Dr Sukma Rahastri Kanthi SPsi MPsi Psikolog menyampaikan materi dari ranah psikologis. (Foto: Istimewa).

Gelar Screening dan Diskusi, Pratibimba Ajak Mahasiswa Jujur, Jeda, dan Jaga Diri di Ruang Digital

34 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS – Tim Dolar 18 Ribu Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar screening dan diskusi karya Pratibimba pada Jumat (16/10/2026). Kegiatan itu berlangsung di Aula Bima Suci, Airlangga Convention Center (ACC). Pelaksanaannya menjadi salah satu perjalanan sekaligus pembuktian tim menuju final Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026.

Tim penggagas beranggotakan Haqi Nuha Ahnafy (FKH), Muhammad Fatih Rabbani (FKH), Emanuel Yudhistira (FPK), dan Marsha Nurrahmadina Muntahir (FISIP). Kegiatan ini menghadirkan Dr Sukma Rahastri Kanthi SPsi MPsi Psikolog sebagai narasumber. Ia membaca Pratibimba melalui tiga kacamata, yakni digital mirroring, proyeksi insekuritas penampilan, dan desensitisasi komentar.

Sukma menjelaskan bahwa dunia digital memiliki daya tarik tersendiri. “Di dunia digital, kita diberi kekuasaan untuk mengekspresikan sesuai yang kita idealkan. Itu membuat media sosial sangat menyenangkan,” ujarnya.

Persoalan muncul ketika jarak antara diri nyata dan diri ideal terlalu lebar. Hal ini menjadikan hubungan diri dengan perilaku menjadi tidak sehat. Akibatnya, seseorang selalu merasa kurang.

“Boleh kita mempresentasikan diri, tapi ingat jangan sampai jauh dari real self kita. Pahami kekurangan dan kelebihannya, lalu kemas dengan cara yang baik,” tegasnya.

Ia menyampaikan bahwa secara naluriah manusia senang mendapatkan umpan balik. “Orang merasa yang ditampilkan di media sosial adalah real self-nya, sehingga komentar negatif sering dianggap sebagai kenyataan,” tambahnya.

Sukma menjelaskan alasan menyakiti orang lain terasa lebih mudah. Hal itu terjadi karena anonimitas membuat orang merasa bebas memberi respons apa saja. Jarak juga membuat seseorang kesulitan mengetahui reaksi orang lain terhadap komentarnya.

“Dalam komunikasi, 80 persen penilaian datang dari nonverbal. Di media sosial, kita tidak bisa melihat respons pembuat konten, jadi kita menulis apa saja,” ujarnya.

Ia lalu membedakan kritik dan ujaran kebencian. Kritik menuju pada perilaku atau gagasan yang memiliki landasan. Ujaran kebencian menyerang fisik dan karakter yang tidak bisa berubah.

“Apabila tujuannya adalah untuk meluapkan emosi dan merendahkan orang lain, sudah seharusnya dihentikan,” tegasnya.

Sebagai panduan, ia mengangkat prinsip yang juga Pratibimba bawa. “Jujur, kita tanyakan apa tujuan kita berkomentar. Jeda, kita pikirkan dampaknya. Jaga, kita jaga harga diri orang lain, karena di ruang nyata pun kita ingin dihargai,” paparnya.

Untuk menjaga diri sendiri, Sukma berpesan untuk berhenti menghakimi diri ketika mendapat kritikan dari luar. “Gunakan batas digital yang tegas, lakukan detoks, dan saring informasi yang kita ambil,” tambahnya.

Penulis: Qurrota A’yuni Latifa
Editor: Khefti Al Mawalia

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top