkatan ekskresi purin, dan modulasi metabolisme lipid dengan menghambat HMG-CoA reduktase dan meningkatkan ekspresi reseptor LDL di hati. Dengan demikian, seledri tidak hanya mengurangi metabolit purin dan lipid tetapi juga melindungi organ vital dari stres oksidatif dan inflamasi.
Dalam konteks kedokteran hewan, menjaga kesehatan hewan tetap penting karena penyakit sistemik dapat memengaruhi keseimbangan fisiologis dan mempersulit interpretasi penyakit
pada populasi hewan. Efektivitasnya yang telah terbukti pada berbagai spesies hewan memberikan dasar ilmiah untuk penelitian lebih lanjut, termasuk menentukan dosis optimal, durasi pemberian, dan metode ekstraksi yang paling efektif.
Lebih lanjut, temuan ini membuka peluang untuk aplikasi pada manusia, dengan potensi seledri untuk dikembangkan sebagai intervensi diet atau suplemen herbal untuk mendukung pengelolaan alami asam urat dan kadar kolesterol. Namun, penelitian klinis lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi keamanan, khasiat, dan dosis yang tepat dalam kondisi fisiologis manusia, serta untuk mengevaluasi potensi interaksi dengan terapi farmakologis konvensional. Bukti eksperimental menunjukkan bahwa seledri merupakan kandidat agen terapeutik alami yang aman, efektif, dan multi-target, baik untuk kesehatan hewan maupun potensi penerapannya pada manusia.
Seledri telah terbukti menurunkan kadar asam urat dan meningkatkan profil lipid pada model hewan melalui mekanisme multi-target, termasuk penghambatan aktivitas xantin oksidase, peningkatan ekskresi purin, dan pengaturan metabolisme lipid. Efek ini konsisten di berbagai spesies hewan, dosis, dan jenis ekstrak, meskipun perbedaan protokol dapat memengaruhi efektivitasnya. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan dosis optimal, durasi pemberian, keamanan jangka panjang, dan mekanisme molekuler yang lebih rinci. Studi perbandingan bagian tanaman dan metode ekstraksi juga penting untuk mengidentifikasi formulasi yang paling efektif.
Penulis korespondensi: Prof. Dr. Hani Plumeriastuti, drh., MKes.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Dewi Ramdani, Aswin Rafif Khairullah, Hani Plumeriastuti*, Mustofa Helmi Effendi, Bima Putra Pratama, Emmanuel Nnabuike Ugbo, Budiastuti Budiastuti, Vitra Nuraini Helmi, Syahputra Wibowo, Riza Zainuddin Ahmad, Ikechukwu Benjamin Moses, Muhammad ‘Ahdi Kurniawan, Saifur Rehman, Ilma Fauziah Ma’ruf and Fadhila Utari. Role of celery (Apium graveolens) in reducing uric acid and cholesterol in experimental animals: A literature review. Open Veterinary Journal. (2026), Vol. 16(6): 3861-3878





