Kualitas udara di tempat penitipan anak atau daycare perlu mendapat perhatian karena balita menghabiskan banyak waktu di dalam ruangan. Sistem pernapasan yang masih berkembang membuat mereka lebih rentan terhadap paparan polutan dan ventilasi yang kurang memadai.
Penelitian berjudul “Indoor PM₂.₅ and CO₂ Exposure and Respiratory Symptoms Among Toddlers in Daycare Centers in Surabaya” menemukan adanya hubungan antara kadar karbon dioksida atau CO₂ yang tinggi di ruang bermain dan gejala pernapasan pada balita. Artikel tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Kesehatan Lingkungan Volume 18 Nomor 1 Tahun 2026. Penelitian melibatkan dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, dan berkolaborasi dengan peneliti dari Universiti Teknologi MARA, Malaysia.
Melibatkan 149 Balita
Penelitian dilakukan pada 15 daycare di Surabaya yang berada di kawasan padat penduduk dan dekat jalan utama. Sebanyak 149 balita berusia balita dipilih sebagai peserta.
Gejala pernapasan dinilai melalui kuesioner International Study of Asthma and Allergies in Childhood atau ISAAC yang diisi oleh orang tua. Sementara itu, kadar PM₂.₅ dan CO₂ diukur pada ruang bermain dan ruang tidur menggunakan sensor kualitas udara berbasis Internet of Things.
Hasilnya menunjukkan bahwa 41,6 persen balita mengalami lebih dari dua gejala pernapasan. Gejala yang paling banyak dilaporkan adalah batuk dalam dua minggu terakhir sebesar 55,7 persen dan hidung tersumbat sebesar 51 persen. Gejala lain yang ditemukan meliputi pneumonia, mengi, sesak napas, dan asma.
CO₂ Tinggi Berkaitan dengan Gejala Pernapasan
Temuan utama penelitian terlihat pada ruang bermain. Sebanyak 60 persen balita yang terpapar CO₂ di atas standar mengalami gejala pernapasan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan kelompok yang terpapar CO₂ di bawah standar, yaitu 37,9 persen.
Balita yang terpapar CO₂ tinggi di ruang bermain memiliki prevalensi gejala pernapasan sekitar 2,5 kali lebih tinggi. Hubungan tersebut dinyatakan signifikan secara statistik.
Tingginya CO₂ dapat menjadi penanda bahwa pertukaran udara di dalam ruangan tidak mencukupi. Kondisi tersebut sering terjadi pada ruangan yang dipenuhi banyak anak, menggunakan pendingin udara, dan memiliki jendela yang terus tertutup.
PM₂.₅ Juga Perlu Diwaspadai
Penelitian menemukan bahwa kadar PM₂.₅ pada hampir seluruh daycare, terutama ruang bermain, berada di atas standar yang digunakan dalam penelitian. Meskipun tidak ditemukan hubungan yang signifikan dengan gejala pernapasan, paparan jangka panjang tetap berpotensi mengganggu kesehatan anak.
Sumber PM₂.₅ dapat berasal dari debu, karpet, furnitur kayu lama, emisi kendaraan, serta debu konstruksi dari luar bangunan. Balita menjadi kelompok rentan karena paru-parunya masih berkembang dan laju pernapasannya lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.
Ventilasi Menjadi Kunci
Tim peneliti merekomendasikan perbaikan ventilasi, pengurangan penggunaan ruangan tertutup dalam waktu lama, serta pemantauan kualitas udara secara berkala. Pengelola daycare juga perlu membersihkan debu, merawat pendingin udara, mengurangi penggunaan karpet, dan mempertimbangkan sistem penyaring udara.
Ruang berpendingin udara tidak selalu memiliki kualitas udara yang baik apabila tidak disertai pasokan udara segar. Karena itu, pengelolaan ventilasi perlu menjadi bagian dari standar kesehatan dan keamanan fasilitas penitipan anak.
Penelitian ini menegaskan bahwa kualitas udara merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan pengasuhan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang balita.
Penulis: Corie Indria Prasasti , S.KM., M.Kes.
Judul Artikel : INDOOR PM2.5 AND CO2 EXPOSURE AND RESPIRATORY SYMPTOMS AMONG TODDLERS IN DAYCARE CENTERS IN SURABAYA
tanggal terbit : 31 Januari 2026





