UNAIR NEWS – Rumah Sakit Hewan (RSH) Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan Seminar dan Workshop Ortopedic untuk memfasilitasi pendidikan lanjutan bagi para dokter hewan. Ketua Pelaksana kegiatan, Simeon Marcellino Tantono drh, menyampaikan bahwa acara bertujuan memfasilitasi para dokter hewan yang ingin menambah pengalaman, belajar, serta mengembangkan ilmu bedah tulang pada hewan kecil.
Rangkaian kegiatan terdiri atas sesi seminar materi serta pelatihan praktis (workshop) yang berlangsung mulai Jumat-Minggu (11-13/9/2026). Materi antara lain mencakup dry lab menggunakan manekin tulang (bone model) dan wet lab menggunakan kadaver hewan.
Pentingnya Teknik Open Approach pada Kaki Depan Hewan
Salah satu topik utama dalam pelatihan ini adalah materi Open Approach. Simeon menjelaskan bahwa materi tersebut memberikan panduan awal sebelum seorang praktisi melakukan tindakan pembedahan pada tulang hewan. Pembahasan materi berfokus pada area ekstremitas depan atau kaki depan hewan. Yakni tulang humerus (tulang lengan atas) dan radius-ulna (tulang hasta dan pengumpil pada bagian kaki depan bawah).
“Open approach itu materinya lebih membahas teknik-teknik atau panduan bagaimana kita memulai untuk mengoperasi sebuah tulang. Hewan kecil itu kakinya empat, ada kaki depan dan kaki belakang. Nah, sebelum kita melakukan tindakan operasi, pasti ada tindakan pembukaan atau sayatan,” tutur Simeon, Sabtu (12/9/2026).
Memahami Anatomi dan Perlindungan Jaringan Vital
Menurut Simeon, pembedahan ortopedi membutuhkan pemahaman anatomi yang presisi agar dokter hewan mengetahui batasan area operasi dan mampu melindungi jaringan vital di sekitarnya.
“Jadi waktu ada problem ortopedi di kedua tulang tersebut (humerus dan radius-ulna), kita mau open approach atau membuka tulangnya tahu batasan-batasannya. Kulit mana yang harus dibuka, otot mana yang harus disingkirkan, serta pembuluh darah dan saraf mana yang perlu diperhatikan,” jelasnya.
Menemukan Masalah Utama demi Kesejahteraan Hewan
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan teknik open approach menjadi kunci utama sebelum melangkah ke teknik perbaikan tulang. Baik pada kasus patah tulang, retak, maupun dislokasi.
“Tujuan utamanya bukan hanya membuka, tapi menemukan masalahnya. Pada akhirnya open approach ini akan melilit kita menemukan titik masalah yang perlu kita selesaikan dengan teknik ortopedi,” tegas Simeon.
Melalui penyelenggaraan workshop ini, Simeon berharap para peserta dapat mengaplikasikan ilmu dan keterampilan klinis yang didapat di tempat praktik mereka masing-masing. Langkah ini diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas pelayanan medis bedah ortopedi hewan secara nasional.
“Harapannya ilmunya dapat masuk, bermanfaat, dipakai, dan bisa lebih banyak menyelamatkan hewan-hewan. Kalau dokter hewan semakin berkompeten, hewan-hewan di Indonesia bisa makin sejahtera,” pungkasnya.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Yulia Rohmawati





