Berjalan merupakan bagian penting dari kemandirian anak. Namun, pada anak dengan cerebral palsy, perubahan tonus otot, kelemahan, kekakuan sendi, serta kelainan bentuk tungkai dapat membuat pola berjalan menjadi tidak normal. Kondisi tersebut dapat berkembang seiring pertumbuhan dan pada akhirnya memengaruhi efisiensi berjalan, kemandirian, serta aktivitas sehari-hari.
Salah satu pendekatan untuk mengatasi berbagai masalah tersebut adalah single-event multilevel surgery (SEMLS). Sesuai namanya, beberapa kelainan pada tungkai dapat dikoreksi dalam satu episode operasi, misalnya pada daerah panggul, lutut, pergelangan kaki, hingga kaki. Pendekatan ini dikembangkan untuk mengurangi kebutuhan menjalani berbagai operasi secara terpisah dan mengurangi periode rehabilitasi yang berulang.
Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah manfaat operasi tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang?
Sebuah systematic review yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Airlangga dan RSUD Dr. Soetomo Surabaya mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Dari 480 artikel yang ditemukan melalui PubMed dan Scopus, hanya 10 penelitian yang memenuhi kriteria. Penelitian-penelitian tersebut memiliki masa pemantauan lebih dari satu tahun, bahkan salah satunya mencapai median 18 tahun setelah operasi.
Hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum SEMLS berkaitan dengan kemampuan berjalan yang tetap terjaga atau mengalami perbaikan. Anak dengan kemampuan motorik awal yang lebih baik, terutama kelompok GMFCS level I–II, cenderung memiliki kemampuan berjalan di rumah maupun lingkungan masyarakat yang lebih baik dibandingkan anak dengan GMFCS level III.
Dalam salah satu penelitian yang melibatkan 61 anak, setelah rata-rata delapan tahun, sebagian besar anak pada kelompok GMFCS I–II tetap memiliki kemampuan berjalan yang baik di rumah, sekolah atau tempat kerja, dan lingkungan masyarakat. Pada kelompok GMFCS III, kemampuan berjalan juga dapat dipertahankan, tetapi kebutuhan terhadap alat bantu atau kursi roda lebih besar terutama untuk jarak jauh.
Dari sisi kualitas berjalan, berbagai ukuran seperti Gait Profile Score (GPS), Gait Deviation Index (GDI), dan Edinburgh Visual Gait Score (EVGS) umumnya menunjukkan perbaikan setelah operasi. Kecepatan berjalan, panjang langkah, serta beberapa gerakan pada lutut, panggul, dan pergelangan kaki juga dilaporkan membaik.
Namun, hasil operasi tidak selalu berarti pola berjalan menjadi sepenuhnya normal. Beberapa penelitian masih menemukan kelainan seperti kemiringan panggul, gerakan lutut yang tidak optimal, back-kneeing, atau crouch gait yang kembali muncul. Selain itu, sebagian pasien membutuhkan operasi ortopedi tambahan selama masa pertumbuhan.
Karena itu, keberhasilan SEMLS tidak cukup dinilai dari hasil pemeriksaan berjalan di laboratorium. Yang terpenting adalah apakah anak tetap mampu bergerak dan beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. SEMLS dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan perawatan anak dengan cerebral palsy, tetapi bukan berarti seluruh masalah ortopedi selesai dalam satu operasi. Pemantauan jangka panjang tetap diperlukan untuk mempertahankan kemampuan berjalan dan menyesuaikan penanganan dengan perkembangan anak.
Penulis : Sufandi Fahmi, Tri Wahyu Martanto, Dwikora Novembri Utomo, Arif Zulkarnain, Hizbillah Yazid
Judul Artikel : Long-term functional mobility and gait-related outcomes after single-event multilevel surgery in ambulatory children with cerebral palsy: A systematic review
Jurnal : Physical Therapy Journal of Indonesia
Tautan : https://ptji.org/index.php/ptji/article/view/443





