SURABAYA – Pakan masih menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam kegiatan budidaya ikan. Di sisi lain, produksi pakan akuakultur masih banyak bergantung pada bahan baku protein konvensional seperti tepung ikan dan bungkil kedelai. Kondisi tersebut mendorong peneliti untuk mencari sumber protein alternatif yang tersedia secara lokal, dapat diproses dengan teknologi relatif sederhana, dan tetap mampu mendukung pertumbuhan ikan.
Salah satu alternatif itu ternyata dapat berasal dari tanaman liar yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.
Tim peneliti lintas perguruan tinggi yang melibatkan Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan daun Ficus septica menjadi leaf protein concentrate atau LPC, yakni konsentrat protein daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan tersebut hampir menggandakan kadar protein bahan sekaligus menurunkan kadar seratnya. Ketika digunakan dalam pakan ikan nila (Oreochromis niloticus), tingkat penambahan 20 persen menghasilkan pertumbuhan, kecernaan nutrien, dan efisiensi pakan terbaik dalam kondisi penelitian.
Riset tersebut melibatkan Veryl Hasan dari Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, yang juga tergabung dalam Research Group of Environmental and Fisheries Resources Management FPK UNAIR. Veryl Hasan menjadi corresponding author penelitian bersama tim dari Universitas Brawijaya, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Bangka Belitung, dan Universiti Sultan Zainal Abidin, Malaysia.
Hasil penelitian diterbitkan dalam artikel berjudul “Leaf Protein Concentrate of Ficus septica as a Plant-Based Aquafeed Ingredient for Nile Tilapia Oreochromis niloticus” pada International Journal of Design & Nature and Ecodynamics, Volume 21 Nomor 6, Juni 2026. Artikel tersedia secara daring sejak 30 Juni 2026.
Temuan ini menawarkan pendekatan berbeda dalam pengembangan pakan berbasis tumbuhan. Alih-alih menggunakan daun secara langsung sebagai tepung, peneliti memisahkan dan memekatkan fraksi proteinnya sehingga menghasilkan bahan dengan kualitas nutrisi yang lebih baik.
Tantangan Protein untuk Pakan Akuakultur
Peningkatan produksi akuakultur dunia secara langsung meningkatkan kebutuhan terhadap bahan baku pakan. Protein menjadi komponen penting karena dibutuhkan ikan untuk pertumbuhan jaringan, metabolisme, dan berbagai fungsi fisiologis.
Tepung ikan masih menjadi salah satu sumber protein berkualitas tinggi dalam formulasi pakan, sedangkan bungkil kedelai banyak digunakan sebagai sumber protein nabati. Akan tetapi, kedua bahan tersebut menghadapi tantangan berbeda.
Produksi tepung ikan berkaitan dengan ketersediaan sumber daya perikanan tangkap. Kedelai, di sisi lain, membutuhkan lahan pertanian dan berbagai input produksi. Permintaan kedua bahan tersebut juga datang dari sektor peternakan dan pangan lainnya sehingga menciptakan kompetisi pemanfaatan bahan baku.
Kondisi tersebut membuat pemanfaatan biomassa lokal semakin penting dalam riset nutrisi akuakultur.
Tanaman darat sebenarnya menyediakan sumber biomassa yang sangat besar. Banyak di antaranya mengandung protein, mineral, pigmen, dan senyawa bioaktif.
Masalahnya, daun mentah juga mengandung komponen yang kurang menguntungkan sebagai pakan ikan.
Serat kasar yang tinggi dapat menurunkan kecernaan. Beberapa tanaman memiliki komposisi asam amino yang kurang seimbang, sementara senyawa antinutrisi dapat membatasi pemanfaatan nutrien apabila digunakan dalam jumlah tinggi.
Karena itu, sekadar mengeringkan daun kemudian mencampurkannya ke dalam pakan belum tentu menghasilkan bahan baku yang optimal.
Di sinilah teknologi LPC menjadi menarik.
Dari Daun Menjadi Konsentrat Protein
Leaf protein concentrate merupakan produk yang dihasilkan dengan mengekstraksi fraksi nutrien larut dari biomassa daun kemudian mengkoagulasikan proteinnya.
Secara sederhana, proses tersebut dapat dianalogikan dengan “memisahkan bagian kaya protein” dari struktur daun yang banyak mengandung serat.
Daun dihancurkan sehingga isi sel keluar ke fase cair. Bagian serat dipisahkan. Protein yang berada dalam ekstrak cair kemudian digumpalkan melalui perlakuan panas dan pengaturan pH. Gumpalan protein selanjutnya dipisahkan dan dikeringkan menjadi bubuk.
Proses tersebut memiliki dua tujuan utama: meningkatkan konsentrasi protein dan mengurangi sebagian bahan struktural berserat yang sulit dicerna ikan. Beberapa senyawa bioaktif dari daun juga dapat tetap berada dalam konsentrat.
Tim peneliti memilih Ficus septica sebagai bahan bakunya.
Tanaman tropis ini tersebar luas di Asia Tenggara dan dapat ditemukan pada lahan yang tidak dikelola, tepi jalan, maupun kawasan yang mengalami gangguan. Selama ini F. septica lebih banyak dikenal berkaitan dengan penggunaan tradisional dan kandungan fitokimianya. Pemanfaatannya sebagai bahan baku pakan ikan masih terbatas.
Sifat tersebut menarik dari perspektif pengembangan pakan alternatif.
Biomassa yang tumbuh pada area non-produktif berpotensi menjadi sumber bahan baku tanpa harus secara langsung bersaing dengan tanaman pangan utama.
Sepuluh Kilogram Daun Menghasilkan 850 Gram LPC
Dalam penelitian ini, daun Ficus septica dikumpulkan dari lahan pertanian yang tidak dikelola di Kediri, Jawa Timur.
Daun diseleksi, dicuci, kemudian mengalami proses blanching pada suhu 70–80 derajat Celsius selama dua menit. Setelah itu daun dihancurkan bersama air dengan perbandingan 1:5.
Campuran tersebut kemudian disaring sehingga bagian cair yang mengandung komponen sel dapat dipisahkan dari fraksi serat.
Ekstrak selanjutnya dipanaskan, kemudian pH diturunkan hingga sekitar 4,5–4,6 untuk mendorong koagulasi protein. Kalsium sulfat juga digunakan untuk membantu pembentukan curd atau gumpalan protein.
Tahap akhir dilakukan menggunakan spray dryer sehingga diperoleh LPC berbentuk bubuk.
Dari 10 kilogram daun segar, tim menghasilkan sekitar 850 gram LPC kering. Dengan demikian, rendemen LPC berdasarkan berat segar mencapai 8,5 persen.
Angka tersebut menggambarkan bagaimana biomassa daun dalam jumlah besar dikonversi menjadi fraksi nutrien yang lebih terkonsentrasi.
Protein Naik Hampir Dua Kali Lipat
Perubahan paling mencolok terlihat pada kadar protein.
Daun Ficus septica dalam bentuk tepung memiliki protein kasar sebesar 18,7 persen. Setelah diproses menjadi LPC, kadar protein meningkat menjadi 36,9 persen.
Dengan kata lain, konsentrasi protein hampir dua kali lipat.
Pada saat yang sama, serat kasar turun dari 16,3 persen menjadi 8,9 persen.
Kandungan lipid meningkat dari 4,5 menjadi 6,8 persen, sementara energi bruto naik dari sekitar 312,8 menjadi 356,7 kilokalori per 100 gram.
Perubahan tersebut sangat relevan dalam formulasi pakan ikan.
Protein yang lebih tinggi berarti lebih banyak nutrien bernilai tinggi tersedia dalam jumlah bahan yang sama. Penurunan serat juga penting karena ikan memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam memanfaatkan serat dibandingkan hewan herbivora darat.
Bagi ikan nila yang bersifat omnivora dan relatif mampu menggunakan bahan berbasis tumbuhan, bahan dengan protein lebih terkonsentrasi dan serat lebih rendah berpotensi lebih mudah dimanfaatkan.
Tidak Hanya Protein, Kandungan Antioksidan Juga Meningkat
Proses pembuatan LPC ternyata tidak hanya memekatkan protein.
Kandungan total fenolik meningkat dari 33,5 menjadi 54,8 mg GAE per gram, sedangkan flavonoid meningkat dari 28,7 menjadi 46,2 mg QE per gram.
Aktivitas antioksidan juga menunjukkan perubahan.
Nilai DPPH IC50 turun dari 4,45 menjadi 2,96 mikrogram per mililiter. Dalam pengujian ini, nilai IC50 yang lebih rendah menunjukkan aktivitas penangkap radikal bebas yang lebih kuat.
Nilai FRAP meningkat dari 182,4 menjadi 296,7 µmol Fe²⁺ per gram, sedangkan aktivitas penangkapan radikal ABTS meningkat dari 71,3 menjadi 86,5 persen.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa proses ekstraksi, koagulasi, dan pengeringan tidak menghilangkan seluruh komponen bioaktif tanaman. Sebaliknya, beberapa komponen justru ditemukan dalam konsentrasi lebih tinggi pada produk LPC.
Meski demikian, tim peneliti menekankan batas interpretasinya.
Penelitian menguji aktivitas antioksidan bahan secara in vitro. Parameter fisiologis antioksidan pada ikan seperti superoxide dismutase, catalase, glutathione peroxidase, malondialdehyde, hematologi, maupun respons imun tidak diukur.
Karena itu, hasil penelitian menunjukkan potensi antioksidan LPC sebagai bahan, tetapi belum membuktikan bahwa konsumsi LPC secara langsung meningkatkan sistem antioksidan ikan nila.
Profil Asam Amino Ikut Membaik
Kualitas sumber protein tidak hanya ditentukan oleh jumlah proteinnya.
Komposisi asam amino juga sangat menentukan.
Setelah proses LPC, seluruh asam amino esensial yang dianalisis ditemukan dalam kadar lebih tinggi dibandingkan tepung daun awal.
Total asam amino esensial meningkat dari 35,88 persen menjadi 41,85 persen dari total protein.
Leucine meningkat dari 6,48 menjadi 7,56 persen, arginine dari 5,92 menjadi 6,71 persen, dan lysine dari 4,96 menjadi 6,11 persen.
Lysine menjadi perhatian khusus karena merupakan salah satu asam amino yang sering menjadi pembatas pada bahan pakan nabati.
Dalam LPC Ficus septica, kandungan lysine mencapai 6,11 persen dari protein. Akan tetapi, methionine masih relatif rendah, yakni sekitar 1,52 persen. Artinya, apabila bahan ini digunakan pada tingkat tinggi dalam formulasi pakan, keseimbangan methionine masih perlu diperhatikan.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa proses konsentrasi protein bukan hanya meningkatkan angka protein kasar, tetapi juga menghasilkan fraksi yang lebih kaya asam amino esensial.
Diuji Langsung pada Ikan Nila
Setelah karakter nutrisi bahan diketahui, tim melanjutkan pengujian pada ikan nila.
Empat jenis pakan disusun dengan kadar LPC berbeda, yaitu 0 persen sebagai kontrol, 10 persen, 20 persen, dan 30 persen.
Formulasi dibuat dengan kadar protein yang relatif sama sehingga perbedaan performa ikan dapat lebih tepat dikaitkan dengan penggunaan LPC daripada sekadar perbedaan jumlah protein pakan.
Semakin tinggi LPC digunakan, proporsi tepung ikan dan bungkil kedelai dalam formulasi juga dikurangi. Pada pakan kontrol, tepung ikan digunakan sebanyak 25 persen dan bungkil kedelai 30 persen. Pada formula dengan 20 persen LPC, tepung ikan diturunkan menjadi 19 persen dan bungkil kedelai menjadi 26 persen.
Ikan nila dengan bobot awal sekitar lima gram dipelihara selama 60 hari. Setiap perlakuan terdiri atas tiga ulangan dan setiap unit pemeliharaan berisi 15 ikan.
Selama penelitian, ikan diberi pakan tiga kali sehari hingga kenyang. Kualitas air dijaga dengan aerasi dan penggantian sekitar 30 persen volume air setiap hari.
Inklusi 20 Persen Menghasilkan Kecernaan Tertinggi
Hasil pengujian kecernaan menunjukkan pola yang konsisten.
Ikan yang memperoleh pakan dengan 20 persen LPC memiliki kecernaan bahan kering sebesar 79,1 persen, lebih tinggi dibandingkan kontrol sebesar 71,8 persen.
Kecernaan protein mencapai 89,3 persen pada perlakuan 20 persen, dibandingkan 82,5 persen pada kontrol.
Kecernaan lipid mencapai 89,8 persen, sedangkan kecernaan energi mencapai 84,0 persen. Keduanya juga berada pada atau sekitar nilai tertinggi dibandingkan perlakuan lain.
Pola tersebut menunjukkan bahwa pada tingkat moderat, penggunaan LPC membantu ikan memanfaatkan nutrien dalam pakan dengan lebih baik.
Peneliti mengaitkannya dengan konsentrasi protein yang lebih tinggi dan pengurangan fraksi serat struktural selama pembuatan LPC.
Menariknya, ketika konsentrasi LPC dinaikkan menjadi 30 persen, kecernaan kembali sedikit menurun.
Hal ini menunjukkan bahwa ada batas penggunaan yang perlu diperhatikan. Bahan berbasis tanaman masih dapat membawa serat tersisa, mineral, maupun senyawa antinutrisi sehingga peningkatan dosis tidak selalu menghasilkan respons yang semakin baik.
Pertumbuhan Terbaik Juga pada 20 Persen
Hasil pertumbuhan ikan mengikuti pola kecernaan tersebut.
Setelah 60 hari, ikan pada kelompok kontrol memiliki bobot akhir rata-rata 13,24 gram.
Pada pakan dengan 10 persen LPC, bobot akhir meningkat menjadi 15,08 gram.
Hasil tertinggi ditemukan pada kelompok 20 persen LPC dengan bobot akhir mencapai 16,21 gram.
Ketika LPC dinaikkan menjadi 30 persen, bobot akhir turun menjadi 14,62 gram. Meski demikian, nilainya masih lebih tinggi dibandingkan kontrol.
Pertambahan bobot menunjukkan pola yang sama.
Ikan kontrol bertambah sekitar 8,20 gram, sedangkan kelompok 20 persen LPC memperoleh pertambahan bobot sekitar 11,20 gram.
Specific Growth Rate atau SGR pada kelompok kontrol sebesar 2,54 persen per hari. Angka ini meningkat menjadi 3,04 persen per hari pada perlakuan 20 persen.
Protein Efficiency Ratio atau PER juga mencapai nilai tertinggi pada kelompok tersebut, yaitu 2,16.
Sebaliknya, Feed Conversion Ratio atau FCR mencapai nilai terendah sebesar 1,42. Nilai FCR yang lebih rendah berarti jumlah pakan yang diperlukan untuk menghasilkan pertambahan bobot menjadi lebih sedikit.
Secara sederhana, pakan digunakan ikan dengan lebih efisien.
Pada grafik hasil penelitian, perlakuan FS-LPC20 secara konsisten menempati posisi terbaik pada bobot akhir, pertambahan bobot, SGR, FCR, dan PER.
Lebih Tinggi Tidak Selalu Lebih Baik
Salah satu pesan utama dari penelitian ini kembali memperlihatkan prinsip penting dalam nutrisi ikan: semakin banyak bahan fungsional ditambahkan, tidak selalu semakin baik hasilnya.
Pada tingkat 30 persen, ikan masih tumbuh lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Akan tetapi, performanya menurun dibandingkan kelompok 20 persen.
Kecernaan dan efisiensi pakan juga mengalami pola yang sama.
Menurut penelitian, penurunan tersebut kemungkinan berkaitan dengan meningkatnya fraksi serat, mineral, polisakarida non-pati, atau senyawa antinutrisi yang masih tersisa ketika LPC digunakan dalam jumlah lebih besar.
Namun, tim tidak mengukur secara spesifik tannin, phytate, oxalate, saponin, maupun alkaloid di dalam LPC.
Karena itu, mekanisme yang menyebabkan penurunan performa pada dosis 30 persen masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Hal ini penting agar temuan penelitian tidak disederhanakan menjadi kesimpulan bahwa 20 persen adalah dosis universal.
Dalam kondisi laboratorium penelitian tersebut, 20 persen menghasilkan respons terbaik. Penggunaan pada skala komersial tetap membutuhkan pengujian lanjutan.
Potensi Biomassa Lokal untuk Pakan Masa Depan
Nilai penting penelitian ini tidak hanya terletak pada satu jenis tanaman.
Pendekatan LPC memperlihatkan bagaimana biomassa tanaman yang sebelumnya bernilai rendah dapat diproses menjadi bahan dengan nilai nutrisi lebih tinggi.
Ficus septica tumbuh secara alami di area daratan yang tidak dikelola dan tidak secara langsung berkompetisi dengan tanaman pangan utama. Pemanfaatannya berpotensi memperluas pilihan sumber protein lokal untuk pengembangan pakan berbasis tumbuhan.
Konsep tersebut berkaitan dengan pendekatan circular bioeconomy, yakni meningkatkan nilai guna sumber daya biologis yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Bagi industri akuakultur, diversifikasi bahan baku menjadi penting karena ketahanan sektor pakan tidak dapat hanya bergantung pada satu atau dua sumber protein.
Pengembangan teknologi seperti LPC memungkinkan peneliti tidak lagi sekadar mencari “tanaman dengan protein tinggi”, tetapi juga memikirkan bagaimana teknologi pengolahan dapat meningkatkan kualitas tanaman yang awalnya kurang ideal sebagai pakan.
Daun dengan serat tinggi, misalnya, dapat dipisahkan fraksi berseratnya. Protein dapat dikonsentrasikan. Senyawa bioaktif tertentu dapat dipertahankan. Produk akhir kemudian dapat diformulasikan berdasarkan kebutuhan nutrisi spesies ikan sasaran.
Belum Siap Langsung untuk Skala Industri
Meski hasilnya menjanjikan, penelitian ini masih berada pada skala laboratorium.
Tim peneliti belum mengukur efisiensi pemulihan protein selama proses LPC, biaya produksi, kelayakan ekonomi, maupun kemampuan teknologi tersebut ketika ditingkatkan ke skala komersial.
Karakterisasi rinci senyawa antinutrisi juga belum dilakukan. Selain itu, keamanan penggunaan jangka panjang masih perlu diuji.
Tahap berikutnya dapat mencakup pengujian proses produksi yang lebih efisien, analisis biaya per kilogram LPC, optimasi penggunaan air dan energi, pengukuran faktor antinutrisi, serta uji pemeliharaan dalam jangka lebih panjang.
Peneliti juga dapat mengevaluasi apakah kandungan fenolik dan flavonoid pada LPC benar-benar memberikan manfaat fisiologis bagi ikan melalui pengukuran biomarker antioksidan, imunologi, atau kesehatan jaringan.
Dengan pendekatan tersebut, posisi LPC dapat dinilai secara lebih lengkap: bukan hanya sebagai bahan dengan kandungan protein tinggi, tetapi sebagai calon bahan baku pakan yang layak dari aspek nutrisi, kesehatan ikan, ekonomi, dan keberlanjutan.
Kolaborasi Peneliti Lintas Perguruan Tinggi
Penelitian ini melibatkan R. Adharyan Islamy, Taufik Budhi Pramono, Syakir Ni’matullah, Najwa Lutfi Setyowati, Hadiana, Andi Masriah, Nurul Mutmainnah, Fitri Sil Valen, Veryl Hasan, Norshida Ismail, dan Ahmad Syazni Kamarudin.
Para peneliti berasal dari Universitas Brawijaya, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Bangka Belitung, Universitas Airlangga, dan Universiti Sultan Zainal Abidin Malaysia. Veryl Hasan dari FPK UNAIR bertindak sebagai corresponding author.
Keterlibatan Departemen Akuakultur FPK UNAIR dan Research Group of Environmental and Fisheries Resources Management menunjukkan kontribusi UNAIR dalam pengembangan ilmu nutrisi akuakultur dan eksplorasi sumber daya biologis untuk mendukung produksi perikanan yang lebih berkelanjutan.
Hasil penelitian pada akhirnya menunjukkan bahwa daun yang selama ini dianggap sebagai biomassa biasa dapat memiliki nilai berbeda ketika diproses dengan pendekatan yang tepat.
Protein kasar Ficus septica meningkat dari 18,7 menjadi 36,9 persen setelah diproses menjadi LPC. Kandungan seratnya hampir berkurang separuh, sementara profil asam amino dan karakter antioksidannya juga meningkat. Saat bahan tersebut dimasukkan sebanyak 20 persen ke dalam pakan nila, ikan menunjukkan kecernaan nutrien, pertumbuhan, dan efisiensi pakan terbaik di antara perlakuan yang diuji.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa masa depan pakan akuakultur tidak hanya bergantung pada penemuan bahan baku baru. Inovasi juga dapat lahir dari bagaimana sumber daya yang sudah tersedia di sekitar kita diolah sehingga mempunyai nilai nutrisi dan ekonomi yang lebih tinggi.
Bagi sektor akuakultur Indonesia yang terus berkembang, pendekatan semacam ini dapat menjadi salah satu jalur penelitian menuju pakan yang lebih beragam, efisien, dan berbasis sumber daya lokal.
Penulis: Dr. Veryl Hasan, S.Pi., M.P.
