UNAIR NEWS – Melanjutkan rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Pesen, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (17/10/2026), Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) memberikan pelatihan pengolahan telur bebek menjadi telur asin. Pembekalan teknologi pascapanen ini menjadi tahapan krusial untuk mendongkrak nilai ekonomis hasil peternakan warga setempat.
Dosen FKH UNAIR Prof Dr Rochmah Kurnijasanti drh MSi menuturkan bahwa hasil panen telur bebek yang melimpah perlu diimbangi dengan keterampilan diversifikasi produk olahan. Langkah strategis tersebut dilakukan agar harga jual produk dapat meningkat signifikan jika dibandingkan hanya menjual telur mentah di pasaran.
Teknik Pengolahan Praktis
Guna mempermudah para peternak, pakar yang akrab disapa Santi itu memaparkan dua metode pembuatan telur asin. Mulai dari teknik tradisional menggunakan baluran adonan abu gosok atau bubuk batu bata merah, hingga metode perendaman larutan air garam yang jauh lebih praktis.
“Pembuatan telur asin sebetulnya sangat sederhana dan mudah diterapkan oleh siapa saja. Jika ingin lebih praktis tanpa repot membalur adonan abu, warga bisa merendam telur dalam larutan air dan garam gosok di dalam wadah ember tertutup,” terangnya.
Sebelum proses pemeraman, Prof Santi menekankan pentingnya mencuci bersih cangkang telur bebek sembari digosok perlahan menggunakan sabut kawat atau amplas halus. Langkah ini tidak hanya efektif mengeliminasi kotoran serta bakteri, tetapi juga berfungsi membuka pori-pori cangkang agar penetrasi garam berjalan maksimal.
“Tingkat keasinan telur sangat ditentukan oleh durasi proses pemeraman, yaitu tujuh hari untuk rasa sedang dan empat belas hari untuk asin mantap. Wadah penyimpanan pun wajib diletakkan di tempat gelap terhindar dari sinar matahari langsung,” imbuhnya.

Inovasi Rasa dan Bisnis
Prof Santi memaparkan bahwa telur bebek menjadi pilihan utama olahan telur asin karena memiliki kulit cangkang yang kokoh dan tekstur kuning telur yang kaya minyak. Karakteristik alami tersebut menghasilkan tekstur masir dan lembut yang sulit didapatkan jika menggunakan jenis telur biasa.
“Produk telur asin saat ini tidak hanya terbatas pada rasa original saja. Ibu-ibu peternak dapat mengembangkannya menjadi beragam variasi inovatif, seperti telur asin panggang, telur asin bakar, hingga kreasi rasa rempah unik seperti varian soto, rawon, maupun kare,” jelasnya.
Melalui diversifikasi rasa dan sentuhan pengemasan yang modern, olahan telur asin buatan warga Desa Pesen diharapkan mampu menembus pasar yang lebih luas. “Dengan kreativitas pengolahan serta pengemasan yang menarik, nilai jual telur akan melonjak tinggi sehingga mampu memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga peternak,” tutupnya.
Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D
Editor: Yulia Rohmawati
