Budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) terus berkembang di Indonesia sebagai sumber pangan dan mata pencaharian. Namun, di balik manfaat tersebut terdapat persoalan kesehatan yang perlu diperhatikan, yaitu keberadaan bakteri patogen yang juga dapat memiliki resistensi terhadap antibiotik.
Sebuah penelitian di Danau Tanjung Bunga, Kota Makassar, mengidentifikasi bakteri pada ikan nila dan lingkungan perairannya. Penelitian melibatkan 60 ekor ikan dan 14 sampel air dari tujuh lokasi keramba. Sebanyak 69 isolat bakteri diperoleh dan mewakili 13 kelompok bakteri.
Bacillus cereus, Plesiomonas shigelloides, dan Enterobacter spp. merupakan kelompok yang paling banyak ditemukan. Selain itu, ditemukan bakteri yang penting bagi kesehatan masyarakat, seperti Klebsiella pneumoniae dan Acinetobacter johnsonii. Distribusi bakteri antara ikan dan air tidak menunjukkan perbedaan bermakna, menunjukkan bahwa keduanya merupakan bagian dari ekosistem mikrobiologis yang saling berkaitan.
Ketika Antibiotik Tidak Lagi Efektif
Pengujian terhadap enam antibiotik, yaitu eritromisin, gentamisin, kloramfenikol, siprofloksasin, penisilin, dan tetrasiklin, menggunakan metode difusi cakram sesuai pedoman CLSI VET04 menunjukkan pola resistensi yang perlu mendapat perhatian.
Resistensi paling menonjol ditemukan terhadap eritromisin dan penisilin, terutama pada Enterobacter spp., Plesiomonas shigelloides, Serratia rubidaea, dan Klebsiella pneumoniae. Beberapa isolat menunjukkan multidrug resistance (MDR). Temuan paling mengkhawatirkan terdapat pada Aeromonas spp.; sebanyak 50% isolat memiliki MAR index 1,0, yang menunjukkan resistensi terhadap seluruh enam antibiotik yang diuji.
Kondisi ini menunjukkan bahwa lingkungan budidaya dapat menjadi tempat bertemunya bakteri, ikan, manusia, dan faktor lingkungan yang mendukung berkembangnya resistensi antimikroba.
Lingkungan Perairan Ikut Berperan
Kualitas air juga perlu diperhatikan. Pada beberapa titik, kadar oksigen terlarut (DO) berada di bawah 3 mg/L, yaitu 2,88 mg/L di luar keramba dan 2,24 mg/L di dalam keramba. Oksigen rendah dapat menyebabkan stres dan berpotensi memengaruhi respons imunitas ikan. Kadar nitrit di salah satu titik mencapai 0,56 mg/L, melebihi nilai acuan penelitian.
Karena itu, pengendalian penyakit tidak cukup hanya berfokus pada ikan. Kualitas air, kepadatan budidaya, pengelolaan limbah, biosekuriti, dan penggunaan antimikroba harus menjadi bagian dari strategi pengendalian.
Mengapa Ini Penting bagi Kesehatan Manusia?
Resistensi antimikroba bukan hanya persoalan perikanan atau kedokteran hewan. Bakteri resisten dapat berpindah melalui kontak dengan ikan, konsumsi produk perikanan terkontaminasi, maupun lingkungan perairan. Karena itu, persoalan ini perlu dipandang melalui pendekatan One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Klebsiella pneumoniae dapat menjadi patogen oportunistik pada manusia, sementara Aeromonas memiliki arti penting karena dapat menyebabkan penyakit pada ikan dan infeksi pada manusia.
Saatnya Menggunakan Antibiotik Secara Bijak
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat memberikan tekanan seleksi sehingga bakteri resisten berkembang dan menyebar. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengancam keberlanjutan budidaya dan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat.
Strategi pengendalian perlu diarahkan pada pencegahan penyakit, perbaikan kualitas lingkungan, penerapan biosekuriti, pemantauan resistensi, serta penggunaan antibiotik berdasarkan indikasi dan prinsip kehati-hatian.
Dari Danau Tanjung Bunga untuk Pembelajaran Nasional
Penelitian ini menunjukkan bahwa resistensi antimikroba dapat muncul pada lingkungan yang dekat dengan aktivitas manusia dan produksi pangan. Pemantauan longitudinal dan penelitian molekuler diperlukan untuk mengidentifikasi gen resistensi serta memahami penyebarannya.
Menjaga ikan tetap sehat berarti menjaga lingkungan perairan tetap sehat. Menjaga efektivitas antibiotik berarti melindungi kesehatan hewan sekaligus manusia.
Resistensi antimikroba adalah masalah bersama. Karena itu, solusinya juga membutuhkan kerja bersama melalui pendekatan One Health.
Penulis: Hartanto Mulyo Raharjo
Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/42299091/
