SURABAYA – Ikan cupang (Betta splendens) masih menjadi salah satu komoditas ikan hias air tawar yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Warna tubuh yang mencolok, bentuk sirip yang khas, serta karakter agresif saat mempertahankan wilayah membuat ikan ini memiliki pasar tersendiri di kalangan penghobi.
Dalam perdagangan ikan hias, cupang jantan umumnya lebih diminati dibandingkan betina. Jantan memiliki warna yang lebih cerah dan sirip yang lebih panjang sehingga nilai jualnya cenderung lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat pengaturan rasio kelamin menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan budidaya ikan cupang secara komersial.
Menjawab tantangan itu, kolaborasi peneliti Indonesia dan Malaysia mengkaji penggunaan ekstrak testis sapi sebagai sumber androgen alami untuk meningkatkan proporsi ikan cupang jantan. Salah satu peneliti yang terlibat adalah Veryl Hasan dari Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (UNAIR), yang juga tergabung dalam Research Group of Environmental and Fisheries Resources Management FPK UNAIR.
Penelitian tersebut melibatkan peneliti dari Universitas Brawijaya, Universitas Bangka Belitung, Universiti Sultan Zainal Abidin Malaysia, dan Universitas Airlangga. Veryl Hasan bertindak sebagai corresponding author dalam artikel ilmiah tersebut.
Riset bertajuk “Dose–Response Effects of Bovine Testis Extract Immersion on Masculinization, Survival, and Growth of Betta splendens Larvae” telah diterbitkan dalam International Journal of Design & Nature and Ecodynamics, Volume 21 Nomor 5, Mei 2026. Artikel tersedia secara daring sejak 31 Mei 2026.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan dosis ekstrak testis sapi dapat meningkatkan proporsi ikan cupang jantan. Pada dosis tertinggi yang diuji, yaitu 0,10 mg/L, persentase jantan mencapai 85 persen.
Akan tetapi, penelitian juga menemukan sisi lain yang perlu diperhatikan. Semakin tinggi dosis ekstrak, tingkat kelangsungan hidup larva menunjukkan kecenderungan menurun.
Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan maskulinisasi tidak cukup dinilai hanya dari banyaknya ikan jantan yang dihasilkan. Dalam produksi akuakultur, dosis yang paling tinggi belum tentu menjadi pilihan terbaik apabila diikuti penurunan kelangsungan hidup.
Mencari Alternatif Pengendalian Kelamin Ikan
Teknologi pengaturan kelamin bukan hal baru dalam akuakultur.
Selama ini, maskulinisasi ikan dapat dilakukan menggunakan senyawa androgen sintetis, salah satunya 17α-methyltestosterone. Senyawa tersebut efektif dalam mengarahkan diferensiasi kelamin menuju jantan dan telah banyak digunakan pada berbagai jenis ikan.
Penggunaan hormon sintetis tersebut, meskipun efektif, telah memunculkan perhatian terhadap persistensi senyawa steroid di lingkungan, kemungkinan dampak kesehatan, serta aspek keamanan dalam sistem akuakultur berkelanjutan. Kondisi tersebut mendorong peneliti untuk mencari sumber androgen alami yang berpotensi digunakan sebagai alternatif.
Salah satu bahan yang menarik perhatian adalah jaringan testis sapi.
Jaringan tersebut secara alami mengandung androgen, termasuk testosteron. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa material yang berasal dari testis sapi dapat meningkatkan proporsi ikan jantan pada beberapa spesies.
Namun, penelitian mengenai teknik maskulinisasi sering kali berfokus pada satu tujuan: mendapatkan persentase jantan setinggi mungkin.
Padahal, dalam praktik budidaya, ada aspek lain yang sama pentingnya. Berapa banyak ikan yang bertahan hidup setelah perlakuan? Apakah pertumbuhan terganggu? Bagaimana kondisi media pemeliharaan?
Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu dasar penelitian.
Tim peneliti tidak hanya mengukur keberhasilan pembentukan ikan jantan, tetapi juga mengevaluasi kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti melihat adanya potensi kompromi atau trade-off antara keberhasilan maskulinisasi dan performa produksi.
Larva Cupang Direndam Selama 24 Jam
Penelitian menggunakan larva Betta splendens berumur tujuh hari setelah menetas. Pada usia tersebut, ikan masih berada dalam periode awal perkembangan ketika proses diferensiasi gonad dapat dipengaruhi oleh lingkungan hormonal.
Sebanyak empat dosis ekstrak testis sapi diuji, yaitu 0,04; 0,06; 0,08; dan 0,10 mg/L. Masing-masing perlakuan dilakukan dalam tiga ulangan.
Larva memiliki panjang awal rata-rata sekitar 0,545 cm dan bobot 0,036 gram. Setiap unit percobaan diisi delapan larva. Setelah perlakuan, ikan dipelihara selama 30 hari dalam kondisi terkendali.
Ekstrak dibuat dari tepung testis sapi yang diekstraksi menggunakan pelarut hexane. Hasil ekstraksi kemudian diencerkan ke dalam air sesuai dosis perlakuan.
Larva direndam dalam larutan tersebut selama 24 jam. Selama proses perendaman, akuarium diberi aerasi, suhu dijaga pada 27–28 derajat Celsius, dan ikan tidak diberi pakan. Setelah itu, larva dibilas menggunakan air tawar bersih dan dipindahkan ke akuarium pemeliharaan selama 30 hari.
Metode perendaman dipilih karena memungkinkan senyawa androgen bersentuhan langsung dengan larva pada fase ketika diferensiasi kelamin masih berlangsung. Pada tahap tersebut, senyawa dari lingkungan dapat diserap melalui permukaan tubuh dan insang.
Dosis Tertinggi Menghasilkan 85 Persen Jantan
Hasil penelitian memperlihatkan hubungan yang cukup jelas antara dosis ekstrak testis sapi dan proporsi ikan jantan.
Pada dosis 0,04 mg/L, proporsi jantan yang diperoleh sebesar 36,51 persen. Ketika dosis ditingkatkan menjadi 0,06 mg/L, angka tersebut naik menjadi 41,27 persen.
Dosis 0,08 mg/L menghasilkan sekitar 60 persen jantan.
Hasil tertinggi ditemukan pada dosis 0,10 mg/L dengan proporsi jantan mencapai 85 persen. Analisis statistik menggunakan Binomial Generalized Linear Model menunjukkan bahwa dosis perlakuan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap proporsi ikan jantan.
Pola tersebut menunjukkan adanya respons dosis: semakin besar konsentrasi ekstrak dalam media perendaman, semakin tinggi kecenderungan terbentuknya ikan jantan.
Analisis regresi dalam penelitian juga menunjukkan hubungan positif antara dosis dan persentase jantan. Sekitar 70,35 persen variasi proporsi jantan dalam percobaan dapat dijelaskan oleh perubahan dosis ekstrak yang diberikan.
Secara biologis, fenomena tersebut diduga berkaitan dengan kandungan androgen alami pada testis sapi.
Ketika larva terpapar androgen dari luar selama fase sensitif diferensiasi gonad, keseimbangan hormonal dapat bergeser sehingga perkembangan jaringan testis lebih terdorong dibandingkan perkembangan ovarium.
Meski demikian, respons terhadap bahan alami dapat lebih bervariasi daripada senyawa sintetis karena kandungan aktif, absorpsi, dan bioavailabilitasnya dapat berbeda-beda.
Jenis Kelamin Dikonfirmasi Lewat Histologi
Peneliti tidak hanya menentukan jenis kelamin berdasarkan bentuk luar ikan.
Hal tersebut penting karena pada ikan muda, karakter seksual sekunder seperti bentuk sirip atau karakter warna belum selalu berkembang sempurna.
Untuk memastikan diferensiasi kelamin, tim melakukan pemeriksaan histologi gonad.
Jaringan ikan difiksasi, diproses menggunakan tahapan histologi, dipotong dengan mikrotom, kemudian diamati menggunakan mikroskop cahaya. Gonad jantan dikenali berdasarkan keberadaan tubulus seminiferus dan sel-sel spermatogenik. Sebaliknya, gonad betina menunjukkan struktur ovarium dengan oosit dan sel folikuler.
Gambar histologi pada artikel memperlihatkan perbedaan struktur tersebut pada pembesaran 400 kali. Gonad jantan menunjukkan spermatid dan tubulus seminiferus, sementara gonad betina memperlihatkan oosit yang dikelilingi sel folikuler.
Penggunaan histologi memberikan konfirmasi yang lebih kuat bahwa perubahan rasio kelamin yang diamati benar-benar berkaitan dengan diferensiasi jaringan gonad.
Lebih Banyak Jantan, tetapi Survival Menurun
Di balik keberhasilan meningkatkan persentase jantan, tim menemukan pola penting lain.
Kelangsungan hidup larva cenderung menurun seiring peningkatan dosis ekstrak.
Pada dosis 0,04 dan 0,06 mg/L, tingkat kelangsungan hidup masing-masing sebesar 79,17 persen. Pada dosis 0,08 mg/L, survival turun menjadi 70,83 persen.
Penurunan paling jelas terlihat pada dosis 0,10 mg/L. Walaupun menghasilkan persentase jantan tertinggi, tingkat kelangsungan hidup pada perlakuan ini hanya 54,17 persen.
Secara statistik, perbedaan survival antarperlakuan belum signifikan. Akan tetapi, pola penurunan tersebut tetap penting secara biologis dan praktis.
Dari perspektif pembudidaya, menghasilkan 85 persen ikan jantan belum tentu menjadi strategi paling menguntungkan apabila jumlah ikan yang bertahan hidup jauh lebih sedikit.
Inilah yang disebut sebagai trade-off antara efisiensi maskulinisasi dan performa survival.
Penelitian menekankan bahwa strategi produksi yang optimal tidak selalu berarti memilih perlakuan dengan persentase jantan tertinggi. Dosis ideal seharusnya mempertimbangkan keseimbangan antara proporsi jantan yang diperoleh dan jumlah ikan yang tetap hidup sampai akhir pemeliharaan.
Pertumbuhan Tidak Berbeda Signifikan
Bagaimana dengan pertumbuhan?
Specific Growth Rate atau SGR ikan menunjukkan kecenderungan meningkat ketika dosis ekstrak ditambah.
Pada dosis terendah, SGR tercatat sekitar 3,37 persen per hari. Nilainya kemudian menjadi 3,74 persen per hari pada 0,06 mg/L, 4,17 persen pada 0,08 mg/L, dan 4,18 persen per hari pada dosis 0,10 mg/L.
Meski demikian, perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik.
Artinya, pada kondisi percobaan ini, peningkatan dosis ekstrak testis sapi belum dapat dinyatakan memberikan pengaruh nyata terhadap kecepatan pertumbuhan ikan.
Temuan ini mengindikasikan bahwa pengaruh utama perlakuan lebih terlihat pada diferensiasi kelamin dibandingkan pertumbuhan.
Kualitas Air Ikut Menjadi Perhatian
Penelitian juga menemukan satu pola yang tidak kalah penting dari aspek hormonal, yakni perubahan kadar ammonia.
Suhu air selama pemeliharaan relatif stabil pada kisaran 27,22–27,36 derajat Celsius, sedangkan oksigen terlarut berada sekitar 7,75–7,90 mg/L. Nilai pH berkisar antara 6,58 dan 6,82.
Kadar ammonia justru meningkat sejalan dengan kenaikan dosis ekstrak.
Pada perlakuan 0,04 mg/L, ammonia tercatat sebesar 0,06 mg/L. Pada dosis 0,06 mg/L nilainya sekitar 0,07 mg/L.
Ketika dosis dinaikkan menjadi 0,08 mg/L, ammonia meningkat menjadi 0,14 mg/L dan mencapai 0,16 mg/L pada dosis tertinggi.
Menariknya, perlakuan dengan ammonia tertinggi juga menghasilkan survival terendah.
Peneliti menduga peningkatan bahan organik dari ekstrak testis sapi dapat berkontribusi terhadap pembentukan limbah nitrogen di dalam media pemeliharaan. Saat material kaya protein terdekomposisi, ammonia dapat dilepaskan ke dalam air.
Ammonia merupakan salah satu parameter kualitas air yang penting dalam akuakultur karena pada konsentrasi tertentu dapat memengaruhi insang, transportasi oksigen, metabolisme, dan respons stres ikan.
Penelitian ini tidak menguji toksisitas ammonia secara langsung sehingga ammonia tidak dapat dinyatakan sebagai satu-satunya penyebab penurunan survival. Akan tetapi, kecenderungan peningkatan ammonia yang beriringan dengan penurunan survival menjadi sinyal bahwa pengelolaan kualitas air perlu diperhatikan dalam penerapan teknik tersebut.
Bukan Sekadar Mengejar Persentase Jantan Tertinggi
Salah satu implikasi utama penelitian adalah perubahan cara melihat optimasi produksi ikan cupang jantan.
Dalam pendekatan sederhana, dosis terbaik mungkin dianggap sebagai dosis yang menghasilkan persentase jantan terbesar. Jika menggunakan ukuran itu saja, 0,10 mg/L menjadi pemenangnya.
Tetapi sistem budidaya tidak bekerja dengan satu indikator.
Pembudidaya juga membutuhkan ikan yang mampu bertahan hidup, tumbuh normal, dan dipelihara dalam kondisi kualitas air yang terkendali.
Karena itu, peneliti menyarankan pendekatan yang lebih seimbang.
Dosis menengah, khususnya 0,06–0,08 mg/L, memberikan kombinasi hasil yang lebih moderat. Pada rentang tersebut, proporsi jantan berada sekitar 41,27–60 persen dengan survival 70,83–79,17 persen.
Temuan tersebut belum berarti bahwa 0,06 atau 0,08 mg/L telah menjadi dosis optimum final untuk produksi komersial. Dibutuhkan penelitian lanjutan dengan jumlah ikan lebih besar, variasi konsentrasi yang lebih rapat, serta pengujian pada kondisi produksi berbeda.
Namun, data ini memberikan satu pesan penting: keberhasilan teknologi maskulinisasi harus dihitung sebagai keseimbangan antara efektivitas biologis dan hasil produksi.
Peluang Pengembangan Teknologi Ikan Hias
Penelitian ini membuka ruang untuk pengembangan teknik pengendalian kelamin berbasis bahan alami dalam budidaya ikan hias.
Bovine testis extract menunjukkan kemampuan meningkatkan proporsi jantan secara dosis-responsif. Dalam konteks ikan cupang, karakter tersebut relevan karena individu jantan memiliki daya tarik visual dan nilai ekonomi yang tinggi.
Tetapi penelitian juga menunjukkan bahwa konsep “alami” tidak otomatis berarti seluruh efek samping biologis dapat diabaikan.
Dosis, lama paparan, kondisi larva, beban organik media, dan kualitas air tetap harus menjadi bagian dari optimasi teknologi.
Hal tersebut menjadi penting apabila teknologi akan dikembangkan ke skala budidaya yang lebih besar. Efektivitas maskulinisasi harus berjalan bersama efisiensi produksi dan pengelolaan lingkungan.
Dari perspektif ilmiah, penelitian selanjutnya juga dapat diarahkan pada pengukuran konsentrasi androgen aktual dalam ekstrak, mekanisme absorpsi pada larva, respons hormon endogen, ekspresi gen terkait diferensiasi kelamin, hingga evaluasi residu dan dampak lingkungan.
Dengan demikian, penelitian tidak berhenti pada pertanyaan “berapa banyak ikan jantan yang dihasilkan”, tetapi berkembang menuju pemahaman bagaimana androgen alami bekerja dan bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan secara terkontrol.
Kolaborasi Riset Akuakultur Lintas Institusi
Riset ini juga mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu akuakultur.
Tim peneliti terdiri atas Ayu Winna Ramadhani, Deva Achmad Irvanto, Abdul Raheem Faqih, R Adharyan Islamy, Fitri Sil Valen, Ahmad Syazni Kamarudin, Norshida Ismail, dan Veryl Hasan. Institusi yang terlibat meliputi Universitas Brawijaya, Universitas Bangka Belitung, Universiti Sultan Zainal Abidin Malaysia, serta Universitas Airlangga.
Keterlibatan peneliti Universitas Airlangga melalui Departemen Akuakultur serta Research Group of Environmental and Fisheries Resources Management memperkuat kontribusi UNAIR dalam kajian teknologi budidaya, reproduksi ikan, pengelolaan sumber daya perikanan, dan pengembangan akuakultur berkelanjutan.
Pada akhirnya, penelitian tersebut menunjukkan bahwa inovasi dalam akuakultur tidak selalu harus berasal dari teknologi yang semakin kompleks. Pemanfaatan sumber biologis alami juga dapat membuka alternatif baru ketika dipelajari secara ilmiah dan dikontrol secara tepat.
Ekstrak testis sapi dalam penelitian ini mampu meningkatkan proporsi ikan cupang jantan hingga 85 persen. Tetapi hasil itu sekaligus mengingatkan bahwa angka tertinggi belum tentu selalu menjadi hasil terbaik.
Bagi budidaya ikan hias, strategi yang lebih menjanjikan justru mungkin berada pada titik keseimbangan: menghasilkan proporsi jantan yang cukup tinggi, mempertahankan kelangsungan hidup ikan, serta menjaga kondisi lingkungan budidaya tetap mendukung.
Itulah tantangan berikutnya bagi penelitian akuakultur—tidak sekadar membuat teknologi bekerja, tetapi memastikan bahwa teknologi tersebut juga efisien, terukur, dan dapat diterapkan secara bertanggung jawab.
Penulis: Dr. Veryl Hasan, S.Pi., M.P.





