Bagi orang tua, melihat anak mulai berjalan merupakan salah satu tahap perkembangan yang paling ditunggu. Namun, pada sebagian anak, proses ini dapat terganggu oleh developmental dysplasia of the hip (DDH) atau displasia perkembangan panggul, yaitu kondisi ketika kepala tulang paha tidak berada secara tepat dan stabil di dalam soket panggul.
Semakin terlambat DDH ditemukan, semakin kompleks penanganannya. Setelah usia 18 bulan, kemampuan tulang panggul untuk memperbaiki bentuknya secara alami mulai menurun. Karena itu, operasi terbuka (open reduction) sering menjadi pilihan. Namun, prosedur ini juga memiliki risiko, seperti kekakuan sendi, kelainan bentuk sisa, hingga avascular necrosis atau gangguan aliran darah ke kepala tulang paha.
Lantas, apakah ada pilihan lain?
Sebuah penelitian yang dilakukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya mengevaluasi closed reduction, yaitu mengembalikan posisi kepala tulang paha tanpa membuka sendi secara luas, kemudian mempertahankan posisinya menggunakan double spica cast. Penelitian ini melibatkan sembilan anak perempuan dengan 10 panggul yang mengalami DDH, berusia 18–48 bulan. Seluruh pasien dipantau setidaknya selama 12 bulan.
Hasil awalnya cukup menjanjikan. Pemeriksaan radiologi menunjukkan bahwa bentuk soket panggul mengalami perbaikan. Acetabular index—salah satu parameter untuk menilai perkembangan soket panggul—turun dari rata-rata 39,44° sebelum tindakan menjadi 26,82° pada evaluasi terakhir. Tidak ditemukan kasus panggul kembali bergeser (redislocation), gangguan pertumbuhan kepala tulang paha (avascular necrosis), maupun sisa displasia panggul selama periode pemantauan.
Dari sisi fungsi, hasilnya juga relatif baik. Berdasarkan kriteria McKay, 30% panggul memperoleh hasil sangat baik, 40% baik, dan 30% cukup. Tidak ada pasien yang mengalami nyeri panggul menetap atau membutuhkan operasi lanjutan selama periode penelitian.
Namun, ada satu pesan penting dari penelitian ini: panggul yang terlihat baik pada foto rontgen belum tentu berarti pola berjalan sudah sepenuhnya normal.
Analisis berjalan menunjukkan bahwa perbedaan antara tungkai yang terkena dan tidak terkena relatif kecil pada beberapa parameter seperti kecepatan berjalan, panjang langkah, dan irama berjalan. Meski demikian, pemeriksaan gait yang lebih terstruktur masih menemukan beberapa penyimpangan pola berjalan pada sisi yang terkena. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengobatan DDH sebaiknya tidak hanya dinilai dari gambaran tulang, tetapi juga dari bagaimana anak benar-benar berjalan dan bergerak.
Meski hasilnya menggembirakan, penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena hanya melibatkan sembilan pasien dan memiliki masa pemantauan yang relatif pendek. Karena itu, hasil tersebut belum dapat membuktikan bahwa metode ini pasti aman dan efektif dalam jangka panjang. Penelitian dengan jumlah pasien lebih besar dan pemantauan bertahun-tahun masih diperlukan.
Deteksi dan penanganan DDH sedini mungkin tetap penting. Namun, pada anak usia berjalan yang dipilih secara tepat, closed reduction dengan double spica casting menunjukkan potensi sebagai pilihan terapi dengan hasil awal yang baik—dengan catatan bahwa perkembangan panggul dan pola berjalan tetap perlu dipantau dalam jangka panjang.
Penulis : Sufandi Fahmi, Tri Wahyu Martanto, Dwikora Novembri Utomo, Arif Zulkarnain, Hizbillah Yazid, I Putu Alit Pawana
Judul Artikel : Early outcomes of closed reduction followed by double spica casting and gait assessment in children aged 18-48 months with developmental dysplasia of the hip
Jurnal : Journal of Orthopaedic Reports
Tautan : https://doi.org/10.1016/j.jorep.2026.101033





