Tingkatkan Efisiensi Peternak Bebek, FKH UNAIR Edukasi Formula Pakan Lokal di Desa Pesen

238 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Sebagai langkah krusial dalam menyambut program bantuan ternak bebek bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM), Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) memberikan pembekalan mengenai pembuatan ransum pakan bebek berbasis bahan pakan lokal di Desa Pesen, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (17/10/2026).

Dosen FKH UNAIR Dr Zulfi Nur Amrina Rosyada SPt MSi menjelaskan bahwa pakan menyedot hingga tujuh puluh persen dari total biaya operasional budidaya bebek. Sementara itu, 30 persen sisanya dialokasikan untuk kebutuhan bibit, obat-obatan, pakan tambahan, dan biosekuriti kandang.

Ketergantungan pada pakan pabrikan kerap menggerus margin keuntungan para peternak. Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya harga bahan baku komersial di pasaran, terutama konsentrat dan bungkil kedelai.

“Jika harga pakan pabrikan terus naik sementara harga jual telur cenderung stabil, keuntungan para peternak akan semakin berkurang. Pemanfaatan pakan lokal menjadi solusi utama untuk menekan biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas nutrisi ternak,” terangnya.

Lebih lanjut, Dr Zulfi memaparkan bahwa Kabupaten Bojonegoro memiliki potensi bahan pakan lokal yang melimpah, seperti dedak padi, jagung giling, ampas tahu, keong sawah, hingga eceng gondok. Khusus keong sawah, pengolahannya wajib dikukus atau direbus terlebih dahulu guna mengeliminasi risiko infeksi parasit sebelum diberikan kepada bebek.

“Selain itu, daun pepaya berguna memperpekat warna kuning telur, sementara tepung batu kapur menjaga kerabang telur tetap kuat. Pakan buatan sendiri ini menghemat biaya hingga tujuh puluh ribu rupiah per sak dibanding pakan pabrikan,” paparnya.

Dr Zulfi juga mengingatkan pentingnya ketersediaan air bersih secara kontinu karena kekurangan air minum dapat menurunkan produktivitas telur secara drastis. Di samping itu, formulasi gizi wajib disesuaikan dengan fase pertumbuhan bebek, mulai dari fase starter untuk anak bebek, grower untuk masa pertumbuhan, hingga fase layer saat bertelur dengan kadar protein di atas tujuh belas persen.

“Satu jenis bahan pakan saja tidak cukup memenuhi kebutuhan gizi bebek. Kita harus memadukan sumber energi, protein, mineral, dan vitamin sesuai proporsi usianya agar bebek tetap sehat dan produktivitas telurnya tinggi,” jelasnya.

Salah seorang peserta menyampaikan pertanyaan kepada Dosen FKH UNAIR Dr Zulfi Nur Amrina Rosyada SPt MSi mengenai formulasi pakan bebek berbasis bahan lokal pada kegiatan pengmas di Desa Pesen, Kanor, Bojonegoro, Sabtu (17/10/2026) (Foto: Humas UNAIR)

Dalam penyajiannya, pakan dapat diberikan dalam bentuk tepung kering, basah, maupun pelet. Jika menggunakan pakan basah, penyajian harus langsung dihabiskan untuk sekali makan agar tidak cepat basi dan asam yang berpotensi menurunkan nafsu makan bebek.

“Pengolahan pelet dipandang paling praktis karena memiliki daya simpan lama. Dengan memproduksi pakan pelet mandiri berbasis bahan lokal, peternak dapat menghemat biaya pakan dalam jumlah besar sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomis bagi desa,” tutupnya.

Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D

Editor: Yulia Rohmawati

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top