UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) sukses menyabet Juara 1 esai tingkat internasional dalam ajang EDUFEST 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) pada Rabu, (9/9/2026). Tim Ayanokoji yang terdiri atas Abdullah Muhammad Irsyad Syafiudin, Keysa Azka Najhan, dan Qurrotul Ain dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) berhasil meraih prestasi tersebut melalui esai yang berjudul Reclaiming Soleram: A Board Game Model for Inclusive Body-Safety dengan mengangkat isu child grooming dan mengembangkan board game berbasis lagu tradisional Soleram sebagai media sex education dan body safety bagi anak.
Angkat Isu Child Grooming melalui Kearifan Lokal
Isu child grooming menjadi titik awal tim dalam mengembangkan gagasan esai. Mereka kemudian mencari pendekatan yang dapat membantu anak-anak memahami pendidikan seksual dan body safety dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Dari proses tersebut, tim memilih lagu tradisional Soleram sebagai bagian dari media edukasi.
Gagasan tersebut kemudian meeka wujudkan dalam bentuk board game yang menggabungkan pendidikan seksual dengan pengenalan lagu tradisional. Ain menjelaskan, ide tersebut juga berkaitan dengan subtema kompetisi mengenai kearifan lokal untuk pendidikan global. Melalui permainan, mereka berupaya menyampaikan materi pendidikan seksual dan body safety tanpa membuat pembahasannya terasa terlalu tabu bagi anak.
Irsyad menilai pendidikan seksual bagi anak masih menjadi topik yang tabu di Indonesia. Padahal, kasus pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
“Pendidikan seksual untuk anak itu cukup tabu di indonesia, padahal, udah banyak kasus pelecehan/kekerasan seksual ke anak. Oleh karena itu biar gak terlalu tabu kami membungkusnya dalam bentuk board game,” tutur Irsyad. “Board game ini juga ekonomis (murah) dan mobile ya (bisa dibawa kemana-mana) dan ini juga mengenalkan kembali lagu tradisional ke anak anak,” lanjutnya.
Kembangkan Ide dalam Dua Minggu
Tim mempersiapkan esai tersebut selama kurang lebih dua minggu. Proses tersebut mencangkup pencarian data mengenai kekerasan dan pelecehan seksual ke anak, menganalisis lagu tradisional yang sesuai untuk pendidikan seksual, hingga perancangan konsep dan mekanisme permainan.
Tantangan terbesar bagi tim muncul ketika merancang konsep dan mekanisme board game yang sesuai dengan karakteristik anak. Permainan harus dapat dirancang sederhana agar mudah dipahami, tetapi tetap memuat unsur pendidikan seksual dan lagu tradisional.
“(tantangan terbesar) buat konsep dan mekanisme board game-nya, soalnya kan ini targetnya anak-anak, jadi harus bisa berpikir seperti mereka. Kalau terlalu kompleks gak bisa, tapi juga harus memasukkan unsur sex education dan lagu tradisional,” pungkasnya.
Dalam upaya menemukan konsep yang tepat tersebut, tim melakukan riset ke sebuah kafe yang menyediakan banyak board game, mereka kemudian mendapatkan gambaran untuk mengembangkan mekanisme permainan.
Penulis: Katara Joy Kurniawan
Editor: Ragil Kukuh Imanto





