UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar webinar internasional. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu (18/10/2026) secara hibrida melalui Zoom Meeting dan luring di Aula Soemarto FKM Kampus Merr-C. Mengusung transformasi digital dalam menjawab tantangan kesehatan, webinar itu menghadirkan Dr Attia Aman Ullah Alvi sebagai narasumber pertama secara daring.
Dr Attia, dari Asia Pacific University of Technology and Inovation, menegaskan bahwa dunia kesehatan sudah masuk ke era digital. Ia menekankan tantangan utama bukan sekadar digitalisasi layanan, melainkan memperbaiki hasil kesehatan, akses, dan ketahanan sistem.
Nilai Tambah dari Reaktif ke Proaktif
Dr Attia menjelaskan teknologi menggeser pola layanan. Alat digital mampu membantu tenaga kesehatan mendeteksi masalah lebih dini, mencegah penyakit, dan menyampaikan informasi risiko tepat waktu.
“Pasien mendaftar di satu meja, lalu rekam medisnya mengalir ke seluruh departemen tanpa pengambilan data berulang. Dengan perkembangan seperti ini rumah sakit lebih mudah dalam berbagi data,” ujarnya.
Ia merangkum nilai tambah digitalisasi ke dalam enam aspek utama pendukung kualitas layanan.Aspek tersebut meliputi surveilans, pencegahan, akses, dukungan kepuasan, kesinambungan layanan, dan pembelajaran.
“Transformasi digital baru efektif ketika menciptakan nilai, yaitu ketika pasien puas dan beban kerja tenaga kesehatan menurun,” tegasnya.
Paradoks Tenaga Kesehatan dan Tiga Kelompok Risiko
Dr Attia menyampaikan bahwa banyak organisasi tergoda mengadopsi teknologi tanpa berpikir panjang. Tanpa mempertimbangkan konsekuensi, hal ini mampu mengakibatkan munculnya tiga kelompok baru.
“Risiko manusia mencakup technostress, risiko sistem dengan kualitas data buruk serta keamanan siber, hingga risiko kesetaraan muncul dari hambatan bahasa dan bias algoritma,” paparnya.
Selanjutnya, ia menguraikan paradoks tenaga kerja. “Begitu otomatisasi membuat tugas cepat selesai, atasan melihat pegawai senggang dan langsung memberinya pekerjaan baru. Hal ini membuat ekspektasi naik, kecemasan meningkat, hingga kinerja akhirnya menurun,” ungkapnya.
Kerangka Pusat pada Manusia sebagai Pilar Menjawab Risiko
Untuk menjawab risiko sebelumnya, Dr Attia menawarkan kerangka berpusat pada manusia. Kerangka ini bertumpu pada empat pilar penopang ekosistem, meliputi manusia, teknologi, tata kelola, dan kesetaraan.
“Pilar manusia menuntut staf terampil, percaya pada sistem, dan sejahtera. Pilar teknologi harus sesuai dengan kesiapan organisasi, sedangkan pilar kesetaraan memastikan keterjangkauan. Adapun tata kelola menekankan etika penggunaan data,” terangnya.
Ia lalu merinci enam langkah implementasi. Langkah ini meliputi menentukan masalah, merancang bersama pengguna, menilai kesiapan, uji coba, perluasan dengan tata kelola, dan pengukuran hasil.
“Seperti kasus, apabila rumah sakit mewajibkan warga desa yang sinyalnya buruk untuk mengatur janji secara daring, sistem kita yang gagal,” ujarnya.
Sebelum mengadopsi solusi digital, ia menyampaikan bahwa tenaga kesehatan harus paham masalahnya. “Transformasi digital bukan utama pada proyek teknologi. Ini proyek manusia, sistem, dan nilai publik,” tutupnya.
Penulis: Qurrota A’yuni Latifa
Editor: Khefti Al Mawalia
