Studi awal menilai potensi cairan pelapis episil untuk membantu mengendalikan luka dan nyeri mulut selama kemoterapi dan radioterapi diberikan bersamaan.
Pengobatan kanker kepala dan leher kerap memadukan radioterapi dengan kemoterapi. Terapi ini diarahkan pada sel kanker, tetapi jaringan sehat di sekitar mulut juga dapat ikut terpengaruh. Salah satu keluhan yang sering muncul adalah mukositis oral, yaitu peradangan yang membuat lapisan dalam mulut memerah, terasa perih, dan dapat berkembang menjadi luka.
Bagi pasien, keluhan ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Nyeri saat mengunyah dan menelan membuat makan, berbicara, serta menjaga kebersihan mulut menjadi lebih sulit. Bila keluhannya berat, tim medis mungkin perlu menyesuaikan perawatan. Menjaga kondisi mulut sejak awal terapi pun menjadi bagian penting dari pendampingan pasien kanker.
Tim peneliti dari Jepang dan Universitas Airlangga menguji penggunaan episil sejak hari pertama kemoradioterapi. Cairan ini menyebar di permukaan mulut dan membentuk lapisan tipis yang dirancang bertahan sekitar delapan jam. Lapisan tersebut bekerja seperti pelindung sementara agar bagian yang sensitif tidak mudah teriritasi oleh makanan, gesekan, atau aktivitas sehari-hari di dalam mulut.
Penelitian dilakukan di satu rumah sakit di Jepang dan melibatkan 22 pasien dewasa dengan kanker kepala dan leher. Seluruh pasien memakai episil sejak awal terapi hingga dua minggu setelah terapi selesai. Mereka juga mendapatkan perawatan mulut yang intensif, antara lain menyikat gigi setelah makan, berkumur secara teratur, memakai pelembap mulut, dan menjalani pemeriksaan gigi berkala. Penggunaan produk dalam penelitian ini berada di bawah pengawasan tim klinis, sehingga bukan petunjuk untuk mencoba sendiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Peneliti mencatat nyeri melalui skala 0 sampai 10, dari tidak nyeri hingga nyeri terberat. Kondisi luka mulut juga dinilai dari ringan sampai berat. Seluruh peserta tetap mengalami mukositis oral dalam tingkat yang berbeda. Artinya, penelitian ini tidak menunjukkan bahwa cairan pelapis dapat menghilangkan risiko luka mulut sepenuhnya.
Meski demikian, rata-rata nyeri tertinggi kelompok berada pada angka 2,73 dari 10 pada minggu ketujuh terapi. Pengalaman setiap pasien tetap berbeda: dua orang sempat melaporkan nyeri pada angka 8. Tiga dari 22 pasien, atau 13,6 persen, mengalami mukositis tingkat berat yang membuat mereka hanya mampu mengonsumsi makanan cair. Dua minggu setelah terapi berakhir, tidak ada lagi peserta dengan mukositis tingkat berat.
Tidak satu pun peserta harus menghentikan atau mengubah kemoradioterapi karena mukositis oral. Seluruh peserta juga dapat terus memakai episil sampai akhir masa pengamatan, dan peneliti tidak menemukan perburukan luka mulut yang dinilai berkaitan dengan penggunaan cairan tersebut. Hal ini menjadi alasan untuk meneliti penggunaan sejak awal lebih lanjut sebagai bagian dari perawatan pendukung.
Namun, hasil yang baik itu tidak dapat dianggap sebagai bukti bahwa episil menjadi satu-satunya penyebab. Jumlah pesertanya hanya 22 orang, penelitian dilakukan di satu tempat, dan tidak ada kelompok pembanding yang dipilih secara acak. Semua peserta menerima perawatan mulut yang sangat teratur serta pemantauan gigi yang sering. Pasien dengan luka atau nyeri mulut sebelum terapi juga tidak diikutsertakan. Gabungan faktor tersebut dapat memengaruhi hasil.
Langkah berikutnya adalah penelitian dengan peserta yang lebih banyak, melibatkan beberapa rumah sakit, dan memakai kelompok pembanding. Dengan rancangan yang lebih kuat, peneliti dapat membedakan manfaat cairan pelapis dari pengaruh perawatan mulut rutin. Untuk saat ini, episil lebih tepat dipandang sebagai pilihan pendukung yang berpotensi membantu, bukan jaminan untuk mencegah mukositis.
Dukungan terhadap SDGs
SDG 3 – Kehidupan Sehat dan Sejahtera (kontribusi utama). Penelitian ini mendukung upaya meningkatkan mutu perawatan kanker, terutama dengan mengendalikan keluhan yang memengaruhi makan, kenyamanan, dan kelangsungan terapi. Keterkaitannya paling dekat dengan Target 3.4 tentang penanganan penyakit tidak menular, termasuk kanker, serta peningkatan kesejahteraan pasien.
SDG 9 – Industri, Inovasi, dan Infrastruktur (kontribusi pendukung). Pengujian klinis terhadap bahan pelapis mulut merupakan bagian dari inovasi layanan kesehatan. Penelitian lanjutan yang lebih besar dapat memperkuat bukti dan membantu menentukan cara penggunaan yang aman, efektif, dan sesuai kebutuhan pasien.
Kesimpulan
Penggunaan episil sejak awal kemoradioterapi dikaitkan dengan rata-rata nyeri yang relatif rendah, sedikit kasus mukositis berat, dan tidak adanya penghentian terapi akibat luka mulut pada kelompok yang diteliti. Hasil awal ini menjanjikan, tetapi belum membuktikan hubungan sebab-akibat. Episil perlu dinilai melalui penelitian yang lebih besar dan terkontrol, serta tetap digunakan sebagai bagian dari perawatan mulut yang diarahkan oleh tim kesehatan.
Ditulis oleh Beshlina Fitri Widayanti Roosyanto Prakoeswa, Departemen Odontologi Forensik, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga.
Sumber artikel jurnal
Artikel ilmiah populer ini disusun dari artikel jurnal berjudul Prophylactic Use of Episil Oral Liquid to Prevent Oral Mucositis During Head and Neck Concurrent Chemoradiotherapy: A Prospective Single-Arm Study, yang dipublikasikan secara daring dalam jurnal Scientific Reports pada 1 Agustus 2026.
Penulis: Kouji Katsura, Kensuke Yoshida, Yushi Ueki, Marie Soga, Keiko Tanaka, Beshlina Fitri Widayanti Roosyanto Prakoeswa, Ryusuke Shodo, Takeshi Takahashi, Taichi Kobayashi, Masaki Takamura, Kei Tomihara, dan Takafumi Hayashi.
DOI dan tautan artikel: https://doi.org/10.1038/s41598-026-64922-w





