Universitas Airlangga Official Website

Memahami Dinamika Psikologis Dibalik Keputusan Melakukan Operasi Plastik

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Jika memperhatikan linimasa media sosial, tak sulit menemukan unggahan seputar filler, botox, sedot lemak, atau operasi hidung, baik dalam bentuk iklan klinik kecantikan, testimoni, maupun sekadar obrolan santai. Operasi kosmetik, yang dulu identik dengan kalangan selebriti atau kasus medis tertentu, kini menjadi topik yang jauh lebih terbuka dibicarakan, bahkan direncanakan, oleh masyarakat kebanyakan.

Data International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS) mencatat lebih dari 17,4 juta prosedur bedah kosmetik dan 20 juta prosedur non-bedah dilakukan di seluruh dunia sepanjang tahun 2024. Tren ini juga Nampak terjadi di Indonesia: Asosiasi Bedah Plastik, Rekonstruksi, dan Estetika Indonesia (PERAPI) mencatat pertumbuhan industri bedah kosmetik hingga 400 persen antara 2005 dan 2016, dan puluhan ribu warga Indonesia bahkan tercatat pernah menempuh prosedur kecantikan di Korea Selatan dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.

Sebagai peneliti psikologi, pertanyaan yang menarik bukanlah “apakah operasi kosmetik itu baik atau buruk“, melainkan “apa sebenarnya yang mendorong seseorang untuk menerima, mempertimbangkan, bahkan berniat untuk melakukan prosedur semacam ini?” Berdasarkan literatur psikologi yang telah berkembang lebih dari dua dekade, determinan keputusan untuk melakukan prosedur kecantikan yang dimaksud ternyata tidak tunggal. Setidaknya ada tiga dimensi psikologis yang saling berkaitan namun berbeda satu sama lain.

1. Dorongan dari Dalam Diri: Ingin Lebih Puas dengan Diri Sendiri

Dimensi pertama bersifat intrapersonal: dorongan yang bersumber dari dalam diri seseorang, terlepas dari pandangan orang lain. Riset menunjukkan bahwa penilaian rendah terhadap daya tarik fisik diri sendiri, citra tubuh yang negatif, dan tingkat kepuasan hidup turut memengaruhi seberapa besar seseorang mempertimbangkan operasi kosmetik (Sarwer & Crerand, 2004; Von Soest dkk., 2006). Bagi sebagian orang, mengubah penampilan fisik dipandang sebagai jalan menuju perbaikan suasana hati, kepercayaan diri, bahkan kualitas hidup secara keseluruhan, bukan sekadar soal kecantikan semata.

2. Pengaruh Lingkungan Sosial dan Media

Dimensi kedua berkaitan dengan bagaimana lingkungan sosial membentuk sikap individu terhadap operasi kosmetik. Paparan media, mulai dari majalah, televisi, hingga konten kecantikan di Instagram atau TikTok terbukti berhubungan dengan meningkatnya kecenderungan seseorang untuk membandingkan penampilannya dengan orang lain, dan pada akhirnya mempertimbangkan prosedur kecantikan (Seekis & Barker, 2022). Pengalaman diejek atau dikomentari soal penampilan semasa muda, tekanan dari teman sebaya, serta norma budaya di lingkungan sekitar juga berperan (Sarwer & Crerand, 2004). Bahkan latar belakang sosial-ekonomi keluarga turut memengaruhi keterbukaan seseorang terhadap operasi kosmetik, terutama pada kalangan muda (Zhang dkk., 2024).

Di Indonesia, dinamika ini punya nuansa tersendiri. Penampilan fisik, misalnya tinggi badan dan tingkat daya tarik yang dipersepsikan terbukti berasosiasi dengan dampak finansial tertentu di dunia kerja, sebuah fenomena yang dalam literatur disebut sebagai beauty premium (Octafia & Setyonaluri, 2022; Sohn, 2015). Ketika penampilan dipandang membawa nilai sosial sekaligus ekonomi, wajar bila dorongan sosial untuk tampil menarik pun ikut menguat.

3. Pertimbangan Untung-Rugi Sebelum Memutuskan

Dimensi ketiga bersifat lebih rasional: sejauh mana seseorang benar-benar menimbang biaya, manfaat, dan risiko sebelum memutuskan menjalani prosedur kecantikan. Dalam kerangka Theory of Planned Behavior, hal ini berkaitan dengan apa yang disebut perceived behavioral control, sejauh mana seseorang merasa punya sumber daya dan kemampuan untuk benar-benar melakukan suatu tindakan (Ajzen, 1996). Ketersediaan klinik kecantikan yang makin banyak, kemudahan mencari informasi lewat internet, serta kemajuan teknologi prosedur estetika membuat pertimbangan ini terasa semakin ringan bagi sebagian orang (Handini & Antonio, 2023). Bukan kebetulan bila laporan tren wisata medis juga menunjukkan banyak warga Indonesia yang mempertimbangkan opsi menjalani prosedur kecantikan lintas negara, seperti ke Malaysia, Singapura, atau Korea Selatan, ketika mereka merasa biaya dan aksesnya masuk akal.

Bukan Sekadar Dugaan: Namun Penelitian Empiris

Ketiga dimensi ini: intrapersonal, sosial, dan pertimbangan rasional, sebenarnya bukan konsep baru. Kerangka ini pertama kali dirumuskan lewat Acceptance of Cosmetic Surgery Scale (ACSS) oleh Henderson-King & Henderson-King pada 2005, dan telah diuji di berbagai negara, mulai dari Italia, Brasil, Hungaria, hingga Tiongkok dan Korea Selatan. Namun demikian, alat ukur ini belum pernah di adaptasikan ke dalam Bahasa Indonesia.

Kami menerjemahkan dan menguji ACSS pada 304 orang dewasa Indonesia berusia 18–56 tahun melalui survei daring, dan menganalisisnya menggunakan pendekatan statistik confirmatory factor analysis. Hasilnya menguatkan hal yang sebelumnya disampaikan oleh teori terdahulu: struktur tiga dimensi yang berpengaruh terhadap keputusan melakukan tindakan pembedahan kosmetik juga berlaku pada masyarakat Indonesia, dengan tingkat keandalan yang tinggi. Artinya, kerangka dorongan dari dalam diri, pengaruh sosial, dan pertimbangan rasional bukan hanya sekadar konsep dari budaya Barat yang diadaptasi mentah-mentah, melainkan pola psikologis yang tampaknya cukup konsisten lintas budaya.

Memahami tiga dimensi ini penting, bukan untuk menghakimi siapa pun yang memilih atau tidak memilih menjalani operasi kosmetik, melainkan untuk membantu memahami apa yang sebenarnya mendorong keputusan tersebut. Ketika dorongan itu murni datang dari keinginan pribadi yang sehat, itu adalah pilihan yang sah. Namun ketika dorongan tersebut lebih banyak berasal dari tekanan media sosial, standar kecantikan yang tidak realistis, atau rasa tidak aman yang mendalam terhadap penampilan diri, ada baiknya hal itu menjadi bahan refleksi, bahkan didiskusikan dengan tenaga profesional psikologi sebelum mengambil keputusan besar semacam ini.

Dengan tersedianya alat ukur yang telah teruji dalam konteks Indonesia, muncul harapan agar semakin banyak penelitian ke depan dapat menggali lebih dalam bagaimana media sosial, budaya, dan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia membentuk sikap kita terhadap penampilan fisik  sehingga edukasi dan layanan kesehatan mental terkait citra tubuh dapat dirancang secara lebih tepat sasaran.

Aliffia Ananta, Triana Kesuma Dewi, dan Endang R. Surjaningrum

Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga

Artikel ini ditulis berdasarkan riset penulis, “Psychometric evaluation of the Acceptance of Cosmetic Surgery Scale in Indonesian adult sample“, Acta Psychologica, 2026. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2026.107541.