Universitas Airlangga Official Website

Tinjauan Penyakit Menular pada Ternak Ruminansia: Faktor Risiko, Dampak, dan Strategi Pengendalian

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Penyakit menular tetap menjadi tantangan utama dalam produksi ternak ruminansia karena mengurangi produktivitas, menyebabkan kerugian ekonomi, mengancam kesejahteraan hewan, dan menciptakan risiko kesehatan masyarakat. Tinjauan ini bertujuan untuk merangkum penyakit menular utama yang menyerang sapi, kerbau, domba, dan kambing, dengan penekanan pada faktor risiko, dampak, dan strategi pengendalian. Literatur yang ditinjau menunjukkan bahwa penyakit penting meliputi penyakit mulut dan kuku, penyakit peste des petits ruminants, bruselosis sapi, tuberkulosis sapi, mastitis sapi, pleuropneumonia kambing menular, dan infeksi parasit. Penularan penyakit dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pergerakan hewan, biosekuriti yang buruk, vaksinasi yang tidak memadai, pengawasan yang lemah, kontaminasi lingkungan, interaksi satwa liar-ternak, dan akses terbatas ke layanan veteriner. Dampak penyakit ini meliputi kematian, penurunan produksi susu, kegagalan reproduksi, pertumbuhan yang buruk, biaya pengobatan, pembatasan perdagangan, dan penularan zoonosis. Pengendalian yang efektif membutuhkan strategi terpadu yang melibatkan vaksinasi, karantina, pengaturan pergerakan, diagnosis dini, pengawasan, biosekuriti pertanian, pendidikan petani, pengelolaan antimikroba, dan kolaborasi One Health.

Penyakit menular pada ternak ruminansia tetap menjadi kendala utama bagi produktivitas ternak, kesejahteraan hewan, kesehatan masyarakat, dan perdagangan ternak. Penyakit menular pada ruminansia tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, tetapi oleh interaksi karakteristik patogen, kerentanan inang, manajemen pertanian, pergerakan hewan, kondisi lingkungan, dan keterbatasan sosial ekonomi. Penyakit pada ternak sering menimbulkan beban di seluruh bidang produksi, pencegahan dan pengobatan, kesejahteraan hewan, perdagangan, dan regulasi. Oleh karena itu pengendalian penyakit menular pada ruminansia tidak boleh hanya dipandang sebagai tindakan veteriner tingkat peternakan, tetapi sebagai strategi yang lebih luas untuk meningkatkan efisiensi produksi ternak, ketahanan pangan, dan kesehatan masyarakat. Beberapa literatur menyatakan bahwa faktor risiko penyakit menular pada ruminansia bersifat multifactorial meliputi pergerakan hewan, ukuran kawanan, biosekuriti yang buruk, kurangnya karantina, vaksinasi yang tidak memadai, kontak dekat antar hewan, kontak dengan satwa liar, kontaminasi lingkungan, dan akses terbatas terhadap layanan veteriner. Maka dari itu peran biosekuriti dalam mencegah penularan penyakit menular pada sapi, sementara studi tentang FMD dan PPR menunjukkan bahwa mobilitas ternak dan pengawasan yang lemah berkontribusi terhadap persistensi penyakit.

Selain itu disebutkan pula bahwa penyakit menular menyebabkan dampak langsung dan tidak langsung pada produksi ternak ruminansia. Dampak langsung meliputi kematian, kesakitan, penurunan laju pertumbuhan, penurunan produksi susu, kegagalan reproduksi, aborsi, infertilitas, efisiensi pakan yang buruk, dan penurunan kesejahteraan hewan. Dampak tidak langsung meliputi biaya pengobatan, biaya vaksinasi, biaya diagnostik, karantina, pembatasan pergerakan, kerugian pasar, dan hambatan perdagangan. Pengendalian penyakit menular yang efektif pada ruminansia membutuhkan strategi terpadu yang meliputi vaksinasi, biosekuriti, karantina, pengendalian pergerakan, diagnosis dini, pengawasan penyakit, pengelolaan antimikroba, pendidikan petani, dan kolaborasi One Health. Tidak ada satu intervensi pun yang cukup karena penularan penyakit menular dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis, lingkungan, dan manajemen.

Penulis: Dr. Kadek Rachmawati, drh., M.Kes

Link: https://wjarr.com/content/review-infectious-diseases-ruminant-livestock-risk-factors-impacts-and-control-strategies