Universitas Airlangga Official Website

Cah Madiun Yang Menggoncang Italia

Orang kelahiran Madiun ini yang sealumni dengan pak Purbaya mantan Menteri Keuangan di Purdue University Amerika Serikat saat ini menjadi tokoh yang dielu-elukan di Italia dan dunia. Dia adalah Mirwan Suwarso yang mengangkat derajat tim sepakbola Como dari keterpurukan menjadi tim yang disegani di Italia dan Eropa.

Saya melihat Mas Mirwan Suwarso – sebagai orang Jawa yang lahir Madiun Jawa Timur pada tanggal 29 Desember 1985 dalam kepemimpinannya di klub sepakbola Como menggunakan budaya Jawa, Indonesia terutama dalam “men-uwongke” atau mengorangkan atau menghargai dan unggah-ungguh pada orang-orang sepuh banyak mendapatkan apresiasi yang tinggi dari rakyat Italia bahkan ada yang meneteskan airmata. Mas Suwarso mempersembahkan tiket nonton sepakbola dimana tim Como bermain kepada para warga senior terutama mantan pemain Como dimasa lalu. Sikap Mas Suwarso  menghadiahkan tempat duduk VIP nya kepada para warga sepuh itu membuat warga daerah Como dan rakyat Italia terenyuh. Hal ini membuat rakyat Italia mengetahui sikap santunnya budaya Jawa dan Indonesia. Malahan karena kerbersilan Mas Suwarso memimpin klub sepakbola Como membuat banyak orang Italia berencana untuk berlibur di Indonesia.

Selain itu dia menggunakan sepak bola untuk menciptakan merek global yang menggabungkan inovasi, data, dan identitas dengan kekuatan emosional sepak bola, serta nilai-nilai komunitas lokal Italia.

Latar belakangnya sebagai alumni Purdue University di jurusan consumer science and retail management di Purdue University, sebuah kampus yang bediri di West Lafayette, Indiana, Amerika Serikat – membuatnya berhasil membangun klub sepakbola kecil di Como menjadi industri sepakbola yang besar yang menggabungkan strategi marketing yang shophisticated, budaya, strategi bisnis dan turisme.

Tidak banyak yang mengenal baik Como 1907, maupun para pucuk pimpinan. Klub sepakbola itu memang tidak segemilang Inter Milan, yang semenjak didirikan 1908 sudah menyabet scudetto pada prima categoria, yang pada masa itu menjadi laga dengan kasta terpucuk di negeri Italia.

Pada masa itu, juga lebih dari seratus tahun sesudahnya, Como 1907 juga bukan Juventus yang memenangi prima catagoria tahun 1905 dan terus benderang pada berbagai laga. Bukan pula AC Milan, yang berkali-kali menjadi scudetto, yang kemudian mengharumkan kota Milan kepada para pecinta sepakbola di seluruh penjuru dunia.

Como, kota di tepi utara negeri itu yang berbatasan dengan halaman belakang Swiss, lebih dikenal oleh sejarah oleh sebab memiliki begitu banyak bangunan arsitektur klasik, serta menjadi tujuan para pelancong sejarah ketimbang para pesepakbola. Kota sejarah. Bukan kota bola. Dan di kota itu, Como 1907 hanyalah sebuah klub sepakbola yang didirikan oleh sejumlah warga. Kota kecil, yang menurut World Population Review, pada tahun 2026 ini jumlah penduduknya cuma 83 ribu orang. Dengan jumlah segitu, kalau mereka semua menonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta – yang daya tampungnya sekitar lebih dari 80 ribu orang- maka kota bisa menjadi senyap.

Como 1907 dalam rentang nan panjang itu, hanya meninggalkan jejak persinggahan para bintang sepakbola. Tempat singgah. Bukan tujuan. Jauh sebelum berlabuh di PSG dan kemudian ke banyak klub, Marco Simone memulai karir di Como 1907 dari tahun 1986 hingga 1989. Para pemain kelahiran Como juga tak kalah benderang di tingkat nasional. Diego De Ascentis adalah gelandang kelahiran Como 1976 pernah bermain untuk AC Milan. Gianluca Zambrotta, yang kemudian kita kenal sebagai pemain bek sayap kanan serba bertenaga kesebelasan Italia lahir di Como 19 Februari 1977. Dia memulai karir sepakbola di Como 1907 pada tahun 1994. Kemudian pindah ke Juventus 1999 hingga 2006, sempat ke Barcelona 2006 hingga 2008 dan kemudian ke AC Milan hingga 2012.

Banyak sumber berita mewartakan perusahaan Djarum Kudus Jawa Tengah masuk Como 1907 bermula dari rencana syuting film dokumenter. Ini usaha media grup Djarum. Film tentang sepakbola Italia untuk ditayangkan di Mola TV- anak usaha media milik Djarum. Tentu dengan tujuan agar anak-anak muda Indonesia merasakan dan terpacu oleh denyut sepakbola dunia.

Ketika mencari Lokasi syuting itulah mereka bertemu dengan Como 1907 yang sedang terpuruk. Adalah Mirwan Suwarso yang menjadi CEO Mola TV saat itu, yang memimpin langsung syuting fDjarum sebetulnya bertekad menjadikan klub ini sebagai Markas Garuda Select, home base bagi pemain-pemain muda Indonesia, tapi tekad ini terhalang oleh regulasi sepakbola Italia yang sangat ketat. Ada pembatasan. Harus memiliki ijin tinggal menetap. Dan harus memiliki rekam jejak pernah terdaftar di klub lain di negeri itu. Susah benar. Oleh karena sudah dibeli, tidak ada pilihan lain selain menjadi Como 1907 sebagai klub sepakbola yang profesional. Dan Djarum memilih Mirwan Suwarso menjalankan misi ini.

Pengalaman bekerja pada agensi periklanan sebagai account director di Saatchi & Saatchi Adverstising lalu terus menanjak. Menjadi direktur pada Destiny Films selama lima tahun hingga 2007. Lalu menjadi creative head pada MSP Entertainment tahun 2012. Mirwan kemudian menjadi business development untuk Super Soccer TV. Ini adalah platform milik Djarum, yang secara khusus menyiarkan sepak bola Eropa. Kinerja dan ketekunan membawanya dipercaya menjadi CEO Mola TV.

Lama malang melintang di industri kreatif, tentu saja Mirwan paham bagaimana mengelola sebuah entitas bisnis.  Mirwan sesungguhnya tidak sekadar membangun kembali sebuah klub sepakbola yang tersuruk. Sebagai pebisnis kreatif dia berusaha menghubungkan bisnis sebuah klub sepakbola menyatu dengan denyut sebuah kota. Tentu bekerjasama dengan pemerintah Kota Como. Menjadikan bola sebagai mesin narasi sebuah kota. Sebagai pusat bisnis. Pariwisata. Dan gaya hidup. Narasi itulah yang dikirim ke seluruh dunia.

Dari bisnis bola, begitu banyak hal yang dipadukan dengan denyut kota Como. Selain membangun stadion, juga membangun sekian unit usaha ritel, merchandise, tempat warga lokal ikut menikmati bisnis dari deru sepakbola. Danau Como yang indah itu dipromosikan sebagai destinasi wisata olahraga. Dan di situ warga lokal berjualan dengan para pelancong yang berduyun. Di situ, mereka yang datang merasakan keriangan olahraga serta nilai yang dijunjung sebuah kota.

Mas Mirwan Suwarso memposisikan sepak bola sebagai taman hiburan, merchandise sebagai suvenir, turisme sebagai divisi pelayaran, dan layanan media sebagai hiburan digital. Dampaknya Mas Mirwan mampu mMemperluas bisnis ke sektor perhotelan, restoran, dan transportasi lokal agar ada diversifikasi pemasukannya.

Seharusnya tidak hanya warga Como atau rakyat Italia yang bangga kepada sosok Mas Mirwan Suwarso, tapi kita sebagai bangsa Indonesia patut bangga dan menghargai kepemimpinannya di klub sepakbola Como dengan masih menggunakan budaya Indonesia yang luhur.